Tips

Wednesday, September 19, 2012

[Rinjani] Persiapan Pendakian

Lombok tampak sedang berbenah untuk memaksimalkan potensi objek-objek wisata yang ada. Gunung Rinjani yang cantik dan puluhan pulau-pulau indah di sekitar Lombok seperti Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air, Gili Nanggu, Pantai Jerowaru dan yang lainnya mulai berkibar di kancah pariwisata Indonesia. Apalagi dengan keberadaan Bandara Internasional Lombok (BIL) yang mulai beroperasi sejak November 2011, hal ini makin memudahkan wisatawan asing untuk mencicipi keindahan Lombok. Bahkan Air Asia sudah mulai membuka rute penerbangan langsung dari Kuala Lumpur menuju Lombok!

Saya dan Bintang akhirnya memilih Lombok sebagai destinasi tujuan jalan-jalan karena penasaran ingin mendaki Gunung Rinjani dan menyelam di Gili Trawangan. Setelah melakukan research mengenai Rinjani dan Gili Trawangan, kami mulai melakukan beberapa persiapan seperti membeli tiket pesawat, mencari penginapan dan melakukan reservasi untuk trekking trip ke Rinjani.

Pada hari yang ditentukan, saya terbang dari Bandara Soeta Jakarta menuju Bandara Internasional Lombok (BIL) yang berlokasi di Praya, Lombok Tengah. Segera setelah pesawat mendarat, saya langsung menuju loket tiket Damri dan membayar Rp. 25,000 untuk tiket bus menuju Senggigi. Perjalanan menuju Senggigi bisa mencapai 1-1.5 jam dengan kombinasi pemandangan persawahan, kota dan pesisir pantai. Alternatif transportasi lainnya dari BIL adalah taxi namun dengan biaya yang lebih mahal, yaitu Rp. 125,000 – Rp. 130,000.

Sesampai di Senggigi, saya menuju penginapan Sendok Guesthouse dan mendapat kamar Junior Standard sesuai dengan reservasi kamar yang sudah dilakukan melalui Agoda. Harga kamar tersebut adalah Rp. 250,000/malam, namun melalui Agoda saya mendapatkan potongan harga menjadi Rp. 217,000/malam. Alternatif tempat menginap di area Senggigi dengan harga terjangkau adalah The WiraIndah Homestay atau Ziva Queen Homestay Untuk informasi lengkap akomodasi lainnya di Senggigi, bisa cek di sini.

Sore harinya saya mendapat kunjungan dari Mas Amet, senior guide Lombok Tropic Holiday yang akan memandu saya dan Bintang melakukan pendakian menuju Rinjani selama 3 hari 2 malam. Saya mendapatkan penjelasan yang cukup detil dari Mas Amet mengenai pendakian Rinjani yang akan saya lakukan selama 3 hari ke depan, seperti medan pendakian yang akan dihadapi, ketinggian yang akan ditempuh setiap harinya dan perlengkapan pribadi yang harus dibawa.

Barang-barang pribadi berikut adalah barang yang wajib dibawa saat pendakian Rinjani:

  • Botol air
  • Masker untuk menghindari debu
  • Sarung tangan untuk menjaga tangan tetap hangat
  • Wind breaker untuk menepis angin yang sangat kencang
  • Jaket tebal/sweater berbahan fleece untuk mengusir dingin
  • Baju dan celana ganti selama perjalanan
  • Senter
  • Tongkat Hiking
  • Sepatu olahraga/hiking
  • 3-4 buah kaus kaki
  • Alat mandi lengkap dengan tisu toilet
  • Obat-obatan
  • Energy Bar/Biskuit/Permen
  • Kamera
  • Topi 
Sebaiknya barang tersebut di atas dimasukkan dalam carrier maksimal 20 liter sehingga ga terlalu berat untuk dibawa selama pendakian.

Mungkin kebanyakan teman-teman bertanya mengapa saya ga melakukan pendakian secara independen, tapi malah menggunakan jasa agen perjalanan untuk melakukan pendakian ini. Dalam hal ini saya mengakui keterbatasan perlengkapan naik gunung, logistik dan pengetahuan yang saya miliki, karena saya bukanlah pendaki gunung yang handal. Apalagi dengan umur yang sudah cukup menua ini, keterbatasan fisik saya juga ikut berperan penting! Jujur saya ga memiliki pengalaman mendaki gunung sebelumnya. Kalaupun ada, medan pendakian gunung yang pernah saya lakukan ga memakan waktu berhari-hari seperti Rinjani. Oleh karena alasan tersebut, saya merasa lebih nyaman untuk menggunakan jasa agen perjalanan walaupun harus mengeluarkan dana yang ga sedikit, yaitu Rp. 1,800,000 untuk perjalanan selama 3 hari 2 malam. Namun jika ingin mendapatkan harga yang lebih kompetitif, sebaiknya langsung menghubungi guide, seperti Mas Amet.

Alternatif lain untuk mendaki Rinjani dengan bujet terjangkau tentunya bisa dilakukan secara independen dengan bergabung bersama klub-klub pencinta alam yang ada di sekolah maupun universitas. Biasanya dalam klub pencinta alam diajarkan banyak hal yang berkaitan dengan olah fisik, peralatan pendakian, ransum makanan yang dibutuhkan dan masih banyak lagi.

Pesan saya buat kalian yang masih muda dan masih memiliki tenaga, sebaiknya rencanakan perjalanan ke Rinjani mulai dari sekarang, karena medan pendakian Rinjani tidak mudah dan membutuhkan kondisi fisik yang sangat fit.

Setelah menginjakkan kaki di Rinjani, saya berpendapat bahwa Rinjani adalah salah satu gunung di Indonesia yang wajib dikunjungi karena keindahannya dan banyak pilihan objek wisata lain yang dapat dilihat di kawasan tersebut. Pantengin postingan blog berikutnya, untuk tahu dengan jelas bagaimana medan pendakian dan pemandangan yang ditawarkan Rinjani…

Lanjut yuukk...

Tuesday, September 11, 2012

[Rinjani] Persahabatan di Gunung

Selama ini saya mengaku lebih suka pantai ketimbang gunung. Saya ga ngerti, mungkin karena saya lahir dan besar di Bontang, kota yang berada di pesisir pantai yang ga memiliki area pegunungan hingga membuat saya merasa lebih nyaman berada di daerah pantai. Ditambah lagi tujuan perjalanan saya selama ini memang lebih banyak di daerah pantai karena saya senang melakukan aktifitas olahraga air. Filipina dan Palau, dua negara dimana saya pernah menghabiskan waktu untuk bersekolah dan bekerja juga merupakan negara kepulauan yang tidak jauh dari keindahan pantai dan lautnya. Kalau naik gunung? Yaaa, empat lima kali saya naik gunung pernah juga. Tapi medan yang dilalui juga ga terlalu berat. Mentok-mentok saya hanya membutuhkan 8-10 jam pendakian untuk mencapai puncak.

Mengunjungi Rinjani adalah salah satu mimpi terbesar saya, walaupun saya tau untuk kesana adalah sebuah tantangan besar. Tentunya karena umur makin tua, jadi badan saya yang sudah merenta ini makin susah diajak kompromi dengan aktifitas pendakian yang berat berhari-hari! Saya sudah banyak mendengar bahwa pendakian Rinjani memiliki medan yang sangat beragam dan sulit, ditambah lagi suhu udara yang dingin dan oksigen yang tipis bikin saya sempat galau untuk mewujudkan mimpi saya yang satu ini. Beberapa minggu sebelum melakukan pendakian, benar-benar memaksa saya untuk meningkatkan jadwal pergi ke pusat kebugaran menjadi lebih sering. Aktifitas cardio seperti lari dan berenang pun menjadi sahabat karib saya sebelum menjelajah Rinjani.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pagi itu bersama saya dan Bintang, banyak sekali turis asing yang melakukan pendakian ke Rinjani. Adalah wajib hukumnya bagi turis asing untuk menggunakan jasa porter dan guide saat melakukan pendakian Rinjani. Sedangkan alasan saya memilih untuk menggunakan jasa porter dan guide sangatlah sederhana, karena sudah dapat dipastikan badan saya tidak memungkinkan untuk membawa persediaan logistik selama 3 hari 2 malam yang beratnya amit-amit itu! Takut di tengah pendakian saya tepar karena encok kambuh!

Kawasan Taman Nasional Rinjani memang indah! Medan perjalanan 3 jam pertama, saya ditemani dengan sinar matahari yang sangat terik di area savanna yang sangat cantik. Saat itu badan masih segar bugar, sehingga medan pendakian masih terasa sangat bersahabat walaupun panas cukup mendera. Saya bersama pendaki lain bahkan masih sempat berhenti untuk istirahat makan siang dengan menu makanan yang menurut saya mewah dalam sebuah pendakian, berupa capcay dan ayam goreng yang dimasak dengan kayu bakar oleh para porter handal.

Dengan tambahan energi yang didapat setelah makan siang, saya mulai melanjutkan pendakian. Kali ini pendakian sudah semakin berat. Tanjakan curam berbatu dan berdebu sudah mulai menemani pendakian saya. Yang membuat saya kegirangan adalah di tengah pendakian saya semakin banyak bertemu dan berteman dengan para pendaki Indonesia yang melakukan pendakian secara independen. Bahkan saya sampai terkagum-kagum karena banyak dari mereka yang mampu memanggul carrier 70 liter! Sambil ngos-ngosan, saya iseng bertanya, “Mas, kuat banget sih bawa carrier segini besar. Emang apa isinya?” Dengan tampang lucu mereka menjawab, “Wah, ini bawa kulkas 3 pintu mbak! Lengkap sama gensetnya!!” Hahaha, pecahlah tawa kami semua. Mendadak pendakian yang berat itu terasa lebih ringan dengan guyonan ringan ini.

Banyak juga saya berpapasan dengan teman-teman yang saat itu turun gunung selepas mendaki Rinjani. Setiap kami berpapasan, mereka selalu menyapa dengan tulus, “Semangat kak! Sudah tinggal 2 bukit lagi. Pasti bisa!” Aduuh, 2 bukit itu setinggi dan sejauh apa yaa? Kok rasanya ga sampai-sampai juga?? Yang pasti, sapaan sederhana seperti itu saat naik gunung menjadi sangat berarti karena benar-benar memberikan semangat.

Di bukit terakhir sebelum menuju Pelawangan (Pintu Rinjani), tempat dimana saya akan beristirahat di malam pertama, saya tertinggal cukup jauh dari Bintang. Medan berbatu dengan tanjakan curam 60° itu membuat langkah kaki saya semakin terseok-seok dan napas saya terengah-engah. Angin kencang khas Rinjani yang dingin terasa ingin menerbangkan tubuh saya ke bukit sebelah saking kencangnya. Saya masih terus berusaha untuk mendaki, walaupun langkah saya semakin pelan dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat. Jika melihat jalur pendakian yang semakin ke atas semakin sulit, saat itu saya ga yakin saya punya kemampuan dan tenaga tersisa untuk melalui medan berat itu.

Di ketinggian 2400m, tiba-tiba saja kondisi tubuh saya melemah. Kepala sakit ga karuan, rasa mual di perut tak tertahankan dan napas saya semakin pendek. Saya ga tau apa yang terjadi dengan tubuh saya hingga Mas Amet, sang guide meminta saya untuk beristirahat merebahkan diri di dataran yang cukup landai. Ga lama seorang anak perempuan yang ga saya kenal mendekati saya dan bertanya, “Kakak kenapa?”. Saya cuman bisa menggelengkan kepala. “Sakit kepala ya kak? Kakak punya darah rendah ga? Aku kasih Sangobion ya biar kakak sedikit kuat”. Saya cuman bisa menganggukkan kepala.

Sebelum mampu mengkonsumsi Sangobion yang dia berikan, saya sudah tidak mampu menahan rasa mual di perut hingga harus memuntahkan seluruh isi makan siang. Mental saya mulai down membuat hati saya galau maksimal. Dengan kondisi tubuh yang melemah dan medan berat yang menanti, saya takut ga mampu untuk sampai di Pelawangan sebelum matahari tenggelam. Lebih lagi, saya ga enak hati menyusahkan sang guide. Setelah dibantu Mas Amet mengisi ulang perut dengan biskuit manis dan minum oralit, saya melanjutkan istirahat. Sekitar 10 menit beristirahat dan rasa mual sudah mulai sedikit hilang, saya mengkonsumsi Sangobion dan mencoba meneruskan pendakian. Saya baru mengerti, ternyata saat itu saya terserang altitude sickness.

Anak perempuan yang memberikan Sangobion dan beberapa teman lainnya ternyata beristirahat tidak jauh dari tempat saya berdiri. Mereka semua menyemangati saya, “Ayo kak, jangan down ya! Dicoba terus walaupun pelan-pelan. Semangat kakak!” Ga terasa air mata saya mengalir karena ketulusan yang mereka tunjukkan di saat sulit yang sedang saya hadapi. Saya baru mengerti arti kalimat “semangat kakak” yang sebenarnya hadir di menit tersebut.

Dibantu Mas Amet, saya terus mendaki dan mendaki bersama dengan pendaki lain yang juga kewalahan mengalahkan bukit terakhir menuju Pelawangan. Kami saling menyemangati hingga akhirnya dengan kerja keras dan air mata, saya berhasil mencapai Pelawangan di ketinggian 2600m bahkan sebelum matahari terbenam. Sebuah pencapain buat anak pantai yang manja seperti saya! *Sujud Syukur!

Waktu-waktu yang bergulir di Rinjani diisi dengan banyak hal berbagi. Saya memberikan panadol untuk teman baru di tenda sebelah yang sakit kepala, mereka memberikan Counterpain yang Bintang butuhkan saat lututnya bermasalah. Mereka berbagi teh hangat di pagi hari, saya berbagi sarapan dengan teman-teman yang lain. Saya diberikan permen pedas buat bekal di jalan, mereka mendapat jatah makan siang yang ga pernah mampu saya habiskan. Nyanyi bareng lagu-lagu Iwan Fals sambil melihat matahari terbit dari Pelawangan juga jadi satu memori berbagi yang indah saat di Rinjani.

Terus terang di awal pendakian Rinjani saya langsung kapok dan ga pengen naik gunung lagi. Tapi, persahabatan dan lingkaran kebaikan yang ditunjukkan oleh teman-teman di Rinjani terus berlanjut dan memberikan kenangan tersendiri untuk perjalanan saya kali ini.

Keindahan Rinjani benar-benar memukau dan membahagiakan mata kepala saya. Tapi keindahan persahabatan di gunung pun sungguh mengagumkan dan membahagiakan mata hati saya..

Lanjut yuukk...