Liburan long weekend beberapa bulan lalu, saya dan Emma - temen seperjuangan dalam dunia per-traveling-an membuat last minute decision untuk pergi ke Bali! Woo hooo! Tentunya karena last minute kami berdua tidak melakukan perencanaan yang super heboh seperti layaknya beberapa perjalanan kami sebelumnya. Modal kami hanya ticket pesawat Jakarta – Bali – Jakarta. Kami ga booking tempat tinggal, karena tempat tinggal murah meriah di daerah Poppies memang tidak menerima reservation by phone. Artinya, kami harus super sakti mandraguna untuk mendapatkan tempat berteduh selama di Bali. Fingers crossed!
Dengan modal dua backpack butut dan sandal jepit yang hampir jebol, sore menjelang malam itu kami berdua membelah lalu lintas Jakarta yang cukup padat menuju airport. Untungnya kami sampai di airport tepat waktu dan apesnya pesawat kami tertunda selama 1 jam lebih!
Setelah mendarat di Bandara Ngurah Rai jam 12:30 malam, kami segera menuju Taxi Service counter yang berada di pintu area kedatangan. Membayar Rp. 50,000 dan segera meluncur menuju ke daerah Kuta dan berhenti tepat di mulut gang Poppies I. Jalanan sudah sepi dan tampak tidak ada kehidupan. Hanya beberapa bule mabok yang sudah tak sadarkan diri meracau tidak jelas dan segelintir orang lokal yang sibuk menawarkan tempat penginapan.
Setelah berjalan lebih dari 1 jam, target kami untuk mendapatkan tempat tinggal di daerah Poppies tidak membawa hasil. Kami menyerah dan memutuskan untuk menginap di hostel dengan harga Rp. 150,000 semalam di daerah Legian.
Keesokan harinya, sehabis bangun tidur kuterus mandi tidak lupa menggosok gigi, kami berdua menyusuri daerah Legian menuju Kuta melalui Poppies II sekalian mencari alternative penginapan murah meriah. Kami berhasil mendapatkan kamar di Dua Dara Inn, penginapan ala backpacker yang memang sudah saya incar saat melakukan research di internet. Dengan 125,000 semalam, kami mendapatkan kamar dengan kipas angin, breakfast untuk 2 orang dan ada kolam renangnya!! Woo hoo!!
Setelah check-out dari penginapan di Legian, kami segera check-in di Dua Dara Inn dan menyewa motor dengan harga Rp. 50,000/24 jam. Tentunya saya tidak tahu menahu mengenai jalan-jalan di Bali. Agar tidak tersesat di jalan, kami membekali diri dengan peta Bali gratisan dan sejuta wangsit dari resepsionis Dua Dara Inn yang ca’ur abis. Kami pun siap memulai petualangan bodor kami!
Walopun sedikit grogi mengemudikan motor di lalu lintas Bali yang cukup padat, tapi saya berhasil sampai di Pantai Padang-Padang membonceng Emma dengan selamat sentausa tanpa tersesat dan lecet sedikitpun!
Saya suka Pantai Padang-Padang. Ada beberapa batuan cadas besar di sekitar pantai, dimana beberapa orang didapati sedang nongkrong dengan asik di atasnya sambil memancing ikan. Walaupun pantainya tidak besar, tapi pasir putihnya tampak bersih dan indah. Selain itu, Pantai Padang-Padang juga tidak terlalu ramai pengunjung. Buat saya, ini merupakan tempat yang tepat buat berleha-leha dan bermeditasi di bawah sinar matahari sambil memperhatikan para surfers yang sedang sibuk berjuang menaklukkan ombak.
Setelah puas menghitamkan diri, menjelang sore kami lengser meninggalkan Pantai Padang-Padang menuju Uluwatu untuk melihat pertunjukan Tari Kecak Ramayana saat matahari terbenam. Sayangnya, sore itu mendung dan angin agak kencang, jadi matahari terbenam pun tak begitu terlihat. Saat kami sampai disana, jejeran tempat duduk yang mengelilingi panggung berbentuk oval tempat dimana pertunjukan akan berlangsung sudah banyak dipenuhi oleh turis lokal maupun interlokal. Walaupun tampaknya badai topan akan menerpa, untungnya pertunjukan tari kecak tetap berlangsung.
Ini bukan pertama kalinya saya melihat pertunjukan tari kecak. Tapi saya tetap menikmati setiap detail yang disajikan dengan apik oleh para penarinya. Sungguh unik dan memesona! Puluhan laki-laki dengan gerakan yang rapi dan kompak menyanyikan bunyi-bunyian tertentu dengan harmoni yang sempurna melakukan tari kecak sembari cerita Ramayana disampaikan dalam bentuk tarian yang lemah gemulai.
SPEKTAKULERNYA, di tengah-tengah pertunjukan hujan deras turun!! Penonton yang lain dengan sigap membuka payung yang sudah mereka siapkan dengan manisnya. Kami berdua, backpacker kere yang memang tidak pernah mempersiapkan apapun saat travel hanya nyegir kuda keguyur air hujan berember-ember sambil tetap tekun menikmati pertunjukan.
Setelah pertunjukan tari kecak berakhir, kami langsung pulang kembali ke penginapan dan segera bersiap untuk makan malam di daerah Legian. Keriaan, keramaian, kegemerlapan dan kehingar-bingaran daerah Legian yang memang dipenuhi jajaran resto bar funky seakan menyihir dan menyeret kami berdua untuk tidak melewatkan kesempatan clubbing malam itu.
Kami memilih untuk memasuki salah satu club yang tampaknya cukup “happening” dengan sajian live music dari band local yang berhasil menggoncang seantero isi club untuk bergoyang. Kerumunan orang-orang ber-ajojing-ria di depan stage dengan penuh semangat. Saya perhatikan dari kejauhan, di salah satu sudut club ada satu group bule yang menurut saya cukup heboh dan fun. 4 cowok dan 1 cewek. Saya hanya tersenyum simpul melihat tingkah dan kelakuan mereka yang konyol sambil menari-nari di dance floor.
Lagu-lagu yang disajikan mulai memanas, membuat pertahanan saya luluh lantak untuk tidak bergabung menari-nari dengan kerumunan tersebut. Namanya juga kerumunan, baru goyang dikit saja saya sudah senggol sana sini sampai akhirnya tak sengaja menyenggol 1 cewek dari group heboh dan fun itu. Saya hanya tersenyum dan bilang “sorry” abis itu saya asik berjoget-joget sendiri. Tiba-tiba rombongan sirkus yang heboh dan fun itu sudah bergabung menari-nari di sekitar saya dan Emma. Akhirnya kami semua pun ajrut-ajrutan bareng di dance floor. 1 cewek ini doyan banget joget sama saya. Dia ngikutin tiap gerakan yang saya buat walopun seaneh apapun! Dan bawaanya jadi ngintilin saya kemana saya pergi. Saya tidak curiga..
Karena kecapean, maka saya memberikan kode kepada Emma agar beranjak meninggalkan kerumunan untuk break dan minum. Saat kami lagi asik menikmati minuman, cewek yang dari tadi ngintilin saya ini sudah berdiri di belakang saya dan dia pun mulai “menggerayangi” punggung saya…
AMMMPPUUUNNNNN!!!! DIA PIKIR SAYA LESBIANNNN APAAAA???????
Mata saya melotot dan hampir tersedak. Dalam kepanikan, saya langsung berbalik badan dan tersenyum hanya bisa berkata “sorry’” saking lemesnya. Setelah itu saya langsung berbisik pada Emma “We need to get out of this place N O W!”
Saat cewek bule ini meleng dikit, saya dan Emma langsung melesat pergi. Setelah menceritakan apa yang terjadi, kami dikawal dengan security guard keluar club melalui pintu belakang sambil sembunyi-sembunyi menghindar dari rombongan sirkus itu! Dari kejauhan, kami melihat mereka pun keluar dari club berusaha mencari kami.
Saya shock, tapi masih ingin melanjutkan aktifitas clubbing. Kami berdua diam-diam main petak umpet dengan rombongan sirkus ini. Mereka berjalan di seberang kiri jalan, kami berjalan di seberang kanan sambil berusaha menutupi diri kami di balik setiap kerumunan yang ada. Mereka masuk club A, kami masuk club B. Pokoknya kami mengatur strategi supaya jangan sampe ketangkep! Bisa hancur minah!
Saat berjalan pulang, mendadak kami berdua melihat rombongan sirkus sedang berjalan menuju ke arah kami dan mereka berada hanya beberapa meter dari tempat dimana kami sedang berdiri. Saya pucat pasi! Rasanya mau mati berdiri!! Untungnya, mereka mabok dan tidak begitu memperhatikan. Maka kami berdua otomatis bereaksi cepat dan ngumpet di balik motor terdekat! Sambil berdoa jangan sampe ketauan!
Setelah mereka lewat dan merasa keadaan sudah aman, kami berdua pun melanjutkan perjalanan kembali pulang ke penginapan dengan kedamaian. Ugh, what a day! Siapa yang nyangka setelah menikmati keindahan Pantai Padang-Padang dan tari kecak di Uluwatu seharian, saya harus mengakhiri hari ini diincer sama lesbian!
But don’t get me wrong ya, saya tidak mendiskriminasikan sexual orientation siapa pun lewat cerita gokil saya ini. Buat saya, kok rasanya aneh banget dan geli dan gerah ya digerayangi sesama jenis. *Duh, ga mau ngebayangin lagi*
Tapi pengalaman unik ini menyadarkan saya, ternyata saya masih doyan cowok!!!
Dengan modal dua backpack butut dan sandal jepit yang hampir jebol, sore menjelang malam itu kami berdua membelah lalu lintas Jakarta yang cukup padat menuju airport. Untungnya kami sampai di airport tepat waktu dan apesnya pesawat kami tertunda selama 1 jam lebih!
Setelah mendarat di Bandara Ngurah Rai jam 12:30 malam, kami segera menuju Taxi Service counter yang berada di pintu area kedatangan. Membayar Rp. 50,000 dan segera meluncur menuju ke daerah Kuta dan berhenti tepat di mulut gang Poppies I. Jalanan sudah sepi dan tampak tidak ada kehidupan. Hanya beberapa bule mabok yang sudah tak sadarkan diri meracau tidak jelas dan segelintir orang lokal yang sibuk menawarkan tempat penginapan.
Setelah berjalan lebih dari 1 jam, target kami untuk mendapatkan tempat tinggal di daerah Poppies tidak membawa hasil. Kami menyerah dan memutuskan untuk menginap di hostel dengan harga Rp. 150,000 semalam di daerah Legian.
Keesokan harinya, sehabis bangun tidur kuterus mandi tidak lupa menggosok gigi, kami berdua menyusuri daerah Legian menuju Kuta melalui Poppies II sekalian mencari alternative penginapan murah meriah. Kami berhasil mendapatkan kamar di Dua Dara Inn, penginapan ala backpacker yang memang sudah saya incar saat melakukan research di internet. Dengan 125,000 semalam, kami mendapatkan kamar dengan kipas angin, breakfast untuk 2 orang dan ada kolam renangnya!! Woo hoo!!
Setelah check-out dari penginapan di Legian, kami segera check-in di Dua Dara Inn dan menyewa motor dengan harga Rp. 50,000/24 jam. Tentunya saya tidak tahu menahu mengenai jalan-jalan di Bali. Agar tidak tersesat di jalan, kami membekali diri dengan peta Bali gratisan dan sejuta wangsit dari resepsionis Dua Dara Inn yang ca’ur abis. Kami pun siap memulai petualangan bodor kami!
Walopun sedikit grogi mengemudikan motor di lalu lintas Bali yang cukup padat, tapi saya berhasil sampai di Pantai Padang-Padang membonceng Emma dengan selamat sentausa tanpa tersesat dan lecet sedikitpun!
Saya suka Pantai Padang-Padang. Ada beberapa batuan cadas besar di sekitar pantai, dimana beberapa orang didapati sedang nongkrong dengan asik di atasnya sambil memancing ikan. Walaupun pantainya tidak besar, tapi pasir putihnya tampak bersih dan indah. Selain itu, Pantai Padang-Padang juga tidak terlalu ramai pengunjung. Buat saya, ini merupakan tempat yang tepat buat berleha-leha dan bermeditasi di bawah sinar matahari sambil memperhatikan para surfers yang sedang sibuk berjuang menaklukkan ombak.
Setelah puas menghitamkan diri, menjelang sore kami lengser meninggalkan Pantai Padang-Padang menuju Uluwatu untuk melihat pertunjukan Tari Kecak Ramayana saat matahari terbenam. Sayangnya, sore itu mendung dan angin agak kencang, jadi matahari terbenam pun tak begitu terlihat. Saat kami sampai disana, jejeran tempat duduk yang mengelilingi panggung berbentuk oval tempat dimana pertunjukan akan berlangsung sudah banyak dipenuhi oleh turis lokal maupun interlokal. Walaupun tampaknya badai topan akan menerpa, untungnya pertunjukan tari kecak tetap berlangsung.
Ini bukan pertama kalinya saya melihat pertunjukan tari kecak. Tapi saya tetap menikmati setiap detail yang disajikan dengan apik oleh para penarinya. Sungguh unik dan memesona! Puluhan laki-laki dengan gerakan yang rapi dan kompak menyanyikan bunyi-bunyian tertentu dengan harmoni yang sempurna melakukan tari kecak sembari cerita Ramayana disampaikan dalam bentuk tarian yang lemah gemulai.
SPEKTAKULERNYA, di tengah-tengah pertunjukan hujan deras turun!! Penonton yang lain dengan sigap membuka payung yang sudah mereka siapkan dengan manisnya. Kami berdua, backpacker kere yang memang tidak pernah mempersiapkan apapun saat travel hanya nyegir kuda keguyur air hujan berember-ember sambil tetap tekun menikmati pertunjukan.
Setelah pertunjukan tari kecak berakhir, kami langsung pulang kembali ke penginapan dan segera bersiap untuk makan malam di daerah Legian. Keriaan, keramaian, kegemerlapan dan kehingar-bingaran daerah Legian yang memang dipenuhi jajaran resto bar funky seakan menyihir dan menyeret kami berdua untuk tidak melewatkan kesempatan clubbing malam itu.
Kami memilih untuk memasuki salah satu club yang tampaknya cukup “happening” dengan sajian live music dari band local yang berhasil menggoncang seantero isi club untuk bergoyang. Kerumunan orang-orang ber-ajojing-ria di depan stage dengan penuh semangat. Saya perhatikan dari kejauhan, di salah satu sudut club ada satu group bule yang menurut saya cukup heboh dan fun. 4 cowok dan 1 cewek. Saya hanya tersenyum simpul melihat tingkah dan kelakuan mereka yang konyol sambil menari-nari di dance floor.
Lagu-lagu yang disajikan mulai memanas, membuat pertahanan saya luluh lantak untuk tidak bergabung menari-nari dengan kerumunan tersebut. Namanya juga kerumunan, baru goyang dikit saja saya sudah senggol sana sini sampai akhirnya tak sengaja menyenggol 1 cewek dari group heboh dan fun itu. Saya hanya tersenyum dan bilang “sorry” abis itu saya asik berjoget-joget sendiri. Tiba-tiba rombongan sirkus yang heboh dan fun itu sudah bergabung menari-nari di sekitar saya dan Emma. Akhirnya kami semua pun ajrut-ajrutan bareng di dance floor. 1 cewek ini doyan banget joget sama saya. Dia ngikutin tiap gerakan yang saya buat walopun seaneh apapun! Dan bawaanya jadi ngintilin saya kemana saya pergi. Saya tidak curiga..
Karena kecapean, maka saya memberikan kode kepada Emma agar beranjak meninggalkan kerumunan untuk break dan minum. Saat kami lagi asik menikmati minuman, cewek yang dari tadi ngintilin saya ini sudah berdiri di belakang saya dan dia pun mulai “menggerayangi” punggung saya…
AMMMPPUUUNNNNN!!!! DIA PIKIR SAYA LESBIANNNN APAAAA???????
Mata saya melotot dan hampir tersedak. Dalam kepanikan, saya langsung berbalik badan dan tersenyum hanya bisa berkata “sorry’” saking lemesnya. Setelah itu saya langsung berbisik pada Emma “We need to get out of this place N O W!”
Saat cewek bule ini meleng dikit, saya dan Emma langsung melesat pergi. Setelah menceritakan apa yang terjadi, kami dikawal dengan security guard keluar club melalui pintu belakang sambil sembunyi-sembunyi menghindar dari rombongan sirkus itu! Dari kejauhan, kami melihat mereka pun keluar dari club berusaha mencari kami.
Saya shock, tapi masih ingin melanjutkan aktifitas clubbing. Kami berdua diam-diam main petak umpet dengan rombongan sirkus ini. Mereka berjalan di seberang kiri jalan, kami berjalan di seberang kanan sambil berusaha menutupi diri kami di balik setiap kerumunan yang ada. Mereka masuk club A, kami masuk club B. Pokoknya kami mengatur strategi supaya jangan sampe ketangkep! Bisa hancur minah!
Saat berjalan pulang, mendadak kami berdua melihat rombongan sirkus sedang berjalan menuju ke arah kami dan mereka berada hanya beberapa meter dari tempat dimana kami sedang berdiri. Saya pucat pasi! Rasanya mau mati berdiri!! Untungnya, mereka mabok dan tidak begitu memperhatikan. Maka kami berdua otomatis bereaksi cepat dan ngumpet di balik motor terdekat! Sambil berdoa jangan sampe ketauan!
Setelah mereka lewat dan merasa keadaan sudah aman, kami berdua pun melanjutkan perjalanan kembali pulang ke penginapan dengan kedamaian. Ugh, what a day! Siapa yang nyangka setelah menikmati keindahan Pantai Padang-Padang dan tari kecak di Uluwatu seharian, saya harus mengakhiri hari ini diincer sama lesbian!
But don’t get me wrong ya, saya tidak mendiskriminasikan sexual orientation siapa pun lewat cerita gokil saya ini. Buat saya, kok rasanya aneh banget dan geli dan gerah ya digerayangi sesama jenis. *Duh, ga mau ngebayangin lagi*
Tapi pengalaman unik ini menyadarkan saya, ternyata saya masih doyan cowok!!!


.pengalaman menarik... pasti cewek bule itu melihat bidadari kali yak... xixixiix
ReplyDeletewakakakakakak, rofl lmao..... gua suka kesimpulannya Ret..... udah lama gua ga ngakak bareng lu :p
ReplyDeletebaru dari bali ya mbak? pasti seru deh..
ReplyDeleteSelamat Rin! Ternyata elo laku di kedua belah kutub! Huahahaha!
ReplyDeletelike!
ReplyDeleteHuahahahaaaa,,,, kocak abisss,,,
ReplyDeleteYa paling ga jg mst bersukur, ada yg naksir walopun lebong huahahahaaa,,,,
Btw, pantai padang-padang tu sebelah mana ya?
hwuuuuaaa.... ikut deg deg-an bacanya, kuatir ktemu lagi... hehehe.. Kayanya emang perlu "bodyguard" tuh mb... :)
ReplyDeletepasti seru tuh kayak di film2......
ReplyDeletesi jagoan dikejar sama setan laper......
wkwkwkwkwk
ohohoy, saya jg pernah punya pengalaman yg sama tuh mbak...jd bs ngebayanginlaaahhh gmn rasanya :D
ReplyDeletekwkwkkwk, hancur minah banget!
ReplyDeletemending digodain bencong kalee ya kwkwk
what u mean dengan suksaes "menghitamkan" tubuh? masih kurang? jiakakakakakkk @ngumpet dalam kulkas.
ReplyDeleteidihhhhh, mau dong diajak traveling kesana, biar diincer gay, wakakakakakakakakakakkkkkkkkk
eh jgn lupa ambil award di tempat gw. gratis dan halal
ReplyDeletehadeh, enaknya yang jalan ke Bali...
ReplyDeleteHai,
ReplyDeleteSudah lama aku nggak blogwalking. Karena memang dah lama juga nggak blogging. Hehehehehe.... Datang sekedar menyapa. Semoga dirimu sehat dan selalu bahagia.... dan semoga belum lupa dengan persahabatan kita.
:)
Salam,
Ninneta
kikikikkkkkk embweeerrr daripada diincer lesbi mendingan kamu diincer sama bule sapa dulu tuh mba yg di vietnam, yg ngajak dinner berduaan n melintasi sungai mekhong ituuu... :D
ReplyDeleteterima kasih nih gan buat infonya semoga bermanfaat sekali gan, salam kenal aja gan
ReplyDeletebuku ttg travelling ke Indianya keren mbak..
ReplyDeletesalam kenal
follow balik ya mbak..
All that neat writing about visiting Bali and the only takeaway you emphasized is being seduced by a drunk dyke? Sad.
ReplyDeleteDear anonymous,
ReplyDeleteAll that beautiful things she wrote about Bali and the only thing you remember is the drunk dyke? Sadder!
. thanks atas info nya
ReplyDelete. semoga sukses selalu