Tips

Monday, November 16, 2009

Sian Seru Baren Cipu..



Jangang bingun kalo saya nulis dengang logat yan aneh. Inilah akibat jalang-jalang dengang Cipu selama sehari. Saya ketularang jadi oran Makassar. Kalo kaliang sadar, oran Makassar punya kebiasaang unik. Mereka selalu menambah kata yan berakhirang N dengang NG dang mengurangi kata berakhirang NG dengang N. Menurut Cipu, ini yan mereka bilan sebagai OKKOTS. Aneh bukannngggg???

Kemareng sepanjan hari saya cumang bisa ketawa-ketawa kegeliang gara-gara cerita-cerita lucu Cipu seputar Okkots. Salah satu ceritanya yan lucu sampai membuat saya gulin-gulin ketawa di busway adalah ketika Cipu menceritakang mengenai sebuah konser dengang bintan tamu sebuah bang lokal. Malam itu san vocalist dengang bersemangat menyapa para penggemarnya..
Vocalist: “Apa kabar kaliaNG yan di UJUN????”
Penggemar : “amaaannnnnnGGGGGGGG….”

GUBRAKZZZ...Wakakakakakakakakaka..

Tentunya tulisang ini tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkang oran Makassar. Sebaliknya, saya inging memberikang apresiasi tertinggi karena keunikang mereka. Sekaran yan ada saya malah jadi ketagihang berbicara Okkots. Haha!

Kemareng saya juga sempat mencicipi makanang khas Makassar yaitu Mie Kerin di Kedai Pelangi daerah Jaksa. Rasanya TOB BANGET! Kuahnya dan Mie Kerin yan disajikang menggugah selera. Enak sekali temang-temang! WAJIB dicoba!

Perjalanang kami lanjutkang ke daerah Matramang karena Cipu mau membeli buku komik di Gramedia. Selaing melihat-lihat buku, kami berdua juga mampir ke counter Eiger. Dengang senan hati saya meracuni Cipu untuk membeli backpack kecil yan sama dengang saya walopung warnanya berbeda. Dang kalo kaliang membaca blog Cipu, kami juga menemukang sebuah notes kecil dengang harga yan sangat murah!

Setelah lelah berlari-lari mengejar busway dang haha hihi di busway, kami memutuskang untuk pulan ke rumah masin-masin. Setelah mengucapkang “see you later” akhirnya kami berpisah di halte busway GOR SUMANTRI.

Yan pasti kami akan jalang-jalang wisata kuliner di daerah seputarang Jakarta secara regular. Jadi jika temang-temang berminat untuk bergabun, kami akang dengang senan hati menerima kehadirang kaliang semua.

Cipu, thanks for a nice afternoon ang the treat. Cang wait to meet you againg!

THE ENGGG!



Lanjut yuukk...

Tuesday, September 29, 2009

Berlayar menuju Siam Reap..


*Liputan dari Cambodia


Jam 6 TENG dengan sangat tidak sopan alarm saya berbunyi kenceng banget! Walopun hati setengah kesel tapi saya kegirangan juga mengingat pagi itu saya akan melanjutkan perjalanan ke Siem Reap naek kapal!!!

Memang ada dua alternative alat transportasi ke Siem Reap dari Phnom Phen maupun sebaliknya. Bisa naek bus atau kapal. Hari itu saya memutuskan untuk naek kapal walopun harganya jauh lebih mahal dari bus. Bukan sok kaya, tapi saya pengen ngerasain traveling dengan berbagai macam alternative alat transportasi biar pengalaman traveling saya makin seru. Kalo seandainya bisa naek kuda ke Siem Reap, pasti saya jabanin!! Haha!

Saya sampe di pelabuhan setengah jam sebelum kapal diberangkatkan. Saya langsung menuju dek belakang tempat dimana semua barang bawaan disimpan. Setelah itu saya masuk ke kapal. Kapalnya cukup besar dan tiap sisinya ada 3 tempat duduk. Saya menuju tempat duduk saya yang letaknya di deket jendela. Sambil nunggu waktu, saya perhatiin orang-orang yang pada mulai dateng. Saya liat ada dua cowok bule dateng pake jaket gunung yang tebelll banget! Saya ketawa ngakak sendiri! “Doh, heboh banget sih mas..emang mo kemana?? Mau maen salju di Cambodia? Salah kostum banget sih mas!!”

Menurut rekomendasi dari seorang temen baik yang pernah melakukan perjalanan ke Siem Reap naek speed boat, saya diingatkan untuk TIDAK DUDUK DI DALAM KAPAL. Tempat duduk paling strategis untuk menikmati pemandangan dan potret memotret berada di atap kapal. Jadi waktu pak nahkoda membunyikan lonceng tanda keberangkatan, saya beranjak dari tempat duduk, keluar kapal menuju atap kapal.

Doh, mo menuju kesana aja penuh perjuangan! Cuman ada sisa space sebesar setapak kaki di sisi kapal dan ga ada pegangan sama sekali! Tangga mo naek ke atap kapal juga ga ada. Kalo kecebur bukan hanya MALU tapi udah pasti ditinggal terlantar di tengah sungai! DOUBLE kan MALUnya? Jadi semua orang pada lompat jumpalitan sekuat tenaga dan super hati-hati untuk mencapai atap kapal. Perjuangan berat kami semua ga sia-sia. Pemandangan yang disuguhkan di kedua sisi sungai bener-bener indah..

Aktifitas para penduduk lokal sebagai petani dan nelayan bisa diliat dalam jarak deket. Jejeran rumah panggung disisi sungai menambah kesan kesederhanaan orang-orang Cambodia. Belum lagi kuil-kuil Buddha yang bisa diliat di beberapa daerah, juga hamparan sawah hijau membuat perjalanan di kapal jadi lebih menyenangkan.

Saya ga pernah nyangka kalo di bulan Desember adalah musim monsoon di Cambodia, jadi suhu udara bisa berubah drastis dari super hangat mendadak super dingin. Dan itulah yang terjadi di tengah perjalanan. 2 jam pertama menikmati keindahan Cambodia, matahari mendadak menghilang di balik awan dan suhu udara turun jadi diiinngggiiinnnn sekali!! Dengan persiapan yang sangat minim, saya cuman punya jaket tipis setipis kulit lumpia!! Brrr, SAYA KEDINGINAN. Tampaknya penumpang yang laen udah siap sedia dengan jaket tebel, terutama dua mas-mas yang saya ketawain tadi pagi. SAYA KUWALAT sodara-sodara!! Wekekekeke!

Karena ga kuat kedinginnan, akhirnya saya harus rela lengser dan masuk lagi ke dalam kapal. Bengong dan mati gaya di dalam kapal, saya malah ketiduran. Waktu saya bangun, saya langsung keluar menuju dek kapal. Ternyata pas banget karena kapal sedang menyusuri the famous floating village of Chong Kneas yang berada di danau Tonle Sap. Hutan bakau ada di kedua sisi danau dan banyak rumah apung di sekitar area. Anak-anak kecil pada berenang di air danau yang kecoklat-coklatan sambil melambaikan tangan ke arah kapal. Kita pun dengan norak-norak bergembira membalas lambaian tangan mereka! Ga lama setelah itu, kami merapat di pelabuhan Phnom Krom.

Setelah ngambil backpack, saya langsung melompat ke daratan. Jejeran abang ojek sama abang tuk-tuk udah ada dimana-mana. Setelah tawar-menawar dengan tukang ojek, akhirnya saya bayar $1 untuk diantar ke jantung kota Siem Reap yang letaknya kurang lebih 20 menit dari pelabuhan. Ojek meluncur lancar jaya menyusuri beberapa daerah pedesaan mengantar saya ke backpacker area.

Saya ga nyesel bayar mahal berlayar ke Siem Reap karena itu semua adalah awal mula kegembiraan dan keceriaan petualangan saya. 5 hari liburan saya di Cambodia merupakan sebuah pengalaman indah yang membukakan mata saya untuk menikmati keindahan bangunan bersejarah, mempelajari sebagian kecil sejarah tragis cambodia dan kebahagiaan untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan kasih sayang..







Lanjut yuukk...

Wednesday, September 9, 2009

One Fine Day in Phnom Phen..

*Liputan dari Cambodia

left - right : Independence Monument - Central Market Dome

MateK! Itu reaksi pertama saya waktu turun dari bus. Saya langsung kebingungan karena baru sadar kalo kami ga berhenti di terminal bus, tapi di salah satu sudut kota di depan sebuah hostel. Apesnya lagi, saya ga punya peta Phnom Phen dan satu-satunya peta yang bisa saya andalkan adalah dari buku Lonely Planet. Tapi gambar peta di buku juga burem, abis saya cuman beli yang bajakan seharga $4! Hahaha..orang Indonesia banget ga seh saya??

Akhirnya saya memutuskan untuk mampir ke hostel itu. Basa-basi aja saya tanya harga kamar, karena tujuan akhir sebenarnya mo minta peta Phnom Phen. Melalui reseach dari internet dan rekomendasi temen yang sudah pernah ke Phnom Phen, tempat backpacker yang murah dan asik adalah di area riverfront dan saya yakin banget bukan di daerah dimana hostel itu berada. Boro-boro liat sungai, paret aja ga ada??

Setelah dapet peta, saya pelajari dimana saya berada saat itu dan akan kemana arah jalan saya menuju riverfront. Waktu saya mau pergi, staff hostel nanya kenapa saya ga mau tinggal disitu. Saya cuman bilang kalo mo tinggal di daerah riverfront. Dengan muka ketauan boong dia bilang “that area had been demolished”. Saya hanya tersenyum sopan dan melenggang pergi meninggalkan hostel.

Dengan modal satu peta di tangan, saya memilih untuk berjalan kaki daripada naik tuk-tuk dengan menggendong backpack 40 liter saya yang berat itu. Bukan karena pelit, tapi temen saya bilang kalo Phnom Phen bukan kota besar, jadi diputerin jalan kaki dalam sehari juga cukup. Kebetulan untuk menuju riverfront saya akan melewati banyak tempat penting. Jadi kenapa ga jalan kaki aja??

Bener-bener berbeda dengan Saigon, yang notabene kota besar dan penduduk lokalnya cenderung kurang ramah dan super cuek, kesan pertama saya mengenai Cambodia adalah kehangatan penduduk lokal yang sangat tulus. Hampir setiap orang yang berpapasan dengan saya selalu tersenyum dan mengucapkan salam. Beberapa supir ojek berhenti menawarkan jasa mereka. Saya cuman senyum dan bilang “No, thank you” dengan sopan. Reaksi mereka hanya mengangguk sopan dan pergi. Sungguh berbeda dari tabiat para ojekERS di Indonesia yang biasanya keUkeUh sumekeUh ngintil kita kemana aja ampe kita jadi salah tingkah..

Tempat perhentian pertama saya adalah Independence Monument. Sebuah monument berbentuk replika Angkor Wat yang dibangun tahun 1958 sebagai simbol kebebasan dari penjajahan Perancis tahun 1953. Setelah puas jeprat-jepret di daerah monument, saya meneruskan berjalan menuju Royal Palace. Di tengah perjalanan, saya bertemu dengan seorang mahasiswa yang berbaik hati menemani saya berjalan karena jaraknya cukup jauh. Dia nanya “Can I practice my English with you?” DOWWEEWW, saya pengen ketawa! Belom tau dia kalo bahasa inggris saya juga kacau balau! Pas dia tau kalo saya dari Indonesia, dia langsung bengong dan merogoh sesuatu dari tasnya. Dia ngeluarin sebuah undangan berlogo Garuda emas. Terus dia jelasin kalo dia adalah mahasiswa berprestasi yang mendapat kehormatan diundang untuk hadir di acara kebudayaan Indonesia oleh KBRI. TOB banget ga seh?? Pembicaraan kami jadi seru soal Indonesia walopun dengan Inggris yang belepotan dan patah-patah. Setelah sampai di Royal Palace kami pun berpisah. Apesnya, malem itu akan ada acara kenegaraan jadi Royal Palace ditutup. BEGH, udah jalan ampe gempor ga taunya tutup! Akhirnya saya hanya menyempatkan diri foto-foto di luar palace dan kemudian melanjutkan perjalanan ke riverfront yang jaraknya hanya 10 menit dari sana.

Saat saya liat udah banyak bule seliweran dan dari jauh kedengeran bunyi musik yang hingar bingar, saya tau kalo saya akhirnya sampe juga di daerah riverfront. Café dan hostel banyak berjejeran. Saya sempet bingung mo pilih yang mana. Akhirnya setelah bolak-balik ngecek kamar dan harga di beberapa hostel yang beda, saya menjatuhkan pilihan pada satu hostel seharga $5. Setelah naro backpack durjana yang super berat itu, saya melanjutkan acara muter-muter kota.

Kunjungan saya berikutnya ke Wat Phnom, sebuah kuil Buddha kecil tapi terkenal. Kuil ini merupakan tempat dimana orang-orang Cambodia berdoa untuk meminta keberuntungan. Saya disangka penduduk lokal karena kulit saya yang item dan tampang saya yang kayak wayang ini, jadi saya ga bayar tiket masuk seharga $1. HORE!! Karena disangka orang lokal jadi akhirnya saya ikut-ikutan bakar-bakar dupa. Dodol bukan??

Setelah itu saya nongkrong di taman depan Wat Phnom yang tampaknya merupakan kompleks elit. Bangunan US Embassy yang sangat megah dan super modern berada disalah satu sisi jalan. Saya liat banyak anak-anak muda Cambodia yang berpakaian cukup gaul nongkrong di taman itu sambil dengerin musik rock dengan bahasa Cambodia yang saya ga ngerti sama sekali. Saya kira cuman di Indonesia aja ada anak gaul.. ternyata di Cambodia banyak anak gaul juga..

Saya pun melanjutkan jalan sore saya menuju Psar Thmei. Di tengah jalan, saya liat 2 anak jalanan berumur 5 tahun lagi maen bola dengan bola tennis butut di pinggir jalan. Tiba-tiba, salah satu dari mereka mendekati saya. Dia bilang “Water” sambil menunjuk botol minuman di backpack kecil saya yang isinya tinggal setengah. Saya sempet bingung mencerna maksud si kecil. Saya ambil botol minuman saya dan bertanya “Do you want this?” Mereka berdua mengangguk penuh kegembiraan. Saya agak ragu, ga tega ngasih minuman bekas, jadi saya bilang “Wait, I’m gonna buy 2 bottles for you guys” Tapi mereka menolak dan terus nunjuk botol minuman saya. Akhirnya saya pasrah menyerahkan botol minuman itu. Mereka berdua tersenyum, menenggak air minum di depan hidung saya, mengucapkan terima kasih, melambaikan tangan dan balik main bola lagi dengan wajah penuh kegembiraan. Saya tertegun, betapa mudahnya membuat kedua malaikat kecil ini tersenyum. Tapi terbersit juga di pikiran saya, begitu susahkah kehidupan mereka untuk dapet air bersih untuk minum?

Akhirnya saya sampai di Psar Thmei ato lebih dikenal dengan sebutan Central Market. Disebut demikian karena lokasinya yang memang terletak di jantung kota Phnom Phen. Arsitektur Central Market sangat unik karena terdapat dome yang sangat besar di tengah bangunan yang dianggap merupakan salah satu dome terbesar di dunia. Barang-barang yang dijual di pasar ini cukup beragam, mulai dari souvenir traditional Cambodia, makanan, perhiasan, baju, jam, elektronik dan masih banyak lagi!

Hari udah mulai gelep waktu saya keluar dari Central Market, jadi saya mutusin untuk balik ke hostel. Saya kurang tau berapa jauh saya jalan hari itu, tapi yang pasti kaki saya pegel banget dan betis saya mendadak membesar bak betis mas ronaldo! Saya udah ga mampu mo kemana-mana lagi, akhirnya saya memutuskan untuk istirahat mengingat besok saya mau melanjutkan perjalanan ke Siem Reap untuk mengunjungi The Famous Angkor Wat!! Ga lama berbaring di tempat tidur, saya pun tertidur lelap seperti anak monyet..




Wat Phnom

Lanjut yuukk...

Tuesday, September 1, 2009

Friendship ala backpacker..

Ga keitung deh banyaknya backpacker yang berseliweran di berbagai belahan dunia ini. Berdasarkan pengalaman saya ber-backpacking-ria di segelintir negara Asia Tenggara, sejauh mata memandang saya liat orang-orang dari etnis dan negara yang berbeda menggendong backpack dengan size dan warna yang berbeda tergantung kebutuhan dan kekuatan masing-masing.

Harus diakui kalo tempat favorit para backpacker dari Eropa dan Amerika adalah Asia. Walopun harga ticket mahal dan harus rela mengkeret di pesawat berjam-jam, tapi kebutuhan sandang, pangan dan papan sepanjang perjalanan terbilang murah meriah muntah! Ga heran kalo kebanyakan dari mereka bisa traveling di Asia selama 3 bulan sampe 1 tahun lamanya. Keputusan saya untuk solo backpacking pada dasarnya diambil bukan karena saya PEMBERANI, tapi saya mengIMANi bahwa saya ga bakalan traveling sendiri karena banyak banget temen baru yang bakal saya temui sepanjang perjalanan. Dijamin saya akan dijauhkan dari kegaringan, malahan temen-temen baru ini bisa menambah keceriaan petualangan saya.

Udah ga keitung banyaknya temen yang saya temui waktu lagi backpacking. Kebanyakan dari mereka berakhir jadi temen beneran yang punya ikatan emosi selama backpacking. Padahal kebanyakan friendship itu dimulai karena basa-basi BERBISA. Biasanya obrolan ringan terjadi pas mati gaya di van, bus, pesawat ato kereta api. Ga jarang juga karena obrolan panik pas tersesat ato kebingungan dan orang yang ditanya kebetulan mo ke tempat ato arah yang sama. Ato karena sharing kamar yang sama di guesthouse. Percaya ga percaya, di bawah ini adalah BACKPACKER 101 - GUIDE TO START A CONVERSATION yang isinya pertanyaan standard untuk memecah kegaringan antara sesama backpacker..

Where are you from?
Which country did you visit before you came here?
Where is your next destination?
How long are you traveling for?
Are you traveling alone?
What is your name?

Pengalaman saya cukup banyak soal friendship ala backpacker mengingat saya ini orangnya ga bisa bengong. Kata nenek kalo bengong bisa kesambit wewe gombel. Ogah banget kan? Jadi setiap object mahluk hidup yang bisa bicara di sekitar saya pasti bakalan jadi korban kegaringan saya. Tapi di banyak kasus, saya juga jadi korban kegaringan dan kebingungan mereka!

Salah satu contohnya adalah Barbara, seorang backpacker dari Swiss. Saya lagi bengong nunggu Sky Train di Terminal 1 Changi Airport waktu Barbara datengin saya. Dengan nada rada panik, dia nanya gimana caranya dapetin tiket MRT dari airport ke kota. Untungnya saya baru liat-liat peta Changi Airport dan inget kalo MRT station ada di Terminal 2. Pas banget saya juga mau kesana! Jadi akhirnya saya nawarin diri untuk nemenin dia ke MRT station. Ya gitu deh, akhirnya kita berdua jadi ngobrol asik dan langsung merasa deket. Ternyata Barbara adalah seorang guru yang sedang melakukan Round the World Trip selama 7 bulan dan Singapore adalah negara perhentian pertama. Sampe di Terminal 2 kita langsung menuju MRT station dan beli tiket. Kami melanjutkan mengobrol sampe akhirnya MRT siap untuk berangkat. Barbara memeluk saya, mengucapkan terima kasih dan kita pun ber-dadah dadah-ria. Saya merasa ada perasaan kehilangan yang menurut saya adalah sebuah perasaan yang aneh, karena pertemuan kami hanya dalam hitungan menit tapi kami merasa seperti temen baik.

Lain lagi kisah saya dengan Brian, seorang backpacker dari Irlandia. Kami berkenalan di Saigon, Vietnam karena hari itu kami berada di van yang sama menuju Cu Chi tunnel dan Chao Dai temple. Kami langsung akrab dan dia jadi potograper gratisan saya yang saat itu kebetulan sedang traveling solo. Haha! Setelah tour hari itu kita masih bareng menyusuri dan hang out di backpacker area daerah Pham Ngu Lau. Pertemanan kami ga berenti disitu aja, karena kami melanjutkan traveling bareng mengeksplorasi sungai Mekong beberapa hari kemudian. Sungai Mekong yang airnya cokelat butek itu jadi lebih menarik karena Brian orangnya asik banget! Haha! Pada saat yang ditentukan pun kami harus berpisah karena saya melanjutkan perjalanan ke Cambodia dan Brian harus kembali ke Irlandia. Sedihnya minta ampppYYYuunn waktu kami mengucapkan selamat tinggal sambil berpelukan ala teletubbies..

Dalam perjalanan naik bus dari Vietnam ke Cambodia, saya bertemu Clark, seorang backpacker dari UK. Pertemuan kami diawali dengan ketololan saya karena salah duduk di kursi milik Clark. Tapi karena kebodohan itu, saya malah mendapat teman baru dan berkesempatan mendengar kisah kehidupan Clark yang SPEKTAKULER. Sepanjang perjalanan, saya duduk manis mendengarkan pengalaman Clark sebagai seorang tsunami survivor yang saat tsunami terjadi sedang berada di Phuket bersama dengan pacarnya yang berkebangsaan Indonesia. Clark selamat dari bencana alam hebat itu, tapi pacarnya hilang dan jasadnya tidak pernah ditemukan. Perjalanan berjam-jam di bus jadi menarik karena dia temen ngobrol yang asik banget dan ga ngebosenin gara-gara dengerin cerita Clark. Ga kerasa tau-tau udah sampe di Phnom Phen dan kita udah harus pisahan. Dadah-dadahan lagi..

Saya ketemu O’Ryan, seorang backpacker dari Irlandia di sebuah van di Laos. Kisah yang satu ini rada spektakuler karena pembicaraan kita ga dimulai dengan pertanyaan standard seputar backpaking. Saya langsung jadi korban bahan becandaan dia di van dan saya harus berjuang mati-matian ngebales setiap celaan dia. Demi harga diri sodara-sodara! Haha! Herannya, gara-gara cela-celaan kita malah mendadak jadi deket kayak lem. Kami berdua hanya punya kesempatan untuk bareng selama 24 jam. Sadar karena kebersamaan kami terbentur masalah waktu, jadilah kemana-mana kami berusaha bareng. Mulai dari tinggal di guesthouse yang sama, have fun di hippie village sambil seluncuran di zip line, ajrut-ajrutan di mud pit, perang lumpur, menikmati sunset, dinner, hang out di sunset bar sampe pagi menjelang dan nerusin ngobrol di balcony guesthouse sampe matahari terbit. Hati saya hancur lebur luluh lantah ketika akhirnya saya melambaikan tangan mengucapkan selamat tinggal..

Friendship a la backpacker adalah sesuatu yang menurut saya sangat unik. Karena periode friendship bisa terjadi mulai dari hitungan menit, jam, hari, minggu atopun bulan. Ketika persahabatan itu dimulai, kami semua tau bahwa cepet ato lambat persahabatan itu harus berakhir karena pada akhirnya satu sama lain harus ngucapin selamat tinggal dan ga pernah tau bakal ketemu lagi atau enggak.

Tentunya mengucapkan SELAMAT TINGGAL jadi rada emosional. Mewek-mewek berjamaah sambil dadah-dadahan juga kadang-kadang terjadi. Wekeke, dangdut abis!

Kalo dipikir-pikir, orang-orang ini ga pernah kita kenal atopun ketemu sebelumnya. Tapi proses persahabatan itu terjadi secara alami karena kita berada di tempat yang sama, mengalami kesulitan yang sama, pengen menjajaki kota dan object wisata yang sama dan yang pasti berbagi satu passion yang sama, yaitu TRAVELING.

Walopun harus menerima resiko jadi rada mellow, numb ato nangis bombai abis pisahan, saya ga akan pernah berhenti make friends during my travel karena perjalanan saya ga akan berwarna dan memorable tanpa mereka..

Lanjut yuukk...

Monday, August 10, 2009

Ngemper [dot] com..

Kalo lagi on the road biasanya pilihan tempat tinggal saya ga jauh-jauh dari yang berbau murah meriah! Research dimana backpacker area berada di tempat yang akan saya kunjungi selalu jadi hal pertama yang saya lakukan untuk cari referensi hostel ato guesthouse murah kalo mau backpacking.

Biar lebih jelas dengan penggunaan istilahnya, hostel itu cuman istilah kerennya hotel melati. Kalo guesthouse intinya satu kamar buat rame-rame dan biasanya cewe cowo campur. Kamar mandi, ruang tamu, dapur juga dipake bareng-bareng. Udah kayak tinggal di asrama dah!

Pilihan tinggal di hostel ato guesthouse lagi-lagi dikarenakan pengiritan budget. Karena dimana jejeran hostel ato guesthouse berada, disitu jugalah tempat makan dan clubs murah berada. Dua hal yang sangat berkaitan dan tidak dapat dipisahkan sodara-sodara! Waduh, saya semakin yakin kalo saya ini pelit, bukan irit! Hahaha!

Tinggal di hostel ato guesthouse, walopun murah ga berarti tempatnya jorok, ga aman dan ga layak huni lho. Jaman sekarang hostel ato guesthouse udah pada bersih dan comfy. Tinggal pinter-pinter pilih tempat aja. Seperti hostel yang saya tinggalin di Saigon, daerah Pham Ngu Lao tempat backpacker, saya cuman bayar US$ 10 udah dapet AC, cable TV, aer panas dan free wi-fi!

Di KL saya punya guesthouse langganan di daerah Bukit Bintang. Sudah beberapa kali saya tinggal disana selalu dapet kamar yang berenam bahkan berempat belas! Bayar 30 MYR dapet kamar ber-AC, locker, seprei dan handuk bersih, air panas dan free wi-fi!

Suka duka tinggal di guesthouse bener-bener niggalin banyak pengalaman menarik. Abis gimana enggak, kebayang dong gimana rasanya sekamar rame-rame bareng dengan orang-orang dari negara lain yang ga dikenal dan punya adat istiadat yang beda. Ada yang ramah, tau diri dan menghormati temen sekamar, tapi ada juga yang cuek beibeh!

Satu kali di KL, salah satu teman sekamar saya adalah seorang cowok ganteng dari Australia bernama Luke yang kebetulan bekerja sebagai salah satu pekerja NGO di Banda Aceh. Karena saya juga punya background sebagai pekerja NGO di Banda Aceh, mendadak kami langsung punya connection. Setelah makan malem bareng, saya sempet diajakin kongkow-kongkow di teras guesthouse bareng dengan sesama penghuni guesthouse. Tapi harus saya tolak dengan halus karena saya harus tidur cepet gara-gara ga mau ketinggalan pesawat yang kebetulan jadwalnya pagi banget! Saya langsung lelap tertidur satu menit setelah kepala saya menyentuh bantal empuk.. Ditengah tidur nyenyak saya, kesejahteraan tidur saya mendadak terganggu karena kuping saya denger suara orang NGOROK yang bunyinya SPEKTAKULER kenceng banget! Setelah saya telusuri dari mana bunyinya, ternyata suara itu berasal dari tempat tidur Luke. Duh mas, ga jadi ganteng deh kalo ngoroknya amit-amit gitu..Saya coba tidur lagi tapi ga bisa gara-gara NGOROKnya fals banget! Saya pake iPod Touch saya sambil dengerin lagu dengan volume paling kenceng tapi NGOROKnya masih kedengeran..ALAMAK! Rasanya saya pengen nyamperin tempat tidurnya dan bekep dia pake bantal biar ga NGOROK lagiiiiiiiii!

Lain lagi ceritanya waktu saya tinggal di sebuah guesthouse di Bangkok. Dengan model tempat tidur bertingkat, saya liat salah satu tempat tidur bagian bawah kok ditutupin sama handuk dan seprei, kayak jaman kita kecil dulu maen rumah-rumahan dibawah meja makan. Berhubung sudah jam 3 pagi dan saya udah cukup kecapean abis party ajrut-ajrutan sama temen-temen, saya ga ambil pusing. Saya langsung berbaring di tempat tidur yang kebetulan letaknya di tingkat atas. Ga lama saya denger ada suara tempat tidur yang berdecit-decit.. Saya telusuri lagi dari mana asal bunyinya, ternyata suara itu dari tempat tidur yang ditutupin pake handuk dan seprei itu. Saya liatin kok tempat tidurnya goyang-goyang..dan ga lama ternyata ada suara rintihan cewek…
HOOOOAAAAAA..... GA SOPAAAANNNNNN!!!!!! Ada yang lagi "berbuat"! Pengen saya rajam batu orang-orang ga tau diri itu!!!

Selain hostel dan guesthouse, NGEMPER AIRPORT [dot] com adalah salah satu pilihan tempat tinggal alternative favorit apalagi kalo jadwal connecting flight saya rada-rada ajaib. Berhubung gratis jadi pelayanannya juga minimal banget. Cuman ada bangku super keras yang bikin punggung keram dan itupun kudu rebutan ama yang laen. Kalo ga dapet bangku yah terpaksa tidur di atas trolley. Kamar mandi massal yang dipake bareng ratusan orang, AC super dingin karena central system dan sukur-sukur ada wi-finya! Harga emang ga pernah bohong yah! Hahaha..

Udah ga kehitung berapa kali saya harus ngemper malem-malem menjelang pagi buta di airport. Tapi saya ga pernah be-te karena yang demen ngemper di airport juga banyak! Ga sedikit juga saya dapet kenalan baru sesama backpackers gara-gara ngemper bareng. Ngobrol, ngupi bareng, tukeran buku bacaan, maen kartu, maen sudoku bahkan sampe maen who wants to be a millionaire menjadi aktifitas untuk ngabisin malam yang panjang di airport. Menjelang pagi rame-rame sikat gigi dan cuci muka di toilet bareng. Haha!

Namanya juga jadi turis kere, jadi emang harus siap menanggung segala resiko dan harus rela ngemper-ngemper dah! Ga perlu malu kalo ngemper di airport karena pengalaman travelingnya jadi tambah asoy dan seru!

Jadi kesimpulannya.. kalo harus ngemper di airport, siapa takut???

Lanjut yuukk...

Tuesday, July 14, 2009

Frustrasi ditolak!

*liputan perjuangan perjalanan antara Singapore, Manila dan Guam
Tulisan ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan pihak manapun. Saya ga mau dipenjara…



Stress, pengen marah, sebel, gondok, keki, pengen maki-maki orang merupakan luapan perasaan yang saya alami ketika DITOLAK terbang oleh Philippine Airlines! Whattzzz, kenapa bisa ditolak sih??

Ceritanya berawal ketika seorang teman baik yang berada di Guam, USA mengundang saya berkunjung kesana untuk BERLIBUR. Dengan iming-iming bahwa semua ongkos perjalanan dan akomodasi akan ditanggung 100%, serta merta saya kegirangan TIDAK MENOLAKnya! Lagian siapa juga sih yang bakal nolak liburan gratis??..

Saya segera melalukan sepak terjang mencari ticket yang murah meriah dari Philippine Airlines (‘PR’) beserta informasi dokumen perjalanan penting yang diperlukan untuk mengunjungi Guam. Saya norak-norak bergembira waktu tahu bahwa pergi ke Guam ga butuh US VISA dengan syarat waktu berkunjung di bawah 15 hari! HOREE!

Perjalanan saya sempet terancam batal karena untuk mengunjungi daerah teritori US harus pake “machine readable passport”. Sedihnya passport saya masih model lama yang ga ada barcode di bawahnya. Hiks..
Setelah berkonsultasi dan dapet penjelasan dari Guam Immigration Bureau melalui telepon, saya diperbolehkan berkunjung dengan model passport saya yang lama karena peraturan Guam ga seketat kalo mo berkunjung ke US mainland. Jadi setelah masalah VISA dan Passport beres, saya langsung membeli tiket pesawat.

Hari yang dinanti pun tiba. Perjalanan saya hari itu akan cukup panjang dan melelahkan. Rencana penerbangan dimulai dari Indonesia – Singapore – Manila – Guam dengan total jam terbang 10 jam. Baru sampe di Singapore, masalah langsung muncul waktu saya check in di counter PR, Changi Airport. Saya harus berhadapan dengan officer PR yang sengak dan ga sopan abis! Dia ngotot kalo orang Indonesia harus pake US Visa untuk berkunjung ke Guam. Awalnya saya masih baik-baik menjelaskan ke dia kalo Indonesia dapet Visa Exemption untuk berkunjung ke Guam. Eehh, dia malah tambah belagu! Dasar officer tolol, harusnya issue kayak begini airline officer lebih tau dong dari passenger! Dia ngotot ga bolehin saya terbang, sebelum saya bisa nunjukkin US Visa. Saya langsung naek darah! Untungnya ada officer lain yang baik dan menengahi kami berdua yang udah berantem kayak kucing anjing. Beliau bilang kalo officers di Manila bakal lebih tau mengenai masalah ini, jadi saya dibolehin terbang sampe Manila.

DOOHHH, frustrasi dah saya di pesawat. Makan ga enak, tidur pun ga tenang. Hihi, dangdut abis! Perjalanan 4 jam rasanya jadi 10 jam karena deg-deg-an takut kalo bakal ngalamin hal yang sama di Manila. Segera setelah pesawat mendarat di Manila saya langsung meluncur ke transfer desk PR. Untungnya officers yang berwujud dua mas-mas yang baik hati langsung tau kalo Indonesia dapet Visa Exemption untuk ke Guam. Lega banget rasanya! Saya langsung menuju ruang tunggu setelah boarding pass saya terima. Tapi sebelum menuju ruang tunggu, ternyata saya masih harus berhadapan dengan seorang security officer.

Waktu officer ini melihat passport saya, dia langsung bilang “Your passport is not machine readable, I don’t think we can let you board the plane.” WHAT THE HECK! Not another drama please. I really can’t afford it this time..

Saya langsung digeret dan dikawal security bak seorang kriminal ke ruangan para petinggi PR. Mereka keliatan kelimpungan dan kelabakan. Kitab-kitab mahabarata maupun buku-buku wangsit pada dibaca dan sebagian officer pada sibuk nelpon kebingungan. Sumpah BT banget! Bukannya orang-orang ini harusnya tau peraturan yang berlaku?!? Setelah beberapa saat nunggu, salah satu dari mereka bilang ama saya “Sorry, you can’t board the plane. The consular told us you must have a machine readable passport.” Saya coba bicara dan ngejelasin kalo saya sudah dapet approval dari Guam Immigration Officer, tapi beliau ga mau denger. Dia malah langsung bilang “We will send you back to Singapore on our next flight which is 45 minutes from now. Kindly proceed to the transfer desk.”

Saya langsung bilang “Sir, I have my return ticket to Singapore next week. I can walk freely in the Philippines until next week. Don’t you dare send me home right now!”

DOOHH…stress banget kenapa harus deal sama officer-officer tolol kayak begini. Ga berapa lama telpon saya berdering, dan ternyata temen baik saya dari Guam menelpon. Dia hanya bilang. “I have made a back up reservation for you with Continental Airlines. Go to the next terminal, the flight is leaving in 3 hours. You have ample time to catch it.”

Lemah lunglai saya balik ke transfer desk untuk ngembaliin boarding pass. Saya sempet bilang ke mas-mas yang baik ini kalo saya ga dibolehin terbang. Mereka ikut bersedih dan nyoba membantu dengan mengirimkan telefax ke Guam. Tapi berita yang saya denger tetep sama, kalo saya ga bisa visit Guam tanpa machine readable passport. Saya cuman bilang makasih dan ngasih tau mereka kalo saya mau ke terminal 1 dimana Continental Airlines (“CO”) berlokasi karena temen saya udah buat back up reservation. Mereka hanya mengingatkan kalo mungkin saya akan ngalamin masalah yang sama. Kemungkinan saya tetep ga boleh terbang selalu ada. Aduuh, rasanya lemes banget! Tenaga saya udah abis. Tapi saya pikir ini kesempatan terakhir. Harus dicoba, kalo enggak dicoba mungkin saya bakal nyesel seumur hidup.

Saya naik taxi ke terminal 1 dan langsung menuju kantor CO. Herannya sampe disana saya hanya diminta kode booking dan mereka langsung proses ticket saya. Lumayan takjub dengan service mereka yang ga nanya embel-embel VISA dan machine readable passport. Karena penasaran akhirnya saya cerita sama mereka mengenai kisah sedih, derita dan nestapa yang harus saya alami dengan PR. Jadi saya minta mereka make sure kalo saya ga bakalan bermasalah waktu sampe di Guam. Akhirnya passport saya di fax ke Guam Immigration Bureau. Hanya dalam waktu 5 menit mereka langsung dapet konfirmasi. Sambil senyum mereka ngasih passport sama ticket saya dan bilang “Miss, you don’t have to worry about your visa and your passport. You are good to go”

Detik itu juga rasanya saya pengen KAMEHA-MEHA officer-officer PR yang super DONg-DONg itu!!!

Saya masuk ruang tunggu dengan ceria walopun sedikit grogi dengan semua kejadian yang barusan saya alami dalam sehari ini. Tepat pukul jam 11 malem pesawat take off dan 5 jam penerbangan saya habiskan dengan tidur. Sesampainya di Guam saya masih rada deg-deg-an takut bermasalah lagi dengan immigration officer. Bisa aja kan waktu liap passport saya yang tanpa barcode itu saya langsung dipulangin ke Manila?

Saya kasih passport saya ketika berdiri di depan immigration window. Beliau liat passport saya dan langsung senyum sumringah bilang “Oh, you are Indonesian. SELAMAT DATANG.”

Sembari ngecek dan ngecap-in passport saya, dia nyerocos pake bahasa Indonesia yang patah-patah, sampe saya cekikikan berusaha ngebenerin kata-kata yang tepat untuk digunakan. Beliau mengucapkan “TERIMA KASIH” waktu ngembaliin passport saya. Saya jawab “SAMA-SAMA” dan melenggang pergi meninggalkan area kedatangan.

HOOAAAHH, what a journey! Saya bener-bener ga nyangka kalo saya harus ngalamin berbagai kesusahan dan kesulitan berantem dan argue sana-sini dealing sama orang-orang ga jelas sepanjang perjalanan sampe stress berat.. and at the end of the day waktu saya sampe Guam, saya disambut dengan seorang Guamanian yang ramah yang bisa ngomong bahasa Indonesia tanpa memperdulikan passport saya model jaman jebot ato enggak..

Traveling oh traveling.. kesulitannya berbanding lurus dengan kejutannya yang tak terduga!






Lanjut yuukk...

Wednesday, May 6, 2009

Kopi Darat Tak Terduga..

*Liputan dari Airport Cengkareng, Jakarta

Kemaren pagi, tepatnya tanggal 6 May 2009 saya dijadwalkan terbang kembali ke Sumatera untuk mengemban tugas dalam upaya mencari sesuap nasi dan segenggam berlian. Abis check-in saya menuju Starbucks untuk membeli hot chocolate setelah itu nongkrong di bangku kosong untuk nerusin baca buku yang seru abis. Ga berapa lama, saya merasa di sebelah saya duduk seorang cowok. Tapi dirinya saya cuekin karna saking asiknya baca.

Ga berapa lama cowok ini menyapa saya..
Dirinya: “Mbak, blogger ya?”
Saya sempet kaget dan ngeliatin muka dia dengan tampang oon sambil bilang “Iya”
Dirinya: “Mbak Retri ya? Saya Cipu
Saya langsung ketawa ngakak abis-abisan ga nyangka bisa ga sengaja ketemuan sama si Cipu yang selama ini hanya bisa saya pandangi foto-foto narsis dia di blog miliknya!

Dalam pertemuan super singkat nan seru itu, kita berdua ngobrol, cekakak-cekikik, tukeran nomer ha-pe dan pastinya ada sesi pemotretan untuk mengabadikan momen penting tersebut pake blackberry mahal milik Cipu yang pernah dia pamerin di salah satu entry blog-nya! Haha!

Pengalaman yang menurut saya pribadi rada aneh tapi bener-bener mengesankan. Dan satu yang saya inget pesen dari Cipu adalah “Narsis di blog pribadi itu penting!!!”

Sayangnya kita ga bisa ngobrol lama-lama karena pesawat saya harus segera boarding. Tapi kita janjian ketemuan lagi kan Cipu???

Lanjut yuukk...

Tuesday, February 10, 2009

Pahlawan Devisa..

*tulisan ini dibuat untuk "Aku Untuk Negeriku"
mimpiku untuk mereka semua yang aku ceritakan melalui tulisan ini..

Siapa sih Pahlawan Devisa? Saya ga pernah menyangka kalo gelar ini dengan tulus dianugerhakan kepada para jajaran Tenaga Kerja Indonesia (“TKI”) yang mencari nafkah di negeri orang untuk memperbaiki perekonomian keluarga mereka yang dibawah garis kemiskinan karena kesempatan bekerja di dalam negeri pun sangat kecil.

Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi mencatat terdapat 696,746 TKI legal yang bekerja di luar negeri pada tahun 2007 yang membuat jumlah total keseluruhan TKI menjadi 4.9 juta terhitung sejak tahun 1994. Seperti kita semua tau, bahwa kebanyakan dari mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan pekerja kasar karena minimnya pendidikan yang mereka miliki dan tidak sedikit dari mereka yang buta huruf alias ga bisa baca tulis. Tujuan awal dari uang yang mereka bawa pulang ke Indonesia untuk menghidupi keluarga atau bisnis kecil-kecilan, tapi siapa yang menyangka kalo sebagian dari pendapatan yang mereka kirimkan kembali ke Indonesia ini sangat membantu perekenomian negeri kita tercinta, Indonesia.

Sejak tahun 2003 pengiriman uang dari TKI mengalami kenaikan. Tahun 2007 tercatat sebanyak 5.9 Miliar Dolar pengiriman uang dari TKI. Kalo diitung-itung totalnya udah mencapai 16.2 Miliar Dolar uang yang dikirimkan oleh para Pahlawan Devisa sejak tahun 2003 sampe awal tahun 2008! Banyak bukan sodara-sodara? Itu semua duit! Dibeliin kerupuk, Indonesia bisa tenggelem!

Tapi anehnya, kok saya ga pernah denger mereka dielu-elukan sebagai orang-orang yang berjasa buat negeri ini ya? Yang saya kebanyakan denger malah kisah sedih dan derita mereka. Baru berencana mau pergi kerja aja udah harus jual sawah dan jual sapi buat bayar agen tenaga kerja karna ga ada institusi keuangan yang bisa membantu mereka ngasih pinjaman. Untung-untung kalo emang bener-bener dikirim keluar negeri dan bekerja disana. Kebanyakan dari mereka ditengah jalan malah TERTIPU..

Udah kerja disana, belum tentu juga diperlakukan secara manusiawi sama majikannya. Ada beberapa kasus dimana majikan sendiri mencuri uang mereka!! Ga sedikit kasus TKI kita yang disiksa oleh majikannya, belum lagi ada beberapa kasus kematian. Ironis banget ga sih? Kenapa ga ada perlindungan buat mereka disana ya? Menyedihkan kalo tau faktanya bahwa para TKI ini dikirim dengan bekal informasi seadanya. Padahal kalo dipikir, ga ada susahnya kan memberikan sedikit training kepada mereka jika mereka menghadapi kesulitan ataupun bahaya ketika sedang bekerja untuk menghubungi polisi ato KBRI. Saya yakin KBRI tentunya akan bersedia memberikan bantuan dan perlindungan!

Belum lagi pas sampe di Indonesia, ada perlakuan yang berbeda buat para TKI. Setelah melewati petugas imigrasi, ada JALUR KHUSUS yang harus mereke lewati. Berhubung saya ga pernah melewati jalur itu, saya ga tau apa yang terjadi disana, tapi pasti ga jauh-jauh dari PALAK-MEMALAK! Mo nuker duit di tempat nuker duit aja mereka dikasih rate penukaran yang beda. Mo naek travel kembali ke desanya masing-masing juga dikasih harga yang beda dan jauh lebih mahal karena DILARANG oleh agen tenaga kerjanya untuk naek kendaraan umum atapon dijemput sama keluarganya sendiri. Menyedihkan bukan?

Kenapa hal-hal ini harus terjadi sama pahlawan-pahlawan kita??? Kenapa harus ada perbedaan kasta dan perlakuan buat para TKI yang tidak memiliki skill ini? Bukankah perjuangan hidup dan penderitaan mereka bekerja di luar negeri udah cukup berat ? Sesampainya di Indonesia untuk temu kangen dengan keluarga saja mereka masih harus berjuang lagi menghadapi tantangan yang lain..

Banyak banget sebenarnya hal yang bisa diperbaiki untuk memperbaiki kesejahteraan dan perlindungan buat para TKI.
• Depnakertrans bisa bekerja sama dengan Institusi keuangan untuk ngasih pinjaman ke mereka
• Bagus banget kalo sebelum dikirim, agen tenaga kerja memberikan training-training yang dianggap penting seperti bahasa, kebudayaan, KEUANGAN dan informasi penting lainnya seperti alamat & no.telpon KBRI
• Depnakertrans bisa memperbaiki system kedatangan buat para TKI di bandara supaya mereka ga harus kehilangan uang mereka untuk para tukang palak!
Yah, itu hanya sedikit contoh ide simple yang bisa saya kasih. Saya rasa, masih banyak hal yang bisa diperbuat untuk memperbaiki system ini.

Di bawah ini adalah sepenggal kisahku ketika beberapa tahun yang lalu diberikan kesempatan untuk duduk bersebelahan di pesawat AirAsia dengan seorang TKI wanita yang bekerja di Malaysia. Dirinya masih muda dan sangat lugu. Logat bicaranya lucu karena aksen jawa-nya yang sangat kental..

Dia: “Mbak sekolah ya? Enak ya mbak sekolah. Aku capek mbak, jauh dari keluarga harus kerja banting tulang”
Saya: “Iya mbak, saya anak sekolah. Mbak kerja apa di Malaysia dan udah berapa lama?”
Dia: “Sudah 2 tahun mbak. Aku udah capek sama ga betah kerja makanya aku minta sama majikan pulang ke Indonesia.”
Saya: “Oh gitu. Ga betah kenapa mbak? Majikannya jahat ya?”
Dia: “Iya mbak. Disuruh kerja terus, ga ada istirahatnya. Tapi aku untung lho mbak masih dikasih makan teratur sama majikan. Temen aku ada tuh yang sering dikasih makanan basi. Ada juga yang ga dikasih makan karena jatah makanannya buat anjing peliharaan.”
Saya: (Cuma bisa terdiam)
Dia: “Mbak, nanti kalo udah sampe di bandara aku boleh minta tolong ga?”
Saya: “Mau minta tolong apa? Kalo bisa dibantu, pasti saya bantuin”
Dia: “Kata temen-temenku, kalo sampe di bandara itu biasanya aku nanti disuruh lewat jalan yang beda. Katanya sih disana nanti kita dimintain duit. Padahal duit yang aku bawa pulang juga ga banyak mbak.”
Saya: “Oh gitu, jadi terus gimana saya bisa bantuinnya?”
Dia: “Aku mo minta tolong supaya nanti mbak jalan disebelah aku terus biar aku ga disangka TKI mbak. Jadi aku ga usah liwat jalur itu.”
Saya: “Kalo gitu aja sih mudah. Ya udah, nanti pas abis lewat imigrasi kita bareng terus sampe keluar bandara ya. Jangan misah-misah.”
Long story short, sesampainya di bandara kita berdua jalan bareng dan berhasil melawat para tukang palak TKI. Setelah mengambil barang, kami keluar bandara dan mengantar dirinya bertemu dengan keluarganya secara sembunyi-sembunyi. Sangat terharu melihat pertemuan mereka.

Seteleh membaca cerita panjang saya ini, apakah kalian berfikiran yang sama kalo kesejahteraan mereka sebagai Pahlawan Devisa patut diperjuangkan?

Lanjut yuukk...

Thursday, February 5, 2009

Aku bertemu seorang Tsunami Survivor..

*Liputan perjalanan antara Saigon dan Phnom Phen*

Gara-gara merasa ga “nyaman” duduk disebelah orang aneh, setelah urusan Visa on Arrival Cambodia selesai, saya SEGEERRAA mencari tempat duduk lain yang ada untuk menyelamatkan diri dari Viet. Wah, untunglah ternyata di bagian belakang bus masih banyak tempat duduk kosong. Saya pilih bangku deket jendela biar bisa sekalian liat-liat pemandangan.

Saya ngarep bakalan duduk sendiri karena kepala udah mulai nyut-nyutan gara-gara kurang tidur. Ga taunya ada cowok bule nongol di samping saya dan dia bilang “you are sitting on my seat”
WADAAWWW..malu banget ga sih???
Saya udah langsung SIAP GRAK mau pindah, tapi ternyata sambil senyum dia bilang “No worries, I’ll just sit next to you. Problem solved.”

Ya udah akhirnya kita kenalan. Cowok ini namanya Clark dan berasal dari London. Waktu saya bilang kalo saya berasal dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, doski sempet kaget banget. Dia cuman bilang “I have never thought an Indonesian girl would be very brave to travel alone” dan saya cuman nyengir doang dan agak bangga-bangga dikitlah dibilang pemberani :P

Tiba-tiba dia nyeletuk “Apa kabar?”
Nah lho, kok mendadak ngomong pake bahasa Indonesia?
Ternyata usut punya usut, Clark pernah tinggal di Jakarta 1 tahun kurang sedikit, jadi dia masih bisa bahasa Indonesia dasar sedikit. Sahabat baiknya sampai saat ini juga masih tinggal di Jakarta karena menikah dengan orang Indonesia. Jadi deh kita malah ngobrol ngalor-ngidul dan ga tau gimana mulainya, kita sampe pada topik Tsunami. Dari situ, mengalirlah sebuah kisah pengalaman hidup Clark.

Pada saat Tsunami terjadi tanggal 26 Desember 2004 pukul 10:10 pagi, Clark sedang berada di kamar mandi sebuah hotel yang berlokasi di Phuket, Thailand. Beberapa menit sebelum ombak besar Tsunami menghantam pantai, ada bunyi BENDA JATUH yang kenceng banget kayak bunyi BOM. Yang ada di pikiran dia hanya satu “Teroris!!” Langsung doski ngibrit keluar kamar untuk menyelamatkan diri. Tapi pas dia berdiri di depan pintu, dia bengong gara-gara ngeliat ombak gede dan tinggi banget! Di dalam ombak itu, dia liat orang-orang terperangkap di dalem sana. Baru mo lari lagi, ombak udah menghempas badan dia. Kelelep, terperangkap dan terguling-guling di dalam ombak selama beberapa menit, tiba-tiba badannya udah kebanting di atap hotel. Clark pengsan beberapa saat. Waktu sadar, badannya berasa udah remuk. Mulutnya berdarah, semua giginya hilang. Untungnya ga ada tulang yang patah, hanya lebam sekujur tubuh. Waktu Clark berdiri, dari atas atap dia liat banyak mayat dimana-mana. Dia panik, terutama karena teringat pacarnya, orang Indonesia yang saat itu harusnya bareng dia..HILANG!

Mayat bertebaran dimana-mana. Orang panik nyariin sodara, pacar, suami, istri dan anak. Orang nangis dan teriak histeris dimana-mana. Stress ngeliat orang mendekati kematian karena abis tenggelem dan luka berat, tapi ga bisa bantuin. Keadaan bener-bener kacau. Sampe akhirnya bala bantuan dateng dan keadaan mulai membaik sedikit demi sedikit. Walopun bukan sesuatu yang mudah dilakukan, Clark “mengabdi” ngebantuin orang-orang yang bisa dia bantu selama beberapa hari sambil mencari pacarnya. Saat yang bersamaan dia juga melakukan dokumentasi foto-foto mengenai keadaan setelah tsunami dan beberapa fotonya diterbitkan oleh majalan TIME. Setelah itu Clark memutuskan untuk pulang kampung ke London.

Selama 1 tahun lebih Clark harus bolak balik ketemu dengan psikiater karena efek traumatic dan kesedihan yang mendalam. Menghilangkan bayangan temen-temen dia yang tergeletak di pantai tak bernyawa, pacar dia yang hilang dan ribuan mayat yang ga diketahui ditumpuk di dalam konteiner bukanlah hal yang mudah. Tapi dia berhasil!

Dia bilang “I know God has a big plan for me. That’s why I survived.” Saat ini Clark sedang menulis sebuah buku mengenai cuplikan kehidupannya sebagai seorang Tsunami Survivor berjudul Waves of Tears yang akan direlease pada tanggal 14 Februari 2009 di London.

Saya ga pernah tau apakah saya bisa sekuat Clark untuk membangun kehidupan saya lagi kalo hal yang mirip terjadi. Tapi yang pasti kisah kehidupan dia menginspirasi saya untuk selalu kuat dalam menghadapi cobaan hidup.

Lanjut yuukk...

Thursday, January 8, 2009

Saigon Lautan Motor..

*Liputan dari Vietnam



Huh, siapa yang nyangka kalo ternyata jumlah motor di Saigon/Ho Chi Minh City bisa sampe jutaan!! Populasi kota tersebut 9 juta manusia dan pengendara motonya mencapai 6 juta! Duilee, kebayang ga sih betapa padat, ribet dam sembrawutnya lalu lintas di Saigon. Walopun udah terbiasa dengan keteledoran dan kesembronoan pengendara motor di Indonesia, saya tetep mengalami CULTURE SHOCK di negara tetangga! Belum lagi, orang-orang disana demen banget NGLAKSON! Duh, kebayang dong betapa ributnya jalanan dengan suara klakson jutaan motor itu??

Malam pertama saya di Saigon, saya diundang makan malam oleh seorang teman local bernama Trinh yang saya kenal ketika sedang berjalan-jalan seorang diri di Bun Vien Street. Dengan mengendarai motonya, kita melintasi padatnya jalur lalu lintas Saigon menuju Ben Than Market. Tips buat survive mengendarai motor disana adalah dengan SELALU MELANGGAR PERATURAN LALU LINTAS! Kalo patuh pada peraturan malah mati gaya boo..hahaha! Yang kudu dipatuhi hanya pas di perempatan lampu abang ijo! Selebihnya..asoy geboy dan harus fleksible!

Setelah makan malam, saya ditinggal sendiri oleh Trinh di area Ben Than market. Itu karena keinginan saya sendiri pengen liat-liat night market disana seperti apa lagipula hostel tempat saya menginap di daerah Pham Ngu Lao cuman walking distance. Sapa tau ada barang lucu yang bisa dibeli dan bisa sekalian uji kesaktian tawar-menawar. Pas udah waktunya pulang, saya cuman bisa TERNGANGA.. Ada jutaan motor yang mepet-mepet banget jaraknya berlalu lalang di sepanjang jalan sekitar Ben Than market dengan kecepatan lambat merayap disertai dengan bisingnya klakson-klakson ga jelas! Addduhhh, gimana saya mau nyebrang jalan?? Saya stuck di pinggir jalan..

10 menit kok belum langgeng juga ya jalanan.. akhirnya saya nekat nyebrang jalan. Walopun kayaknya saya dicaci maki sama pengendara motor, tapi saya cuek beibeh..toh saya ga ngerti juga mereka ngomong apaan! Hehe.

Ketika saya sudah berada di tengah jalan ditengah-tengah ribuan motor itu……mendadak semua pengendara motor pada ga mau ngalah dan ga ngasih saya lewat.. saya TERJEBAK DI LAUTAN MOTOR!! Maju kena mundur kena kayak pelem DKI warkop! Toolloongg!! Rasanya pengen nangis.. kebayang ga sih saya berada ditengah jalan seorang diri dan ada ribuan motor lalu lalang di sekitaran saya??..

Untungnya penderitaan itu segera berakhir! Mungkin karena akhirnya banyak pengendara motor yang kasian liat saya stuck di tengah jalan. Akhirnya beberapa motor mulai mengurangi kecepatan dan membiarkan saya menyebrang jalan dengan selamat dan sentausa!

Karena pengalaman terjebak tersebut, saya jadi tau tips yang manjur buat nyebrang jalan di Saigon. Caranya dengan menutup mata anda dan melengganglah di jalanan tersebut tanpa merasa bersalah! Karena..kalo kita cuek beibeh dan tidak melihat ataupun ga mau tau dengan para pengendara motor itu, mereka malah keder dan berhati-hati. Tapi kalo kita sopan-sopan dan takut-takut..malah ga dikasih jalan! Ini tips manjur nih! Bisa dibuktikan sendiri kalo kalian jalan-jalan ke Saigon :)

Lanjut yuukk...

Wednesday, January 7, 2009

Segelintir foto dari Singapore..

Sebenarnya bukannya saya ga pengen menampilkan foto-foto Singapore. Tapi menurut saya, Singapore hanyalah sebuah CONCRETE JUNGLE! Haha. Mudah-mudahan saya tidak menyingung siapa-siapa atas STATEMENT ini. Karena sebenarnya temen saya Karen dan Jani yang ASELI orang Singapore yang membuat statement tersebut. Cuman atas permintaan khayalak ramai, maka saya sisipkan sedikit jepretan foto kota Singapore :) Selamat menikmati jepretan amatiran saya ini. Haha!


Merlion Esplanade

Singapore Flyer

A random picture somewhere around Esplanade park

Lanjut yuukk...

Tuesday, January 6, 2009

Orang Lanjut Usia, Orang Cacat dan Ibu Hamil..

*Liputan dari Singapore

Yah, yang namanya jadi backpacker (baca: turis gembel) saya cuman punya pilihan untuk traveling murah meriah dengan menggunakan jasa Budget Airlines. Haha! Perhentian pertama saya sebelum mencapai Ho Chi Minh City (dahulu disebut Saigon) adalah Singapore. Dengan alasan untuk mendapatkan harga tiket murah meriah, saya terpaksa harus tinggal sehari semalam di Singapore. Untungnya, ada seorang teman baik bernama Jani yang menawarkan saya untuk tinggal di apartmentnya! Lumayan, bisa irit dikit.

Sehari sebelum keberangkatan, Jani mengirimkan informasi bus dari Airport menuju apartment-nya secara detail. Walopun belum pernah naek bus di Singapore, saya sok-sok pede! Hehe. Setelah tanya sana-sini mengenai harga ticket bus dan gimana cara pembayarannya, saya turun menuju ke Bus Stop di bawah Changi Airport. Ga berapa lama, bus yang harus saya naiki pun dateng. Kebetulan antrian bus-nya lumayan panjang, jadi saya rada terakhir masuknya dan saya masih harus membereskan urusan saya dengan pak supir kalo saya butuh tiket. Pas saya dapetin tiket saya, bus-nya udah mulai jalan. Badan saya udah mulai oleng ke kanan dan ke kiri berhubung backpack saya lumayan besar! Jadi buru-buru saya berjalan dan menduduki kursi terdekat.

Feeling saya ketika duduk disitu agak aneh. Karena saya cuman liat engkoh-engkoh tua di area tempat duduk saya. Waahhh, ini pasti ada yang salah nih!! Akhirnya saya liat-liat sekitar bus. Dan ternyata BENAR sodara-sodara! Di salah satu jendela bus ada sebuah sticker dengan ukuran lumayan GEDE tertulis:

“TEMPAT DUDUK BERWARNA HIJAU HANYA DITUJUKAN UNTUK ORANG LANJUT USIA, ORANG CACAT DAN IBU HAMIL”

Dooeeennnggg!!! Lemes deh saya! Gimana mo ngecengin cowo-cowo keren diseberang tempat duduk sana kalo mereka mikir saya orang cacat ato ibu hamil kali ya? Hahahaha!
Akhirnya, waktu bus-nya stop di pemberhentian pertama..saya langsung ngibrit dan pindah tempat duduk yang ditujukan for those people who are YOUNG, COOL and BUBBLY just like me! Haha!

Lanjut yuukk...

Monday, January 5, 2009

I'm back!

Hii…

Saya sudah pulang kembali ke negeri kita tercinta! Pengalaman saya menjadi BOLANG di negeri orang selama 16 hari sangat berkesan dan menyenangkan! Selain berkunjung ke tempat-tempat bersejarah, mencoba makanan lokal, mencoba hal-hal baru, berkenalan dengan sesama fellow travelers dan masih banyak lagi.. yang terpenting dari trip ini adalah saya belajar untuk selalu bersyukur atas betapa layak dan cukupnya berkat yang sudah Tuhan berikan buat saya :)

Saya sudah ga sabar pengen berbagi cerita dan pengalaman! Saya punya segudang cerita asik! Tapi it has to wait ya teman-teman! Saya masih ditodong sama boss tercinta buat ngerjain performance appraisal nih! Haha! Doain mudah-mudahan bisa dapet promosi dan naek gaji biar tahun ini saya bisa menjelajah Eastern part of Indonesia!

Lhoo..tuh kan! Emang penyakit tau ga sih! Kalo abis traveling emang ga bisa berenti! Hahaha! Yuukk..disambung besok yaa..

Lanjut yuukk...