Tips

Sunday, June 20, 2010

Amazing Race India..

Liputan dari Varanasi dan New Delhi, India

Hari terakhir saya berada di Varanasi, Robert menyapa dan menanyakan rencana saya hari itu ketika saya masih asik kongkow dan menikmati sarapan saya yang belum selesai. Robert adalah seorang lelaki paruh baya yang berasal dari San Fransisco. Setiap tahun beliau tidak pernah absen mengunjungi Varanasi. Tahun ini adalah tahun ke-20 beliau berada di Varanasi.
Saya menjawab pertanyaan Robert dengan muka cemberut “I’m leaving Varanasi in a few hours.”
Lucunya, Robert malah merespon “Leaving today?? Have you bought your saree?”
Nyahahaha, penting gitu yah nanya udah punya saree atau belum? Setelah tahu saya belum punya saree, Robert menawarkan kepada saya jika saya berminat untuk membeli saree. Saya tertarik dengan tawarannya mengingat pemilik toko saree ini adalah anak asuh Robert yang sudah dia kenal sejak 20 tahun yang lalu. Saya yakin harga yang ditawarkan juga tidak membuat kantong saya jebol. Tapi waktu yang saya punya sebelum jadwal keberangkatan auto rickshaw saya ke airport hanya 1 jam. Kush – pemilik guesthouse sudah asik bernyanyi memberikan wanti-wanti bahwa saya harus tepat waktu kembali ke guesthouse untuk mengejar rickshaw yang akan membawa saya ke airport. Tapi Robert memastikan kalau saya akan kembali tepat waktu. Maka dengan waktu sempit yang tersedia, Robert dan saya segera meluncur!!..

Amazing Race pertama hari ini DIMULAI!!!


Mulai dari guesthouse, kami berdua melakukan kombinasi lari dan jalan cepat melewati gang-gang kecil penuh misteri di Varanasi. Akhirnya, kami berdua berhasil sampai di toko tempat anak asuh Robert hanya dalam waktu 15 menit! Masih ngos-ngosan dan betis saya nyut-nyutan, saya harus segera mulai memilih warna dan bahan saree yang saya mau. Tentunya turis kere seperti saya tidak mampu membeli saree sutera dengan harga yang mahal. Maka saya hanya melihat koleksi saree yang terbuat dari cotton dan memutuskan membeli saree seharga 550 Rupee berwarna kuning kemerahan. Buat perempuan seperti saya, ini adalah transaksi jual beli tercepat yang pernah terjadi! Saya bahkan tidak sempat mencoba membalut tubuh saya dengan saree tersebut! Segera setelah menerima uang kembalian dan saree, saya mengucapkan salam perpisahan kepada Robert dan berlari melesat bagai Flash Gordon kembali ke guesthouse!

Saya kembali tepat waktu, bahkan masih bersisa 10 menit!! Nafas saya tersenggal-senggal, badan saya berkeringat dan yang pasti paha dan betis saya langsung mau copot! Wuiihh, tapi saya seneng banget tidak telat!

Saya menuju lobby hotel dimana saya bertemu dengan teman backpacker lain, sebut saja Denny yang akan menuju airport dengan tujuan akhir dan waktu yang sama dengan saya. Setelah menyelesaikan urusan check-out dan pembayaran, kami berjalan meninggalkan Schindia Guesthouse menyusuri gang-gang kecil untuk terakhir kalinya menuju auto rickshaw yang akan membawa kami ke airport. Saya cukup sedih melihat pemandangan terakhir yang saya lihat ketika berjalan melalui gang kecil meninggalkan Varanasi. Di salah satu sudut gang yang cukup panjang, duduk berjajar rapi sekitar 30 pengemis memakai baju lusuh lengkap dengan mangkuk logam di pangkuan paha mereka. Pemandangan yang sungguh memprihatinkan.

Auto rickshaw segera membawa kami ke airport. Terletak 18 km dari jantung kota Varanasi, dibutuhkan waktu hampir 1,5 jam untuk sampai di airport. Saya menikmati kombinasi kacaunya kemacetan lalu lintas di kota dan indahnya pemandangan daerah pedesaan sepanjang perjalanan ke airport.

Setelah sampai di airport, kami segera menuju check-in counter Kingfisher dan masing-masing kami mendapatkan dua boarding pass sekaligus. Satu untuk penerbangan Varanasi – New Delhi, dan satu lagi untuk penerbangan New Delhi – Jaipur.

Persis 1,5 jam terbang, pesawat mendarat dengan sempurna di New Delhi. Pesawat lanjutan saya ke Jaipur masih 3,5 jam lagi. Saya dan Denny memutuskan untuk mampir ke Toursim Office meminta pendapat mengenai objek wisata yang paling memungkinkan untuk bisa kami kunjungi dalam waktu yang sempit ini.

Menurut petugas Tourism Office, kami direkomendasikan untuk mengunjungi Qutab Minar. Walaupun tidak banyak tahu mengenai objek wisata ini, kami memutuskan untuk pergi kesana. Setelah membayar pre-paid taxi sebesar 310 Rupee, kami menuju ke Qutab Minar.

Kami membayar 250 Rupee per orang untuk masuk ke dalam Qutab Minar. Qutab Minar adalah sebuah kawasan bangunan mesjid yang terkenal dengan minaret setinggi 72.5 M terbuat dari bata merah dan penuh ukiran ayat-ayat Al-Quran yang sangat indah menghiasi beberapa bagian minaret.

Setelah puas melihat-lihat, kami keluar kawasan Qutab Minar menunggu Supir Taxi yang mengantarkan kami ke tempat ini, karena beliau sudah berjanji untuk menjemput kami kembali jam 5 sore. Tapi waktu sudah menunjukkan pukul 5:15 sore dan keberadaan beliau tidak bisa dideteksi di sekitar kawasan Qutab Minar. Saya cek ke daerah parkiran mobil tapi beliau memang tidak beredar sama sekali.

Kami memutuskan untuk memberhentikan sebuah taxi yang lewat, tapi Pak Supir meminta kami membayar 500 Rupee dan tidak bersedia melakukan tawar-menawar. Akhirnya kami membiarkan taxi ini pergi begitu saja dengan mengharapkan akan ada taxi yang lewat. Tapi hal itu merupakan sebuah KESALAHAN BESAR!! Karena setelah menunggu beberapa menit ke depan, hal itu tidak terjadi! Tidak ada satu taxi pun yang lewat!

Saya mulai panik dan bertanya kepada supir-supir auto rickshaw yang berada di sekitar situ untuk mengantarkan kami ke airport. Tapi sayangnya tidak ada yang bersedia. Aduh, saya udah mulai lemes banget. Waktu tetap berjalan, waktu boarding kami pun tinggal sejam lebih beberapa menit saja tapi kami masih tidak ada progress sama sekali.

Seorang penjual minuman lemon di pinggir jalan berusaha menenangkan saya. Dia memastikan saya akan membantu mencari taxi maupun auto rickshaw yang akan mengantar kami ke airport. Saya sudah pasrah dan mulai memutar otak untuk menyusun Plan B jika saya benar-benar akan ketinggalan pesawat. Tapi untungnya penjual minuman lemon yang baik hati itu benar-benar mendapatkan seorang supir auto rickshaw yang bersedia mengantarkan kami ke airport dengan biaya 200 Rupee. Saya tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada penjual minuman lemon tersebut.

Auto rickshaw kami pun meluncur dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota New Delhi. Tapi apesnya saat itu jam pulang kantor dan kemacetan pun terjadi dimana-mana. Auto rickshaw kami sedikit tersendat-sendat terjebak kemacetan New Delhi. GUBRAKK!!

Ketika kami bertanya “How long will it take to go to the airport?”
Pak Supir menjawab “Approximately one hour.”
Duuh, mudah-mudahan ini bukan perkiraan ala India yang biasanya selalu meleset jauh dari perkiraan!

Saya cuman bisa sok cool dan berdoa menyerahkan nasib saya pada kemacetan New Delhi dan Pak Supir. Untung saja kemacetan New Delhi tidak separah Jakarta. Semacet-macetnya, setiap kendaraan masih bisa berjalan lambat merayap dan biasanya kemacetan hanya terjadi di perempatan jalan karena menunggu lampu merah.

Memasuki tol, pak supir menancapkan gas-nya pada kecepatan maksimum yang akhirnya mengantarkan kami ke airport tepat 10 menit lebih cepat dari jadwal boarding kami. Waaaa, kami ga telat! Senangnya bukan main!

Kami segera menuju kawasan airport tempat dimana kami datang tadi sore. Hmm, tapi kayaknya ada yang salah. Lha, ini kan arrival section?!? Setelah bertanya kepada salah satu officer, dia menjawab “Departure section is in another building, next to this one.”

Huuuaaahhh..Amazing Race kedua hari ini DIMULAI!!!

Serentak kami berdua tanpa dikomando langsung berbalik arah dan LAAAAAAAAAAARRRRRRRRIIIIIIIII dengan kecepatan tinggi!!!!!!!!!

Tergopoh-gopoh kami sampai di Domestic departure section, memberikan boarding pass kami kepada petugas security di depan gate. Dengan polosnya beliau berkata “Flying Kingfisher? Departure section is at Level 2 – International lounge.”

WHAAAAATTTTT?????

Kami lari lagi menuju lift untuk naik ke level 2. Saat kami berlari, dari kejauhan kami melihat pintu lift sudah mulai tertutup dan kami berteriak “waaaaiiitttt upppp!!!!”..
Tapi tanpa belas kasihan tidak ada seorang pun yang berusaha menahan pintu lift supaya tetap terbuka. Pintu lift tertutup dengan manis persis di depan hidung kami saat kami sampai di depan pintu lift. SH***TT!!!

Otomatis kami segera memencet tombol lift berulang-ulang sampai akhirnya kami naik ke Level 2. Kami langsung berbaris di antrian security screening sambil mengecek departures monitor dimana boarding gate kami berada – T16. Setelah berhasil melewati screening section, kami langsung berlari menuju T16, memberikan boarding pass kami dan masuk ke bus.

Kami berdua cuman bisa terdiam dan mengatur napas kami yang tersenggal-senggal. Setelah berhasil menenangkan diri, kami berdua cuman bias saling pandang, ngakak-ngikik tidak karuan mengingat kejadian yang baru saja terjadi yang bisa mengakibatkan kami ketinggalan pesawat!!! Pppfffhh, untung saja hal itu ga kejadian!! Kami berdua pun sambil tertawa bersamaan berkata “We made it! HIGH FIVE!!”

Kebayang ga sih kalo saya sampe ketinggalan pesawat di New Delhi? Bisa hancur minah semua rencana spektakuler saya di India..

Lanjut yuukk...