Tips

Thursday, July 19, 2012

Packing di Trans TV

Minggu malam, aura keputus asaan sudah mulai bergentayangan dalam tubuh dan pikiran saya karena akhir pekan akan berakhir dan Senin akan datang! Huuu, itu berarti kejamnya kemacetan Ibukota dan pekerjaan menumpuk di kantor akan segera menyambut saya. Saat malam semakin larut, di tengah keputus asaan, saya mendapat sebuah pesan di twitter dari Trans TV yang menanyakan kesediaan saya untuk tampil di acara Semangat Pagi sebagai salah satu nara sumber yang akan membahas mengenai packing. Pesan singkat tersebut berhasil membuat mood jelek saya berubah menjadi keriaan! Ahheeeyyyy, masuppp tipiiii!! Bahkan saking senangnya, rasanya saya langsung punya energy besar yang bikin pengen koprol atau lari keliling rumah! Haha!
Esok harinya, beberapa kali saya berkomunikasi dengan pihak Trans TV untuk mendapat penjelasan mengenai bahan diskusi, jadwal syuting, baju yang sebaiknya dipakai, warna baju yang harus dihindari, pernak-pernik packing pribadi yang harus saya siapkan dan beberapa hal lainnya. Maklum newbie, jadi saya banyak membutuhkan pengarahan dan pencerahan biar ga salah bawa barang apalagi salah kostum!

Hari syuting yang ditentukan pun tiba. Sesuai dengan arahan, saya tiba di Studio 2 Trans TV tepat jam 7:00 pagi dan langsung bertemu dengan staff Trans TV yang memberikan briefing mengenai konsep acara dan pertanyaan-pertanyaan seputar packing yang kira-kira akan ditanyakan oleh host acara Semangat Pagi, yaitu Ersa Mayori dan Irgi Fahrezi. Agar penjelasan packing semakin mudah diterima oleh pemirsa di rumah, saya juga harus menyiapkan dan mengepak barang-barang penting yang biasanya dibawa saat melakukan perjalanan di dalam sebuah koper. Jadilah sambil menggulung baju dan mengepak, saya berusaha merangkai kata-kata indah untuk persiapan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar packing. Tapi yah, gara-gara grogi tingkat tinggi, malah ga ada kata-kata tepat yang bisa hinggap di kepala saya supaya bisa dihapalkan dengan baik. Arrrgghh..

Kegrogian mulai memuncak saat saya masuk ruang make-up untuk bersiap. Saya lihat Ersa dan Irgi juga sedang melakukan persiapan. Duuuhh duhh duhh, jaman SMP dulu, saya cuman bisa terkagum-kagum berat sama Ersa Mayori saat melihat foto dirinya menjadi pemenang Gadis Sampul di tahun 1993! Ga nyangka banget kalau hari itu saya ketemu langsung dan akan syuting bareng bersama dirinya!!! Hidup emang penuh kejutan yah?

Di ruang make-up saya pasrah saat bagian mata saya dikelir warna-warni dan muka saya digambar-gambar oleh sang make-up artist. Apalagi saat bedak setebel kasur pun ikut mendarat di pipi saya. Saya makin lemas saat bibir saya disapu dengan lipstick tebal berwarna merah merona! Aawwww, rasanya janggal sekali melihat muka saya berhias make-up! Saya sampai pangling melihat diri sendiri di depan cermin! Tapi sudahlah, demi penampilan maksimal di depan kamera tipi, saya nurut jadi ondel-ondel Ibukota!

Konsentrasi buyar saat menunggu waktu syuting. Ternyata ada dua bintang tamu lainnya, yaitu Ibnu Jamil dan Diego Mitchel ikut menyemarakkan acara Semangat Pagi hari itu. Hadeuh, saya makin berasa kayak anak bawang di antara artis-artis terkenal ini. Saat bagian syuting saya tiba, posisi berdiri pun langsung diatur. Duh, senengnya bukan main saat saya kedapatan berdiri di sebelah Diego. Rasanya badan pengennya condong ke kanan melulu biar bisa deketan sama dirinya. Wakakaka!

Nah, ini bagian paling penting. Saat kamera mulai bermain, jantung saya berdegup dengan kencang karena grogi tingkat tinggi. Saya takut suara saya parau, saya takut salah ngomong dan saya bingung mata saya harus menghadap ke kamera yang mana. Saking groginya, dalam dua menit pertama, saat menjelaskan barang-barang penting untuk packing, ketawa saya kelebaran, sampe-sampe mau mingkem saja saya bingung!!! DUODOLL TINGKAT DEWA!!

Tapi tapi tapi..saya bersyukur banget, ternyata Ersa, Irgi, Ibnu Jamil dan Diego, mereka semua baik dan lucu membuat suasana syuting menjadi sangat santai dan nyaman. Setelah beberapa menit berjalan, ketika menyampaikan informasi packing kepada pemirsa di rumah saya sudah ga grogi lagi, hingga bisa menjelaskan tips packing dengan maksimal dan masih bisa saling becanda satu dengan yang lain sehingga syuting terasa sangat natural.

Leganya minta ampun saat syuting akhirnya selesai. Ternyata beraksi di depan kamera untuk pertama kali dalam hidup emang ga mudah sama sekali. Tapi saya senang banget bisa dapet kesempatan untuk masup tipi dan berharap mudah-mudahan akan ada tawaran untuk masup tipi lagi di lain kesempatan. Doain yaaa ;)

Pengen liat tips packing seru dari saya dan pengen lihat kegrogian saya dimana saya kebingungan gimana caranya mau mingkem? Silahkan nonton youtube di bawah ini. Mohon dimaafkan kalau kualitas gambarnya sangat katrok, karena video ini diambil langsung dari layar TV.

Lanjut yuukk...

Tuesday, July 17, 2012

Asik Membatik di Museum Tekstil

Hari masih pagi dan panas matahari belum begitu terik, namun lalu lintas Jakarta sudah tampak sedikit padat. Minggu pagi yang istimewa itu, saya bersama dengan beberapa teman expat sengaja menyambangi Museum Tekstil. Kami ga sekedar ingin melihat koleksi batik nusantara, tapi tujuan utama kami kesana karena ingin belajar membatik! Weitss, asekk ga tuh?

Museum Tekstil pagi itu tampak lenggang. Dengan membayar Rp. 35,000 per orang, kami mendapat tiket masuk dan kesempatan untuk belajar membatik di sanggar batik yang berlokasi di belakang museum. Uniknya museum ini, kita memang bisa mempelajari lebih dalam mengenai seni budaya Batik beserta langkah-langkah pembuatannya secara langsung! Karena sudah tidak sabar untuk belajar membatik, kami langsung menuju sanggar batik di daerah belakang museum dan segera bergabung bersama dengan sekelompok anak SMU yang saat itu juga sedang belajar membatik.

Masing-masing kami diberikan selembar kain katun berwarna putih yang akan kami pergunakan untuk menggambar motif pada kain tersebut. Puluhan template motif batik sudah tersedia bagi pemula seperti kami untuk memudahkan proses menggambar dengan cara menjiplak template-template tersebut. Buat kamu-kamu yang pintar menggambar, kamu boleh kok langsung menggambar apapun sesuai kreatifitas kamu di atas kain katun tersebut. Berhubung saya ga bakat menggambar, saya langsung memilih template motif batik tidak terlalu rumit tapi menarik. Hanya menjiplak template motif tersebut dengan menggunakan pensil di atas kain katun. Ugh, baru menjiplak motif tersebut menggunakan pensil saja, tangan saya sudah gemetaran. Bagaimana nanti kalau menggunakan centing ya?

Teman-teman expat saya yang lain dengan semangat tingkat tinggi sudah menyelesaikan motif batik mereka di atas kain katun. Dengan bantuan mentor dari sanggar batik yang sudah memanaskan “malem” (lilin) di wajan mungil dan memilih centing-centing yang masih layak pakai, teman-teman saya mulai “memalem” motif batik mereka. Ga lama saya pun bergabung membentuk lingkaran dan melakukan kegiatan yang sama.

“Malem” adalah proses menggoreskan lilin dengan menggunakan centing pada kain katun. Asal tau aja, hal ini sungguh ga mudah untuk dilakukan. Dengan tangan yang konsisten gemetar karena grogi menggunakan centing, saya berusaha untuk memalem motif batik dengan rapih dan berusaha agar malem tidak berceceran di kain, karena dapat merusak keindahan motif batik di kain. Baru deh saat itu saya sadar kenapa batik tulis harganya bisa mencapai jutaan! Ya tentu karena proses pembuatannya yang rumit dan butuh kesabaran karena penyelesaiannya memakan waktu yang lama!!

Setelah proses malem motif batik di bagian depan dan belakang selesai, saya membawa kain batik tersebut ke bagian dapur sanggar. Pinggiran kain batik saya diberikan frame berbentuk kotak ataupun bulat, sesuai keinginan masing-masing dengan menggunakan zat kimia bernama paraffin. Setelah itu saya ke tempat pencucian dimana sudah terdapat ember-ember yang berjajar dengan rapih. Ember diisi dengan air untuk kegunaan yang berbeda. Ada yang berisi air bersih, ada juga yang berisi dengan campuran naptol dan pewarna kain yang berbeda sesuai dengan keinginan masing-masing.

Kain lalu dibilas dengan air bersih, dan dilanjutkan dengan dicelupkan ke dalam ember berisi naptol, yaitu pelekat garam warna. Setelah itu kain dimasukkan kedalam ember dengan pewarna. Saya memilih warna kuning cerah untuk hasil akhir batik saya. Warna kain yang awalnya putih berangsur-angsur berganti warna menjadi kuning dengan pinggiran berbentuk bundar.

Proses akhir adalah merebus kain agar malem ataupun lilin yang melekat dapat terlepas dari kain membentuk motif batik yang indah seperti yang saya inginkan! Kain saya bilas untuk terakhir kali agar malem benar-benar terlepas. Setelah itu saya kibaskan, BIM SALABIM!! Kain yang awalnya berwarna putih menjadi kain kuning dengan motif batik jawa yang menarik tergambar di kain tersebut. Uhuyyy, saya bangga sekali dengan hasil karya batik saya! Teman-teman saya juga bangga akan hasil membatik mereka dengan berbagai motif dan warna yang berbeda.

Coba deh sekali-sekali kalau weekend lagi ga ada acara, mampir main ke Museum Tekstil. Ga hanya dapet pengalaman baru yang seru, tapi dari membatik membuat kita diingatkan untuk semakin menghargai karya budaya Indonesia. Yang tergelitik hatinya untuk belajar membatik, bisa datang ke Museum Tesktil yang beralamatkan di Jl. Aipda Ks Tubun 2-4, Jakarta. SELAMAT MEMBATIK YAA TEMAN-TEMAN!!!!

Lanjut yuukk...