Tips

Thursday, November 1, 2012

[Rinjani] Kaki Merana, Mata Bahagia

Setelah melakukan persiapan menuju Rinjani di postingan blog sebelumnya, akhirnya saya siap hati dan mental untuk berjibaku melakukan pendakian ke sana.

Hari pertama, tepat jam 5:00 pagi saya bersama Bintang dan Mas Amet bertolak dari Senggigi menggunakan mobil menuju Senaru. Perjalanan ini memakan waktu 2 jam, sehingga saya pakai sebaik-baiknya untuk meyambung tidur. Setelah sampai di Senaru ternyata tujuan kesana hanya untuk menjemput porter. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Sembalun yang merupakan salah satu titik keberangkatan pendakian Rinjani. Selama pendakian, medan yang saya lalui sangat beragam dan menantang tiada tara! Sabana mengawali pendakian, lalu sedikit area hutan basah, dilanjutkan dengan rerumputan lalu perbukitan pasir yang berdebu dan diakhiri dengan area bukit berbatu dengan kondisi angin yang sangat kencang. Total pendakian yang saya lakukan di hari pertama hingga mencapai Pelawangan di ketinggian 2600 mdpl adalah 9 jam! Jangan ditanya gimana susahnya pendakian kesana! Yang pasti membuat engsel-engsel lutut gemetar dan godaan menyerah di tengah pendakian selalu datang dan pergi.

Dari Pelawangan, saya sudah bisa melihat puncak Rinjani yang memiliki ketinggian 3726 mdpl dan Danau Segara anak yang berada di bawah Pelawangan di ketinggian 2000 mdpl. Pemandangan yang tampil di sana terlalu keren! Sayangnya, angin di Pelawangan yang kencang ga mengijinkan saya dan para pendaki lain untuk berlama-lama berada di luar tenda menikmati pemandangan indah tersebut. Jadi sejak matahari terbenam, kami semua melakukan aktifitas di dalam tenda, menikmati makan malam dan langsung tidur untuk mengistirahatkan badan dan kaki yang lelah karena pendakian yang berat seharian.

Hari kedua, setelah beristirahat secukupnya, jam 2:30 pagi Bintang dan Mas Amet melakukan pendakian ke puncak ke Rinjani. Saya memutuskan untuk melanjutkan tidur di tenda dan ga melakukan pendakian ke puncak Rinjani karena keadaan fisik yang ga memungkinkan. Saat pagi menjelang, saya bergabung dengan para pendaki berlabel tidak ambisius karena ga melakukan pendakian ke puncak. Jadi kami leyeh-leyeh di sekitar tenda buat ngobrol dan minum teh sambil menikmati matahari yang perlahan terbit dari ufuk timur. Saat kabut tebal mulai menghilang beriringan dengan semakin tingginya matahari, keindahan Danau Segara Anak sudah mulai mencuri perhatian saya.

Beberapa pendaki yang melakukan perjalanan ke puncak tampak sudah banyak yang turun. Saya pikir mereka sudah mencapai puncak, jadi saya dengan semangat menanyakan kondisi dan pemandangan di puncak Rinjani. Namun ternyata banyak pendaki y ang mengalami kesulitan melakukan pendakian ke puncak karena angin sangat kencang, sehingga kebanyakan pendaki memutuskan untuk kembali turun dan ga melanjutkan perjalanan. Track menuju puncak Rinjani yang sempit dan ga ada pegangan ditambah dengan angin kencang memang jadi momok besar buat para pendaki. Saya “angkat topi” untuk para pendaki tangguh yang dapat mencapai puncak Rinjani. Dan tentunya bangga banget sama Bintang, walaupun harus menempuh total 7 jam perjalanan, Bintang berhasil mencapai puncak Rinjani! YAYYY!

Setelah sarapan, saya bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Danau Segara Anak di ketinggian 2000 mdpl. Orang bilang turun gunung. Senang rasanya perjalanan hari ini saya akan turun gunung. Tapi siapa yang sangka, di Rinjani, pendakian ke atas gunung maupun turun gunung sama susahnya! Trekking 4 jam berikutnya, saya harus melalui medan batu-batu terjal dan curam yang cukup sulit untuk dilalui dalam posisi menurun. Untungnya sepanjang perjalanan saya ditemani dengan kabut yang sangat tebal. Walaupun terasa sangat mistis, tapi kabut tebal menolong saya untuk menutupi bukit-bukit curam yang ada di sisi kanan sehingga tidak terlihat. Kalau terlihat, ketegangan perjalanan akan memuncak karena kuatir takut jatuh!

Satu jam terakhir, batu-batu terjal mulai tergantikan dengan keberadaan bukit-bukit hijau dan sabana berwarna keemasan. Danau Segara Anak juga sudah terlihat dari kejauhan. HOREE, perjalanan saya sudah mau sampai. Sesampainya di Danau Segara Anak, pemandangan yang lebih indah mengejutkan saya! Anak Gunung Rinjani yang berada di tengah danau sungguh mentereng dan memukau.

Tapi Danau Segara Anak ternyata ga hanya punya danau kawah yang indah dan Anak Gunung Rinjani yang megah loh! Ternyata Danau Segara Anak juga punya sumber mata air panas!! Batu-batu besar secara natural membentuk kolam-kolam kecil yang dialiri oleh sumber mata air panas yang digunakan sebagai tempat mandi atau berendam penduduk lokal dan para pendaki. Bahkan, sumber mata air panas ini airnya mengalir deras dan membentuk air terjun alami. Bayangin deh, air terjun dari sumber mata air panas?? Fenomenal banget! Ga pakai basa-basi, saya langsung menceburkan diri dan berenang-renang di kolam air panas untuk mengusir lelah. Rasanyaaaaaa nikmaatttt!!

Ga seperti di Pelawangan, untungnya suasana malam di Danau Segara Anak jauh lebih bersahabat. Ga ada angin yang bertiup kencang dan hawa dingin ga begitu menusuk di tulang. Saya dan Bintang jadi punya kesempatan untuk ngobrol asik dengan para pendaki lain. SERUU!

Hari ketiga, yang merupakan hari terakhir pendakian sengaja dimulai cukup awal karena kami ga pengen sampai di Senaru terlalu malam. Konon kabarnya, pendakian di hari terakhir ini cukup menyiksa karena banyak pendakian curam yang harus dihadapi. Setelah berpamitan dengan teman-teman pendaki yang lain, saya beranjak meninggalkan kawasan perkemahan Danau Segara Anak. Pendakian yang terakhir ini harus diakui benar-benar menguras mental dan fisik. Saking terjalnya pendakian, banyak tersedia pancang besi yang dipasang di beberapa area yang cukup curam untuk alasan keamanan dan memudahkan pendakian.

Yang membuat pendakian sulit selama kurang lebih 4 jam ini jadi sangat menarik adalah… pemandangan indah puncak Gunung Rinjani bersatu dengan Anak Gunung Rinjani yang tampak mengapung di tengah air Danau Segara Anak yang berwarna kehijauan!!! Capek dan rasa sakit di kaki yang saya rasakan dengan mudah teralihkan dengan semua keindahan ini! Mata saya selalu berbinar-binar melihat keindahan lain yang ditawarkan oleh Indonesia.

Setelah berhasil menaklukan puncak Pelawangan kedua, kegiatan turun gunung selama 6 jam yang tak kalah beratnya dimulai melalui bebatuan terjal, debu pasir yang sangat licin dan diakhiri dengan kawasan hutan basah yang subur. Rasanya seperti pahlawan pulang kampung saat berhasil sampai di Gerbang Senaru, Taman Nasional Gunung Rinjani!

Sebelum berpisah, Mas Amet sempat menyeletuk, "Mbak Rini, seninya mendaki Rinjani itu memang membuat kaki merana tapi mata bahagia!" Aaahh, sebuah ungkapan yang sangat tepat untuk menggambarkan rangkaian petualangan saya di Rinjani selama 3 hari.

Kaki Bintang dan saya memang kelelahan setelah pendakian. Setiap beranjak dari tempat tidur atau kursi kami harus mengerang kesakitan karena paha dan betis kami belum rela ditekuk. Gaya kami selalu terlihat seperti pinokio yang oleng kesana-kemari saat bangun tidur. Kami bahkan berjalan kayak robot atau malah kayak tentara yang berjalan dengan kaki tegak lurus selama berhari-hari!

Tapi ungkapan itu benar, “kaki merana, mata bahagia”. Bahkan hingga saat ini, setelah 2 bulan pendakian, pemandangan indah Rinjani masih melekat kuat di ingatan kepala dan sesekali menari-nari di mata saya!

13 comments:

  1. huhuhu... aku kangen rin(jan)i setengah matii. semoga lekas kita berpetualang kembali yaaahhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa Bintangg, can't hardly wait for the next MAJALENGKA adventure :D :D

      Delete
  2. waaaahhh bagus banget mbak kayak alam mimpiiiiii!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setujuuuu bangettt!!! Rinjani the wonderland!! :D

      Delete
  3. Hahahaa... Ga percuma ya paha betis kaku kaku, emang keren banget view nya.
    Si bintang mukanya ga kliatan merana gitu, msh sumringah aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, emang yang keren-keren itu perjuangannya berat :D
      Bintang bak superman, ga ada capeknyaaa :D

      Delete
    2. rinjani bikin gila!!

      Delete
  4. woow mantab mbak..! Jempol deh bwt mbak..!
    wah,coba main ke sekret mapala univ ku di unram, ku ajakin naik lewat jalur selatannya,timbanuh n turun via torean yg punya banyak hidden waterfall and hotspring cave
    btw,belasan kali naik rinjani,saya ga pernah bosen,karena slalu ada kawan n cerita berbeda disetiap pendakian

    overall,congraaat mbak *yaaay*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyak yah!
      Waaaa, next time kalo mo naik Rinjani nanti aku kontek2 biar bisa naik dan turun dari jalur lain!

      Iyaa, emang Rinjani meninggalkan banyak kenangan seru dan berkesan :)

      Delete
    2. ngerti banget rasanya pengen naek rinjani berkali-kali. nyandu berat pastinya. jalur selatan sounds amazing!!!

      Delete
  5. artikel yang bagus dan saya sangat kagum, mudah - mudahan website saya obat pembesar penis obat vimax asli di sukai google juga seperti website anda, semoga anda selalu beruntung.

    ReplyDelete