Tips

Tuesday, September 11, 2012

[Rinjani] Persahabatan di Gunung

Selama ini saya mengaku lebih suka pantai ketimbang gunung. Saya ga ngerti, mungkin karena saya lahir dan besar di Bontang, kota yang berada di pesisir pantai yang ga memiliki area pegunungan hingga membuat saya merasa lebih nyaman berada di daerah pantai. Ditambah lagi tujuan perjalanan saya selama ini memang lebih banyak di daerah pantai karena saya senang melakukan aktifitas olahraga air. Filipina dan Palau, dua negara dimana saya pernah menghabiskan waktu untuk bersekolah dan bekerja juga merupakan negara kepulauan yang tidak jauh dari keindahan pantai dan lautnya. Kalau naik gunung? Yaaa, empat lima kali saya naik gunung pernah juga. Tapi medan yang dilalui juga ga terlalu berat. Mentok-mentok saya hanya membutuhkan 8-10 jam pendakian untuk mencapai puncak.

Mengunjungi Rinjani adalah salah satu mimpi terbesar saya, walaupun saya tau untuk kesana adalah sebuah tantangan besar. Tentunya karena umur makin tua, jadi badan saya yang sudah merenta ini makin susah diajak kompromi dengan aktifitas pendakian yang berat berhari-hari! Saya sudah banyak mendengar bahwa pendakian Rinjani memiliki medan yang sangat beragam dan sulit, ditambah lagi suhu udara yang dingin dan oksigen yang tipis bikin saya sempat galau untuk mewujudkan mimpi saya yang satu ini. Beberapa minggu sebelum melakukan pendakian, benar-benar memaksa saya untuk meningkatkan jadwal pergi ke pusat kebugaran menjadi lebih sering. Aktifitas cardio seperti lari dan berenang pun menjadi sahabat karib saya sebelum menjelajah Rinjani.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pagi itu bersama saya dan Bintang, banyak sekali turis asing yang melakukan pendakian ke Rinjani. Adalah wajib hukumnya bagi turis asing untuk menggunakan jasa porter dan guide saat melakukan pendakian Rinjani. Sedangkan alasan saya memilih untuk menggunakan jasa porter dan guide sangatlah sederhana, karena sudah dapat dipastikan badan saya tidak memungkinkan untuk membawa persediaan logistik selama 3 hari 2 malam yang beratnya amit-amit itu! Takut di tengah pendakian saya tepar karena encok kambuh!

Kawasan Taman Nasional Rinjani memang indah! Medan perjalanan 3 jam pertama, saya ditemani dengan sinar matahari yang sangat terik di area savanna yang sangat cantik. Saat itu badan masih segar bugar, sehingga medan pendakian masih terasa sangat bersahabat walaupun panas cukup mendera. Saya bersama pendaki lain bahkan masih sempat berhenti untuk istirahat makan siang dengan menu makanan yang menurut saya mewah dalam sebuah pendakian, berupa capcay dan ayam goreng yang dimasak dengan kayu bakar oleh para porter handal.

Dengan tambahan energi yang didapat setelah makan siang, saya mulai melanjutkan pendakian. Kali ini pendakian sudah semakin berat. Tanjakan curam berbatu dan berdebu sudah mulai menemani pendakian saya. Yang membuat saya kegirangan adalah di tengah pendakian saya semakin banyak bertemu dan berteman dengan para pendaki Indonesia yang melakukan pendakian secara independen. Bahkan saya sampai terkagum-kagum karena banyak dari mereka yang mampu memanggul carrier 70 liter! Sambil ngos-ngosan, saya iseng bertanya, “Mas, kuat banget sih bawa carrier segini besar. Emang apa isinya?” Dengan tampang lucu mereka menjawab, “Wah, ini bawa kulkas 3 pintu mbak! Lengkap sama gensetnya!!” Hahaha, pecahlah tawa kami semua. Mendadak pendakian yang berat itu terasa lebih ringan dengan guyonan ringan ini.

Banyak juga saya berpapasan dengan teman-teman yang saat itu turun gunung selepas mendaki Rinjani. Setiap kami berpapasan, mereka selalu menyapa dengan tulus, “Semangat kak! Sudah tinggal 2 bukit lagi. Pasti bisa!” Aduuh, 2 bukit itu setinggi dan sejauh apa yaa? Kok rasanya ga sampai-sampai juga?? Yang pasti, sapaan sederhana seperti itu saat naik gunung menjadi sangat berarti karena benar-benar memberikan semangat.

Di bukit terakhir sebelum menuju Pelawangan (Pintu Rinjani), tempat dimana saya akan beristirahat di malam pertama, saya tertinggal cukup jauh dari Bintang. Medan berbatu dengan tanjakan curam 60° itu membuat langkah kaki saya semakin terseok-seok dan napas saya terengah-engah. Angin kencang khas Rinjani yang dingin terasa ingin menerbangkan tubuh saya ke bukit sebelah saking kencangnya. Saya masih terus berusaha untuk mendaki, walaupun langkah saya semakin pelan dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat. Jika melihat jalur pendakian yang semakin ke atas semakin sulit, saat itu saya ga yakin saya punya kemampuan dan tenaga tersisa untuk melalui medan berat itu.

Di ketinggian 2400m, tiba-tiba saja kondisi tubuh saya melemah. Kepala sakit ga karuan, rasa mual di perut tak tertahankan dan napas saya semakin pendek. Saya ga tau apa yang terjadi dengan tubuh saya hingga Mas Amet, sang guide meminta saya untuk beristirahat merebahkan diri di dataran yang cukup landai. Ga lama seorang anak perempuan yang ga saya kenal mendekati saya dan bertanya, “Kakak kenapa?”. Saya cuman bisa menggelengkan kepala. “Sakit kepala ya kak? Kakak punya darah rendah ga? Aku kasih Sangobion ya biar kakak sedikit kuat”. Saya cuman bisa menganggukkan kepala.

Sebelum mampu mengkonsumsi Sangobion yang dia berikan, saya sudah tidak mampu menahan rasa mual di perut hingga harus memuntahkan seluruh isi makan siang. Mental saya mulai down membuat hati saya galau maksimal. Dengan kondisi tubuh yang melemah dan medan berat yang menanti, saya takut ga mampu untuk sampai di Pelawangan sebelum matahari tenggelam. Lebih lagi, saya ga enak hati menyusahkan sang guide. Setelah dibantu Mas Amet mengisi ulang perut dengan biskuit manis dan minum oralit, saya melanjutkan istirahat. Sekitar 10 menit beristirahat dan rasa mual sudah mulai sedikit hilang, saya mengkonsumsi Sangobion dan mencoba meneruskan pendakian. Saya baru mengerti, ternyata saat itu saya terserang altitude sickness.

Anak perempuan yang memberikan Sangobion dan beberapa teman lainnya ternyata beristirahat tidak jauh dari tempat saya berdiri. Mereka semua menyemangati saya, “Ayo kak, jangan down ya! Dicoba terus walaupun pelan-pelan. Semangat kakak!” Ga terasa air mata saya mengalir karena ketulusan yang mereka tunjukkan di saat sulit yang sedang saya hadapi. Saya baru mengerti arti kalimat “semangat kakak” yang sebenarnya hadir di menit tersebut.

Dibantu Mas Amet, saya terus mendaki dan mendaki bersama dengan pendaki lain yang juga kewalahan mengalahkan bukit terakhir menuju Pelawangan. Kami saling menyemangati hingga akhirnya dengan kerja keras dan air mata, saya berhasil mencapai Pelawangan di ketinggian 2600m bahkan sebelum matahari terbenam. Sebuah pencapain buat anak pantai yang manja seperti saya! *Sujud Syukur!

Waktu-waktu yang bergulir di Rinjani diisi dengan banyak hal berbagi. Saya memberikan panadol untuk teman baru di tenda sebelah yang sakit kepala, mereka memberikan Counterpain yang Bintang butuhkan saat lututnya bermasalah. Mereka berbagi teh hangat di pagi hari, saya berbagi sarapan dengan teman-teman yang lain. Saya diberikan permen pedas buat bekal di jalan, mereka mendapat jatah makan siang yang ga pernah mampu saya habiskan. Nyanyi bareng lagu-lagu Iwan Fals sambil melihat matahari terbit dari Pelawangan juga jadi satu memori berbagi yang indah saat di Rinjani.

Terus terang di awal pendakian Rinjani saya langsung kapok dan ga pengen naik gunung lagi. Tapi, persahabatan dan lingkaran kebaikan yang ditunjukkan oleh teman-teman di Rinjani terus berlanjut dan memberikan kenangan tersendiri untuk perjalanan saya kali ini.

Keindahan Rinjani benar-benar memukau dan membahagiakan mata kepala saya. Tapi keindahan persahabatan di gunung pun sungguh mengagumkan dan membahagiakan mata hati saya..

11 comments:

  1. keren banget, naik gunung itu musti dilakukan oleh tiap orang, minimal sekali lah ya hehehe. Jadi, pesan moralnya, jangan pernah mencela klo ada temen yg bilang: "cemungudh qq" :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wakakaka, tetap cemangadd qq!!! *alay mode on*

      Delete
  2. waaaah ngeri juga yak perjuangannya.. tapi pst worth it kan? wkwkwk...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaa, worth it banget walopun pake mewek2 segala! Haha! Kudu kesana Milllaa!!

      Delete
  3. Wah wah wah...seru banget!!!
    Kalau saya apa ya? Anak pantai enggak, anak gunung apalagi! Meskipun saya tergila-gila dengan pantai dan lau, tapi saya juga pengen mendaki gunung. Tapi kayaknya saya mesti mulai dari yg ringan dulu deh, Rinjani kira-kira kasta berapa yak?

    ReplyDelete
  4. gileeeeeeee suer gile banget dikau mbakk!! angkat 4 jempol deh! haahh aku bangga sekali padamu yg sudah mampu ke puncak rinjani, aku pernah cuma sampe puncak lawu aja rasanya udah paling ho oh ternyata dikau lebih keren hihi, smangat terus yaakk!! :D

    ReplyDelete
  5. mauuuu...pengen bgt mbaaaa...keren semangatny

    ReplyDelete
  6. Kerennn kak, ayo dong jangan kapok muncak

    ReplyDelete
  7. Mbak, masih punya nomor kontaknya Mas Amet?
    Ada rencana mau mendaki ke Rinjani.. Thanks

    ReplyDelete