Tips

Thursday, January 21, 2010

Belitung - Invisible yet Incredible..



Sejak menonton pelem LASKAR PELANGI, otomatis Belitung saya nobatkan sebagai salah satu destinasi domestik impian yang harus saya kunjungi. Ironisnya, sudah beberapa kali planning perjalanan saya ke Belitung gagal total karena saya suka sok sibuk di kantor dan salah satu alasan lain yang paling significant adalah saya BOKEK alias ga punya duid!

Berbulan-bulan gambaran pasir putih, birunya air laut, batu-batu granit yang spektakuler besarnya dan gagahnya mercusuar menari-nari di kepala saya. Tidak kuat menahan beban batin walopun dengan modal tabungan cekak, saya pun memutuskan untuk menunaikan perjalanan seru saya ke Belitung bersama Emmanuella, Novie, Savitri dan Gildas.

Bintang tamu perjalanan kali ini adalah Gildas, seorang French-Gabonese yang menjuluki Belitung sebagai “The Invisible Island”. Hanya dengan iman saja dia bersedia berlibur bersama kita walopun ketakutan setengah mati karena tidak tau menau mengenai keberadaan Belitung!


Sesampainya kami di Belitung, kami disambut oleh Pak TjeTjep. Beliau yang mengantarkan kami ngubek-ngubek Belitung selama 3 hari. Tak disangka tak diduga, Pak TjeTjep ikut terlibat dalam pembuatan pelem Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, jadi kami pun mendapatkan banyak cerita seru seputar pembuatan pelem.

Kami langsung menuju pantai Tanjung Tinggi. Salah satu lokasi pantai tempat pembuatan pelem, sampai-sampai ada plang bertuliskan “Lokasi Syuting Laskar Pelangi”. Berhubung hari itu adalah hari libur, jadi hampir seluruh populasi kota Belitung tumpek blek menghabiskan waktu berpiknik dan berenang di sekitar pantai. Luaarrr biasa ramenya kayak cendol!!

Menariknya, penduduk disana kalo berenang-berenang di pantai selalu memakai BAJU LENGKAP! Bikini is a BIG NO NO! Saya cukup terkesan karena Belitung masih jauh dari sentuhan pengaruh kebudayaan barat dan berharap mereka akan selalu menjaga kebiasaan ini.

Penampakan Tanjung Tinggi yang aseli dengan kombinasi pasir putih dengan air laut yang kehijau-hijauan juga batu-batu granit besar harus diakui sangat cantik. Otak saya dengan IQ jongkok ini tidak pernah habis berfikir bagaimana Tuhan bisa menciptakan segala sesuatunya dengan apik. Saya sungguh bersyukur masih bisa menikmati ciptaanNya.

Melihat anak-anak cowok lokal duduk manis di atas batu granit yang segede rumah itu, nyali saya jadi tertantang untuk ikutan nongkrong disana. BEGH, ternyata mo mencapai di atas sana perlu perjuangan. Harus loncat sana-sini, manjat batu sana-sini. Setengah perjalanan saya sudah mau menyerah karena medan pemanjatan semakin susah.Tapi, seorang anak membantu saya memanjat batu-batu yang curam itu dan akhirnya saya sampai juga di atas sana. Tentunya pemandangan dari atas sangat spektakuler!

Makan siang kami hari itu ditemani dengan angin kencang dan hujan badai. Tapi hal itu tidak membuat kami bersedih karena menu makan siang kami sungguh menarik. Ikan bakar dan goreng yang disajikan sangat fresh! Belum lagi kepiting saus tiram,tumis kangkung dan terong bakar! Tentunya tidak lupa ditemani air kelapa muda murni.. Yummy!

Setelah kenyang, kami pun meluncur ke Tanjung Kelayang Resort tempat dimana kami akan menginap. Kembali saya terpukau dengan keindahan alam yang disajikan pantai Tanjung Kelayang. Pasir putih yang lembut ditemani dengan jejeran nyiur melambai menari-nari di depan mata saya. Tampak di kejauhan beberapa batu granit besar berbentuk burung menambah indahnya pantai yang tenang ini.

Kami pun menghabiskan sore dengan berenang-renang di sekitar pantai. Tak lama kami melihat para nelayan mulai kembali dari memancing ikan. Sungguh pemandangan yang unik… tapi… kenapa mereka seliweran cuman pake celana dalem doang? Terus kenapa mereka ga malu sama kita seliweran dengan celana dalem doang? Mo diliat ntar bintitan.. Mo ga diliat tapi di depan mata? Ah..Serba salah..

Besoknya, jam 3 pagi kami semua sudah grasak-grusuk cuci muka dan sikat gigi karena kami harus ke Pantai Manggar yang harus ditempuh dalam waktu 2 jam. Kebetulan, kami semua sunrise junkies yang bersedia bangun pagi-pagi buta demi sunrise. Tentunya kami melanjutkan tidur kami di mobil dan menyerahkan tugas menyetir kepada pak TjeTjep.

Saat kami sampai di Pantai Manggar, matahari sudah mulai muncul sedikit demi sedikit dan tampak anggun menunjukkan sinarnya yang keemasan.Otomatis, kami semua terbuai sibuk jeprat-jepret.. Sampai akhirnya Emmanuella berteriak “aku nginjek e’ek!!” Barulah kami sadar kalo banyak e’ek manusia dimana-mana. Lha, ini apa penduduk lokal demen e’ek berjamaah ato emang tradisi? Apapun jawabannya, tetep banyak e’ek dimana-mana!!!

Dalam perjalanan pulang, Pak TjeTjep membawa kami berputar-putar untuk napak tilas Laskar Pelangi. Kami melewati rumah Bu Mus, area sekolah, pasar Manggar dan pabrik Timah. Setelah puas napak tilas, kami juga mampir di Danau Kaolin yang merupakan danau buatan hasil kerukan timah dengan warna airnya yang kehijau-hijauan.

Highlight perjalanan kami adalah mengunjungi Pantai Lengkuas di hari terakhir. Jam 6 pagi kami sudah duduk manis di boat yang akan membawa kami kesana selama kurang lebih 45 menit. Cuaca hari itu memang agak sedikit mendung, jadi imbasnya angin kenceng dan ombak tinggi membuat kapal kecil yang kami tumpangi oleng kesana kemari. Walopun tampang kami semua sok cool, tapi dalam hati udah pada ketar-ketir semua. Haha!

Untuk sampai ke Pantai Lengkuas, kami melewati beberapa Pulau cantik lainnya seperti Pulau Burung, Pulau Kelayang Besar, Pulau Babi dan Sand bar Island. Tampak dari jauh batu-batu granit bertebaran dimana-mana membentuk suatu formasi yang artistik dan menarik.

Seperti khasnya pantai lain di Belitung, Pantai Lengkuas juga memiliki pasir putih dan disekitar pantai dihiasi dengan batu-batu granit besar. Tapi yang membuat pantai ini lebih adalah sebuah mercusuar berlantai 18 berdiri dengan gagah disana. Mercusuar ini dibangun pada tahun 1882, sejak jaman penjajahan belanda tapi dirawat dengan baik sehingga sampai saat ini mercusuar ini masih dioperasikan.

Kami menyusuri tiap tangga satu persatu sampai ke lantai 18. Tingginya mintaa ammppYyunn dan tentunya bikin betis medadak mengencang dan nafas ngos-ngosan..

Tapi sampai diatas sana saya terperangah.. Saya ga perlu menjelaskan gimana indahnya pemandangan sekitar Pantai Lengkuas dari atas mercusuar. Walaupun kaki saya gemeteran dan detak jantung saya mendadak kenceng gara-gara takut ketinggian, tapi saya bersyukur bisa menikmati keindahan Tuhan dari atas sana.

Waktu saja yang membuat kami harus meninggalkan Belitung dengan pantainya yang indah. Rasanya berat sekali meninggalkan pulau kecil yang indah ini.. yang belum terjamah oleh modernisasi maupun ekspoloitasi dunia pariwisata ini..

Saya pun akhinya memberikan lambaian terakhir kepada Belitung dari kaca pesawat.
Termenung.
Dan berjanji akan kembali lagi ke Belitung..





Lanjut yuukk...