Tips

Tuesday, July 17, 2012

Asik Membatik di Museum Tekstil

Hari masih pagi dan panas matahari belum begitu terik, namun lalu lintas Jakarta sudah tampak sedikit padat. Minggu pagi yang istimewa itu, saya bersama dengan beberapa teman expat sengaja menyambangi Museum Tekstil. Kami ga sekedar ingin melihat koleksi batik nusantara, tapi tujuan utama kami kesana karena ingin belajar membatik! Weitss, asekk ga tuh?

Museum Tekstil pagi itu tampak lenggang. Dengan membayar Rp. 35,000 per orang, kami mendapat tiket masuk dan kesempatan untuk belajar membatik di sanggar batik yang berlokasi di belakang museum. Uniknya museum ini, kita memang bisa mempelajari lebih dalam mengenai seni budaya Batik beserta langkah-langkah pembuatannya secara langsung! Karena sudah tidak sabar untuk belajar membatik, kami langsung menuju sanggar batik di daerah belakang museum dan segera bergabung bersama dengan sekelompok anak SMU yang saat itu juga sedang belajar membatik.

Masing-masing kami diberikan selembar kain katun berwarna putih yang akan kami pergunakan untuk menggambar motif pada kain tersebut. Puluhan template motif batik sudah tersedia bagi pemula seperti kami untuk memudahkan proses menggambar dengan cara menjiplak template-template tersebut. Buat kamu-kamu yang pintar menggambar, kamu boleh kok langsung menggambar apapun sesuai kreatifitas kamu di atas kain katun tersebut. Berhubung saya ga bakat menggambar, saya langsung memilih template motif batik tidak terlalu rumit tapi menarik. Hanya menjiplak template motif tersebut dengan menggunakan pensil di atas kain katun. Ugh, baru menjiplak motif tersebut menggunakan pensil saja, tangan saya sudah gemetaran. Bagaimana nanti kalau menggunakan centing ya?

Teman-teman expat saya yang lain dengan semangat tingkat tinggi sudah menyelesaikan motif batik mereka di atas kain katun. Dengan bantuan mentor dari sanggar batik yang sudah memanaskan “malem” (lilin) di wajan mungil dan memilih centing-centing yang masih layak pakai, teman-teman saya mulai “memalem” motif batik mereka. Ga lama saya pun bergabung membentuk lingkaran dan melakukan kegiatan yang sama.

“Malem” adalah proses menggoreskan lilin dengan menggunakan centing pada kain katun. Asal tau aja, hal ini sungguh ga mudah untuk dilakukan. Dengan tangan yang konsisten gemetar karena grogi menggunakan centing, saya berusaha untuk memalem motif batik dengan rapih dan berusaha agar malem tidak berceceran di kain, karena dapat merusak keindahan motif batik di kain. Baru deh saat itu saya sadar kenapa batik tulis harganya bisa mencapai jutaan! Ya tentu karena proses pembuatannya yang rumit dan butuh kesabaran karena penyelesaiannya memakan waktu yang lama!!

Setelah proses malem motif batik di bagian depan dan belakang selesai, saya membawa kain batik tersebut ke bagian dapur sanggar. Pinggiran kain batik saya diberikan frame berbentuk kotak ataupun bulat, sesuai keinginan masing-masing dengan menggunakan zat kimia bernama paraffin. Setelah itu saya ke tempat pencucian dimana sudah terdapat ember-ember yang berjajar dengan rapih. Ember diisi dengan air untuk kegunaan yang berbeda. Ada yang berisi air bersih, ada juga yang berisi dengan campuran naptol dan pewarna kain yang berbeda sesuai dengan keinginan masing-masing.

Kain lalu dibilas dengan air bersih, dan dilanjutkan dengan dicelupkan ke dalam ember berisi naptol, yaitu pelekat garam warna. Setelah itu kain dimasukkan kedalam ember dengan pewarna. Saya memilih warna kuning cerah untuk hasil akhir batik saya. Warna kain yang awalnya putih berangsur-angsur berganti warna menjadi kuning dengan pinggiran berbentuk bundar.

Proses akhir adalah merebus kain agar malem ataupun lilin yang melekat dapat terlepas dari kain membentuk motif batik yang indah seperti yang saya inginkan! Kain saya bilas untuk terakhir kali agar malem benar-benar terlepas. Setelah itu saya kibaskan, BIM SALABIM!! Kain yang awalnya berwarna putih menjadi kain kuning dengan motif batik jawa yang menarik tergambar di kain tersebut. Uhuyyy, saya bangga sekali dengan hasil karya batik saya! Teman-teman saya juga bangga akan hasil membatik mereka dengan berbagai motif dan warna yang berbeda.

Coba deh sekali-sekali kalau weekend lagi ga ada acara, mampir main ke Museum Tekstil. Ga hanya dapet pengalaman baru yang seru, tapi dari membatik membuat kita diingatkan untuk semakin menghargai karya budaya Indonesia. Yang tergelitik hatinya untuk belajar membatik, bisa datang ke Museum Tesktil yang beralamatkan di Jl. Aipda Ks Tubun 2-4, Jakarta. SELAMAT MEMBATIK YAA TEMAN-TEMAN!!!!

1 comment:

  1. huwoooww!! mba rini keren, mana poto hasil batiknya? heheh aku dulu pas sma juga ada ekskul batik, udah kebayang ribednya mbatik :3

    ReplyDelete