Tips

Wednesday, March 27, 2013

Ada Apa di Pulau Penguin?

"Loohh, kok ke Perth?? Emang ada apa di sana? Bukannya Sydney sama Melbourne lebih keren??" Gitu tuh komentar kebanyakan temen saat tahu saya akan mengunjungi Australia. Tapi saya mah cuek beibeh! Malah saya mendapuk Perth menjadi kota pertama yang saya kunjungi dalam perjalanan saya ke Australia. Alasan sebenarnya sih simpel, harga tiket dari Bali ke Perth sangat terjangkau dan waktu tempuh penerbangannya hanya 4 jam. Udah tua begini, ga betah deh lama-lama duduk di dalam pesawat apalagi kelas ekonomi. Encok pegel linu, ga nyaman!

Saat sampai di Perth, di hari yang sama saya langsung diculik oleh dua orang teman baik bernama Dessy dan Chassty untuk mengunjungi Pulau Penguin di Rockingham. Dari namanya, ga salah dong ya kalau saya berharap melihat penguin berkeliaran di alam bebas. Tapi sesampainya di sana, kok banyakan manusia daripada penguin ya? Ternyata hanya ada 10 penguin yang masuk dalam kategori spesies PALING KECIL SEDUNIA yang sangat lincah mendiami pulau cantik ini! Karena keunikan spesies dan jumlahnya yang tidak banyak, maka penguin-penguin ini sangat dijaga habitatnya di dalam sebuah area khusus, bukan di alam bebas.


Untungnya, jam kedatangan saya bersamaan dengan feeding time para penguin unik ini. Jadilah selama kurang lebih setengah jam saya asyik melihat para penguin dengan gesit menangkap ikan yang dilemparkan oleh staff dengan moncongnya yang imut-imut itu. Sementara memperhatikan para penguin makan, saya asyik mendengarkan banyak informasi seputar little penguin, begitu sapaan karib mereka. Dengan tinggi tubuh sekitar 30 cm, mereka keliatan seperti boneka penguin mungil yang dipajang di etalase toko. Namun gerak-gerik mereka sangat menggemaskan! Lincah, gesit, suka berenang dan suka makan! Bayangkan, mereka bisa mengkonsumsi 100 ikan kecil dalam sehari!

Setelah puas melihat penguin, saya berjalan menyusuri pantai dan mencoba mengeksplorasi beberapa area dimana saya bisa dengan leluasa melihat kumpulan burung camar yang gemar terbang di atas pulau. Ga jarang juga, burung-burung camar ini terbang menukik dengan kecepatan tinggi di atas kepala atau samping badan saya. Woooozzz!! Wooozzz!! Selain burung camar, saya juga bisa melihat dengan jelas burung pelikan yang bersarang secara koloni di beberapa sudut pulau. Terkadang 4 hingga 6 burung pelikan terbang bersama di udara membentuk formasi sederhana lalu mendarat di laut dan berenang dengan anggunnya.

Pemandangan lain yang menarik di Pulau Penguin yaa tentu saja mas-mas ganteng dengan perut six pack dan kulit sedikit kecoklatan yang tampak menawan! Memang terlihat banyak sekali turis lokal yang menyambangi Pulau Penguin apalagi saat itu sedang musim panas. Berendam di laut sambil ngobrol, berjemur di pantai, piknik keluarga, berenang dan snorkeling adalah aktifitas yang biasa dilakukan di sana.

Tapi ada satu aktifitas yang ga pernah saya liat sebelumnya dan saya rasa cukup menarik, yaitu Stand Up Paddle. Olahraga ini mengharuskan satu orang berdiri menjaga keseimbangan di atas sebuah papan surfing dan mengayuhnya dengan dayung untuk sampai di tempat yang mereka ingin tuju. Terlihat sebagai olahraga keren yang layak untuk dicoba. Nah, tambahan lagi yang bisa jadi tontonan menarik di Pulau Penguin adalah menonton orang-orang yang mengambil kursus singkat Stand Up Paddle. Dijamin menghibur deh saat melihat ekspresi lucu para pemula belajar untuk mencoba berdiri menjaga keseimbangan kecebur berkali-kali gara-gara kehilangan keseimbangan. Haha!

Sementara saya duduk berjejal dengan banyak penumpang lain di kapal untuk kembali ke dermaga, eehh banyak juga turis lokal yang memutuskan berjalan membelah lautan yang cukup dangkal untuk kembali ke dermaga. Jarak antara Pulau Penguin dan dermaga yang terlihat tidak terlalu jauh membuat kebanyakan turis lokal yang berbadan cukup tinggi melakukan hal ini. Ga ngerti deh mereka ini turis kere atau pelit. Tapi satu yang pasti, ini contoh nyata salah satu cara praktis untuk menghemat uang di Australia!


Berbeda dengan Pulau Phillip yang berada tidak jauh dari Melbourne, di Pulau Penguin pengunjung boleh mengambil foto penguin dengan bebas. Jadi cocok banget buat yang suka pamer foto narsis untuk menyambangi pulau ini! Masih banyak loh yang bisa dilakukan di Pulau Penguin. Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini.

Lanjut yuukk...

Sunday, February 17, 2013

The Trip Must Go On

Sehari sebelum keberangkatan saya ke Australia, saya sibuk gubrak-gabruk mencetak semua tiket dan melakukan advance web check-in untuk semua penerbangan yang akan saya lakukan dalam perjalanan tersebut. Rencana itinerary dan semua informasi penting seperti pilihan akomodasi, objek wisata yang ingin dikunjungi, jadwal bus sampai daftar resto yang sudah saya siapkan selama sebulan terakhir ikut saya cetak sebagai bahan panduan selama perjalanan.

Semalam sebelum keberangkatan, saya bela-belain mengambil waktu khusus untuk bertemu dengan teman yang akan traveling bareng melakukan "gladi resik" untuk persiapan perjalanan kami supaya tidak ada barang atau dokumen yang kelupaan. Saat saya sampai di cafe tempat janjian ketemuan, saya sumringah memberikan tumpukan hasil cetak tiket dan dokumen lainnya ke teman saya. "Nih, udah lengkap semua. Tiketnya tinggal dibawa dan malem ini tinggal lu baca-baca lagi itinerary-nya", ujar saya. Teman saya membalas, "Makasih ya. But... I have a bad news"
DEGG, jantung saya langsung hampir berhenti berdetak dan perasaan saya langsung ga enak. Dengan asal saya langsung nyamber menjawab, "Kenapa? Lu ga bisa berangkat besok?" Teman saya bergumam, "Iya, because I have..."

Kata-kata selanjutnya yang keluar dari mulut teman saya beserta dengan penjelasan detail udah mulai ga saya simak dengan seksama lagi karena saya mendadak nervous. Saya nervous bukan karena takut traveling sendirian. Tapi mental saya selama ini udah disiapkan untuk traveling bareng dan tau-taunya last minute... BAAAMM! Traveling sendiri lagii???

ARGGHH, saya ga suka dengan perubahan plan yang mendadak seperti ini. Tapi ga ada yang bisa saya lakukan kecuali berusaha tenang. Ikut ngebatalin perjalanan tentunya bukan pilihan buat saya. Jadwal cuti yang sudah di approved, investasi berupa tiket pesawat yang sudah dibeli ga mau saya sia-siakan begitu saja hanya gara-gara kurang nyaman traveling sendirian. Lagipula Australia gitu loh! Negara modern yang aman dan semua orang berbahasa Inggris. Cincai lahhh, paling-paling juga nyasar dikit-dikit.

Akhirnya dengan sisa waktu yang ada sebelum keberangkatan, disela-sela waktu berkemas dan menunggu pesawat, saya pergunakan sebaik-baiknya untuk melakukan riset yang jauh lebih mumpuni mengenai Australia terutama kota-kota yang saya pengen kunjungin. Dan yang paling utama banyak berdoa dan mempersiapkan mental!

Hasilnya, 2 minggu selama saya melakukan perjalanan di Australia, perjalanan saya mulus tanpa ada hambatan. Semua keceriaan traveling seperti ketemu temen baru, ngedatengin tempat-tempat keren dan nyobain beberapa aktifitas seru jadi highlight perjalanan saya.

Haishh, traveling itu tantangannya banyak banget yah! Ga hanya saat traveling, bahkan sebelum traveling berlangsung juga udah ada aja masalahnya. Intinya sih untuk ngadepin situasi sulit, tetep berfikir positif dan selalu siapin diri dan mental dengan segala kemungkinan yang bakal terjadi. Alangkah lebih baiknya lagi, traveling sendiri atau berbarengan, tetap sediakan waktu untuk riset untuk bekal informasi. Apapun halangannya kawan, the trip must go on... :)

Lanjut yuukk...