Tips

Monday, November 12, 2012

Sebelum jalan-jalan, riset yuk!

Saya suka mesem-mesem kalo baca timeline Trinity di twitter waktu jawabin beberapa pertanyaan dari followersnya dengan nada ketus seperti “Google aja!” atau “Google Airways!” Kalo dipikir-pikir, gimana penulis seterkenal Trinity ga kesel ditanyain hal-hal dasar soal jalan-jalan seperti “Kalau ke Singapura nginep dimana kak?” atau “Maskapai penerbangan ke Bangkok apa aja sih kak?” Udah pada tahu kan kalo jawaban pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya bisa mudah didapet dari hasil riset di internet atau baca buku panduan?

Hidup di era teknologi canggih seperti sekarang ini, pastinya akses internet untuk banyak search engine itu mudah banget. Google, Yahoo dan Bing adalah beberapa search engine yang paling sering diakses untuk tujuan riset. Semua bisa mudah diakses lewat PC, Laptop, iPad, Note, Smartphone dan benda-benda berteknologi canggih lainnya.

Selain search engine, masih ada beberapa website penting lainnya yang bisa membantu kita mendapatkan informasi tambahan untuk melakukan persiapan perjalanan seperti:
1.Travel Search Engine: Wego, Kayak, Expedia
2.Penginapan: Agoda, Hostel World, Hostel Bookers
3.Objek wisata dan tips: Lonely Planet, Wikitravel, TripAdvisorTravelFish
4.Penukarang Mata Uang: EX
5.Maskapai penerbangan: Air Asia, JetStar, Tiger Airways, Cebu Pacific,Garuda Indonesia, Citilink, Lion Air, Sriwijaya Air, Batavia Air, Mandala Air

Saya yakin masih banyak sekali website penting yang berhubungan dengan traveling berseliweran di internet yang bisa digunakan. Website-website di atas bisa digunakan sebagai referensi supaya makin banyak bahan bacaan untuk masukan dan tambahan informasi.

Terus kenapa masih males riset dengan semua kemudahan akses informasi yang ada? Kayaknya sih sebenarnya bukan males riset ya. Cuman bingung karena kurang tau kata kunci yang harus dipakai saat melakukan riset. Nahhh, buat bantu temen-temen yang belum terbiasa riset, berikut ini beberapa contoh kata kunci dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang bisa dipakai untuk membantu saat melakukan riset di search engine.

Kata kunci mencari penginapan:
Penginapan murah di Bali/Cheap accommodation in Singapore/Hostel-homestay in Australia/Accommodation below $10.

Kata kunci mencari tempat wisata:
Objek wisata terkenal di Lampung/Things to do and see in Cambodia/Famous places in Indonesia/Festival in Japan

Kata kunci akses transportasi:
Maskapai penerbangan ke Singapura/Cara ke Karimun Jawa/Cara ke Jogjakarta dari Bandung/How to get to Laos from Bangkok.

Kata kunci tentang situasi di sebuah kota atau negara:
What to know about Vietnam/How safe is India?/Do's and Don'ts in Lombok.

Kata kunci kuliner:
Makanan khas Solo/Oleh-oleh khas Medan/What to eat in Bangkok/Traditional food in Laos/Famous restaurant in Hong Kong/Unique restaurants in the world.

Percaya deh, hanya dengan riset kita bakal banyak dibekalin dengan informasi penting untuk persiapan jalan-jalan mulai dari transportasi, akomodasi, makanan bahkan sampai tahu segala issue keamanan negara tersebut! Kadang-kadang, informasi Do’s and Don’ts sebuat tempat juga ada supaya kita bisa bertingkah laku sesuai dengan budaya setempat.

Riset itu ga melulu hanya melalui internet. Riset perjalanan juga bisa didapat dari buku panduan jalan-jalan yang banyak dijual di toko buku. Selain itu, beberapa akun twitter juga menyediakan dan sering berbagi informasi mengenai tempat-tempat seru untuk liburan atau informasi penting lainnya seperti pembuatan paspor, visa dan lainnya.

Pengen tau ga pendapat beberapa teman saya di twitter mengenai pentingnya riset? Yuk, kita simak.

@meleoreo: Riset penting untuk estimasi budget yang akan kita keluarkan.
@quoide9: Riset penting biar ada bayangan di tempat baru seperti apa supaya ga kaget.
@AanIsmiyana: Riset penting buat referensi cost dan lain-lain.
@smasyitah: Riset penting biar ga nyasar, biar tau di sana ada apa dan mau ngapain, terus biar planning budgetnya jelas.
@mrHepi dan @ernayulip: Riset penting biar tahu apa yang perlu dipersiapkan untuk “perang”. Riset itu layaknya orang ke medan perang, bisa bantu isi kepala untuk mempersiapkan medan. Sampai tempat tujuan ga terlalu canggung.
@festysoebagyo dan @jackamizh: Riset dilakukan untuk bikin itinerary, biar tahu ancer-ancer tempat, budget dan waktu.
@TaniaSavana: Riset penting untuk cari tempat menarik, membantu estimasi dana, alokasi waktu dan oleh-oleh.
@kokohrocha: Riset penting buat second opinion terutama forum kayak TripAdvisor & Thorn Tree. Biar ga percaya promo mentah-mentah.
@azazafighting: Riset penting buat bertahan kalo ada apa-apa dan ga kaget di tengah jalan. Spontan emang lebih seru, namun punya persiapan bikin lebih mantap!
@ranselindo: Jadi tau cuaca, perlengkapan dan baju yang harus dibawa. Bahkan sampai tau aman atau tidak suatu tempat.

Nah gimana, kamu setuju ga dengan pendapat temen-temen di atas? Ternyata manfaat riset sebelum melakukan perjalanan banyak juga kan?

Kalo buat saya pribadi, riset sebelum jalan-jalan adalah hal yang paling saya nikmati. Pas liat pilihan objek wisata yang bakal dikunjungi apalagi foto-foto destinasi yang keren, perut saya bisa melintir saking senengnya! Rasanya kayak saya sudah ada di destinasi baru itu! Hati-hati loh, riset tentang destinasi perjalanan itu ternyata bikin ketagihan! Bahkan kadang-kadang hanya riset di internet atau membaca buku perjalanan, rasanya kita sudah jalan-jalan dan menikmati perjalanan di kota maupun negara yang pengen dikunjungin!

Lanjut yuukk...

Thursday, November 1, 2012

[Rinjani] Kaki Merana, Mata Bahagia

Setelah melakukan persiapan menuju Rinjani di postingan blog sebelumnya, akhirnya saya siap hati dan mental untuk berjibaku melakukan pendakian ke sana.

Hari pertama, tepat jam 5:00 pagi saya bersama Bintang dan Mas Amet bertolak dari Senggigi menggunakan mobil menuju Senaru. Perjalanan ini memakan waktu 2 jam, sehingga saya pakai sebaik-baiknya untuk meyambung tidur. Setelah sampai di Senaru ternyata tujuan kesana hanya untuk menjemput porter. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Sembalun yang merupakan salah satu titik keberangkatan pendakian Rinjani. Selama pendakian, medan yang saya lalui sangat beragam dan menantang tiada tara! Sabana mengawali pendakian, lalu sedikit area hutan basah, dilanjutkan dengan rerumputan lalu perbukitan pasir yang berdebu dan diakhiri dengan area bukit berbatu dengan kondisi angin yang sangat kencang. Total pendakian yang saya lakukan di hari pertama hingga mencapai Pelawangan di ketinggian 2600 mdpl adalah 9 jam! Jangan ditanya gimana susahnya pendakian kesana! Yang pasti membuat engsel-engsel lutut gemetar dan godaan menyerah di tengah pendakian selalu datang dan pergi.

Dari Pelawangan, saya sudah bisa melihat puncak Rinjani yang memiliki ketinggian 3726 mdpl dan Danau Segara anak yang berada di bawah Pelawangan di ketinggian 2000 mdpl. Pemandangan yang tampil di sana terlalu keren! Sayangnya, angin di Pelawangan yang kencang ga mengijinkan saya dan para pendaki lain untuk berlama-lama berada di luar tenda menikmati pemandangan indah tersebut. Jadi sejak matahari terbenam, kami semua melakukan aktifitas di dalam tenda, menikmati makan malam dan langsung tidur untuk mengistirahatkan badan dan kaki yang lelah karena pendakian yang berat seharian.

Hari kedua, setelah beristirahat secukupnya, jam 2:30 pagi Bintang dan Mas Amet melakukan pendakian ke puncak ke Rinjani. Saya memutuskan untuk melanjutkan tidur di tenda dan ga melakukan pendakian ke puncak Rinjani karena keadaan fisik yang ga memungkinkan. Saat pagi menjelang, saya bergabung dengan para pendaki berlabel tidak ambisius karena ga melakukan pendakian ke puncak. Jadi kami leyeh-leyeh di sekitar tenda buat ngobrol dan minum teh sambil menikmati matahari yang perlahan terbit dari ufuk timur. Saat kabut tebal mulai menghilang beriringan dengan semakin tingginya matahari, keindahan Danau Segara Anak sudah mulai mencuri perhatian saya.

Beberapa pendaki yang melakukan perjalanan ke puncak tampak sudah banyak yang turun. Saya pikir mereka sudah mencapai puncak, jadi saya dengan semangat menanyakan kondisi dan pemandangan di puncak Rinjani. Namun ternyata banyak pendaki y ang mengalami kesulitan melakukan pendakian ke puncak karena angin sangat kencang, sehingga kebanyakan pendaki memutuskan untuk kembali turun dan ga melanjutkan perjalanan. Track menuju puncak Rinjani yang sempit dan ga ada pegangan ditambah dengan angin kencang memang jadi momok besar buat para pendaki. Saya “angkat topi” untuk para pendaki tangguh yang dapat mencapai puncak Rinjani. Dan tentunya bangga banget sama Bintang, walaupun harus menempuh total 7 jam perjalanan, Bintang berhasil mencapai puncak Rinjani! YAYYY!

Setelah sarapan, saya bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Danau Segara Anak di ketinggian 2000 mdpl. Orang bilang turun gunung. Senang rasanya perjalanan hari ini saya akan turun gunung. Tapi siapa yang sangka, di Rinjani, pendakian ke atas gunung maupun turun gunung sama susahnya! Trekking 4 jam berikutnya, saya harus melalui medan batu-batu terjal dan curam yang cukup sulit untuk dilalui dalam posisi menurun. Untungnya sepanjang perjalanan saya ditemani dengan kabut yang sangat tebal. Walaupun terasa sangat mistis, tapi kabut tebal menolong saya untuk menutupi bukit-bukit curam yang ada di sisi kanan sehingga tidak terlihat. Kalau terlihat, ketegangan perjalanan akan memuncak karena kuatir takut jatuh!

Satu jam terakhir, batu-batu terjal mulai tergantikan dengan keberadaan bukit-bukit hijau dan sabana berwarna keemasan. Danau Segara Anak juga sudah terlihat dari kejauhan. HOREE, perjalanan saya sudah mau sampai. Sesampainya di Danau Segara Anak, pemandangan yang lebih indah mengejutkan saya! Anak Gunung Rinjani yang berada di tengah danau sungguh mentereng dan memukau.

Tapi Danau Segara Anak ternyata ga hanya punya danau kawah yang indah dan Anak Gunung Rinjani yang megah loh! Ternyata Danau Segara Anak juga punya sumber mata air panas!! Batu-batu besar secara natural membentuk kolam-kolam kecil yang dialiri oleh sumber mata air panas yang digunakan sebagai tempat mandi atau berendam penduduk lokal dan para pendaki. Bahkan, sumber mata air panas ini airnya mengalir deras dan membentuk air terjun alami. Bayangin deh, air terjun dari sumber mata air panas?? Fenomenal banget! Ga pakai basa-basi, saya langsung menceburkan diri dan berenang-renang di kolam air panas untuk mengusir lelah. Rasanyaaaaaa nikmaatttt!!

Ga seperti di Pelawangan, untungnya suasana malam di Danau Segara Anak jauh lebih bersahabat. Ga ada angin yang bertiup kencang dan hawa dingin ga begitu menusuk di tulang. Saya dan Bintang jadi punya kesempatan untuk ngobrol asik dengan para pendaki lain. SERUU!

Hari ketiga, yang merupakan hari terakhir pendakian sengaja dimulai cukup awal karena kami ga pengen sampai di Senaru terlalu malam. Konon kabarnya, pendakian di hari terakhir ini cukup menyiksa karena banyak pendakian curam yang harus dihadapi. Setelah berpamitan dengan teman-teman pendaki yang lain, saya beranjak meninggalkan kawasan perkemahan Danau Segara Anak. Pendakian yang terakhir ini harus diakui benar-benar menguras mental dan fisik. Saking terjalnya pendakian, banyak tersedia pancang besi yang dipasang di beberapa area yang cukup curam untuk alasan keamanan dan memudahkan pendakian.

Yang membuat pendakian sulit selama kurang lebih 4 jam ini jadi sangat menarik adalah… pemandangan indah puncak Gunung Rinjani bersatu dengan Anak Gunung Rinjani yang tampak mengapung di tengah air Danau Segara Anak yang berwarna kehijauan!!! Capek dan rasa sakit di kaki yang saya rasakan dengan mudah teralihkan dengan semua keindahan ini! Mata saya selalu berbinar-binar melihat keindahan lain yang ditawarkan oleh Indonesia.

Setelah berhasil menaklukan puncak Pelawangan kedua, kegiatan turun gunung selama 6 jam yang tak kalah beratnya dimulai melalui bebatuan terjal, debu pasir yang sangat licin dan diakhiri dengan kawasan hutan basah yang subur. Rasanya seperti pahlawan pulang kampung saat berhasil sampai di Gerbang Senaru, Taman Nasional Gunung Rinjani!

Sebelum berpisah, Mas Amet sempat menyeletuk, "Mbak Rini, seninya mendaki Rinjani itu memang membuat kaki merana tapi mata bahagia!" Aaahh, sebuah ungkapan yang sangat tepat untuk menggambarkan rangkaian petualangan saya di Rinjani selama 3 hari.

Kaki Bintang dan saya memang kelelahan setelah pendakian. Setiap beranjak dari tempat tidur atau kursi kami harus mengerang kesakitan karena paha dan betis kami belum rela ditekuk. Gaya kami selalu terlihat seperti pinokio yang oleng kesana-kemari saat bangun tidur. Kami bahkan berjalan kayak robot atau malah kayak tentara yang berjalan dengan kaki tegak lurus selama berhari-hari!

Tapi ungkapan itu benar, “kaki merana, mata bahagia”. Bahkan hingga saat ini, setelah 2 bulan pendakian, pemandangan indah Rinjani masih melekat kuat di ingatan kepala dan sesekali menari-nari di mata saya!

Lanjut yuukk...