Tips

Wednesday, March 27, 2013

Ada Apa di Pulau Penguin?

"Loohh, kok ke Perth?? Emang ada apa di sana? Bukannya Sydney sama Melbourne lebih keren??" Gitu tuh komentar kebanyakan temen saat tahu saya akan mengunjungi Australia. Tapi saya mah cuek beibeh! Malah saya mendapuk Perth menjadi kota pertama yang saya kunjungi dalam perjalanan saya ke Australia. Alasan sebenarnya sih simpel, harga tiket dari Bali ke Perth sangat terjangkau dan waktu tempuh penerbangannya hanya 4 jam. Udah tua begini, ga betah deh lama-lama duduk di dalam pesawat apalagi kelas ekonomi. Encok pegel linu, ga nyaman!

Saat sampai di Perth, di hari yang sama saya langsung diculik oleh dua orang teman baik bernama Dessy dan Chassty untuk mengunjungi Pulau Penguin di Rockingham. Dari namanya, ga salah dong ya kalau saya berharap melihat penguin berkeliaran di alam bebas. Tapi sesampainya di sana, kok banyakan manusia daripada penguin ya? Ternyata hanya ada 10 penguin yang masuk dalam kategori spesies PALING KECIL SEDUNIA yang sangat lincah mendiami pulau cantik ini! Karena keunikan spesies dan jumlahnya yang tidak banyak, maka penguin-penguin ini sangat dijaga habitatnya di dalam sebuah area khusus, bukan di alam bebas.


Untungnya, jam kedatangan saya bersamaan dengan feeding time para penguin unik ini. Jadilah selama kurang lebih setengah jam saya asyik melihat para penguin dengan gesit menangkap ikan yang dilemparkan oleh staff dengan moncongnya yang imut-imut itu. Sementara memperhatikan para penguin makan, saya asyik mendengarkan banyak informasi seputar little penguin, begitu sapaan karib mereka. Dengan tinggi tubuh sekitar 30 cm, mereka keliatan seperti boneka penguin mungil yang dipajang di etalase toko. Namun gerak-gerik mereka sangat menggemaskan! Lincah, gesit, suka berenang dan suka makan! Bayangkan, mereka bisa mengkonsumsi 100 ikan kecil dalam sehari!

Setelah puas melihat penguin, saya berjalan menyusuri pantai dan mencoba mengeksplorasi beberapa area dimana saya bisa dengan leluasa melihat kumpulan burung camar yang gemar terbang di atas pulau. Ga jarang juga, burung-burung camar ini terbang menukik dengan kecepatan tinggi di atas kepala atau samping badan saya. Woooozzz!! Wooozzz!! Selain burung camar, saya juga bisa melihat dengan jelas burung pelikan yang bersarang secara koloni di beberapa sudut pulau. Terkadang 4 hingga 6 burung pelikan terbang bersama di udara membentuk formasi sederhana lalu mendarat di laut dan berenang dengan anggunnya.

Pemandangan lain yang menarik di Pulau Penguin yaa tentu saja mas-mas ganteng dengan perut six pack dan kulit sedikit kecoklatan yang tampak menawan! Memang terlihat banyak sekali turis lokal yang menyambangi Pulau Penguin apalagi saat itu sedang musim panas. Berendam di laut sambil ngobrol, berjemur di pantai, piknik keluarga, berenang dan snorkeling adalah aktifitas yang biasa dilakukan di sana.

Tapi ada satu aktifitas yang ga pernah saya liat sebelumnya dan saya rasa cukup menarik, yaitu Stand Up Paddle. Olahraga ini mengharuskan satu orang berdiri menjaga keseimbangan di atas sebuah papan surfing dan mengayuhnya dengan dayung untuk sampai di tempat yang mereka ingin tuju. Terlihat sebagai olahraga keren yang layak untuk dicoba. Nah, tambahan lagi yang bisa jadi tontonan menarik di Pulau Penguin adalah menonton orang-orang yang mengambil kursus singkat Stand Up Paddle. Dijamin menghibur deh saat melihat ekspresi lucu para pemula belajar untuk mencoba berdiri menjaga keseimbangan kecebur berkali-kali gara-gara kehilangan keseimbangan. Haha!

Sementara saya duduk berjejal dengan banyak penumpang lain di kapal untuk kembali ke dermaga, eehh banyak juga turis lokal yang memutuskan berjalan membelah lautan yang cukup dangkal untuk kembali ke dermaga. Jarak antara Pulau Penguin dan dermaga yang terlihat tidak terlalu jauh membuat kebanyakan turis lokal yang berbadan cukup tinggi melakukan hal ini. Ga ngerti deh mereka ini turis kere atau pelit. Tapi satu yang pasti, ini contoh nyata salah satu cara praktis untuk menghemat uang di Australia!


Berbeda dengan Pulau Phillip yang berada tidak jauh dari Melbourne, di Pulau Penguin pengunjung boleh mengambil foto penguin dengan bebas. Jadi cocok banget buat yang suka pamer foto narsis untuk menyambangi pulau ini! Masih banyak loh yang bisa dilakukan di Pulau Penguin. Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini.

Lanjut yuukk...

Sunday, February 17, 2013

The Trip Must Go On

Sehari sebelum keberangkatan saya ke Australia, saya sibuk gubrak-gabruk mencetak semua tiket dan melakukan advance web check-in untuk semua penerbangan yang akan saya lakukan dalam perjalanan tersebut. Rencana itinerary dan semua informasi penting seperti pilihan akomodasi, objek wisata yang ingin dikunjungi, jadwal bus sampai daftar resto yang sudah saya siapkan selama sebulan terakhir ikut saya cetak sebagai bahan panduan selama perjalanan.

Semalam sebelum keberangkatan, saya bela-belain mengambil waktu khusus untuk bertemu dengan teman yang akan traveling bareng melakukan "gladi resik" untuk persiapan perjalanan kami supaya tidak ada barang atau dokumen yang kelupaan. Saat saya sampai di cafe tempat janjian ketemuan, saya sumringah memberikan tumpukan hasil cetak tiket dan dokumen lainnya ke teman saya. "Nih, udah lengkap semua. Tiketnya tinggal dibawa dan malem ini tinggal lu baca-baca lagi itinerary-nya", ujar saya. Teman saya membalas, "Makasih ya. But... I have a bad news"
DEGG, jantung saya langsung hampir berhenti berdetak dan perasaan saya langsung ga enak. Dengan asal saya langsung nyamber menjawab, "Kenapa? Lu ga bisa berangkat besok?" Teman saya bergumam, "Iya, because I have..."

Kata-kata selanjutnya yang keluar dari mulut teman saya beserta dengan penjelasan detail udah mulai ga saya simak dengan seksama lagi karena saya mendadak nervous. Saya nervous bukan karena takut traveling sendirian. Tapi mental saya selama ini udah disiapkan untuk traveling bareng dan tau-taunya last minute... BAAAMM! Traveling sendiri lagii???

ARGGHH, saya ga suka dengan perubahan plan yang mendadak seperti ini. Tapi ga ada yang bisa saya lakukan kecuali berusaha tenang. Ikut ngebatalin perjalanan tentunya bukan pilihan buat saya. Jadwal cuti yang sudah di approved, investasi berupa tiket pesawat yang sudah dibeli ga mau saya sia-siakan begitu saja hanya gara-gara kurang nyaman traveling sendirian. Lagipula Australia gitu loh! Negara modern yang aman dan semua orang berbahasa Inggris. Cincai lahhh, paling-paling juga nyasar dikit-dikit.

Akhirnya dengan sisa waktu yang ada sebelum keberangkatan, disela-sela waktu berkemas dan menunggu pesawat, saya pergunakan sebaik-baiknya untuk melakukan riset yang jauh lebih mumpuni mengenai Australia terutama kota-kota yang saya pengen kunjungin. Dan yang paling utama banyak berdoa dan mempersiapkan mental!

Hasilnya, 2 minggu selama saya melakukan perjalanan di Australia, perjalanan saya mulus tanpa ada hambatan. Semua keceriaan traveling seperti ketemu temen baru, ngedatengin tempat-tempat keren dan nyobain beberapa aktifitas seru jadi highlight perjalanan saya.

Haishh, traveling itu tantangannya banyak banget yah! Ga hanya saat traveling, bahkan sebelum traveling berlangsung juga udah ada aja masalahnya. Intinya sih untuk ngadepin situasi sulit, tetep berfikir positif dan selalu siapin diri dan mental dengan segala kemungkinan yang bakal terjadi. Alangkah lebih baiknya lagi, traveling sendiri atau berbarengan, tetap sediakan waktu untuk riset untuk bekal informasi. Apapun halangannya kawan, the trip must go on... :)

Lanjut yuukk...

Monday, November 12, 2012

Sebelum jalan-jalan, riset yuk!

Saya suka mesem-mesem kalo baca timeline Trinity di twitter waktu jawabin beberapa pertanyaan dari followersnya dengan nada ketus seperti “Google aja!” atau “Google Airways!” Kalo dipikir-pikir, gimana penulis seterkenal Trinity ga kesel ditanyain hal-hal dasar soal jalan-jalan seperti “Kalau ke Singapura nginep dimana kak?” atau “Maskapai penerbangan ke Bangkok apa aja sih kak?” Udah pada tahu kan kalo jawaban pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya bisa mudah didapet dari hasil riset di internet atau baca buku panduan?

Hidup di era teknologi canggih seperti sekarang ini, pastinya akses internet untuk banyak search engine itu mudah banget. Google, Yahoo dan Bing adalah beberapa search engine yang paling sering diakses untuk tujuan riset. Semua bisa mudah diakses lewat PC, Laptop, iPad, Note, Smartphone dan benda-benda berteknologi canggih lainnya.

Selain search engine, masih ada beberapa website penting lainnya yang bisa membantu kita mendapatkan informasi tambahan untuk melakukan persiapan perjalanan seperti:
1.Travel Search Engine: Wego, Kayak, Expedia
2.Penginapan: Agoda, Hostel World, Hostel Bookers
3.Objek wisata dan tips: Lonely Planet, Wikitravel, TripAdvisorTravelFish
4.Penukarang Mata Uang: EX
5.Maskapai penerbangan: Air Asia, JetStar, Tiger Airways, Cebu Pacific,Garuda Indonesia, Citilink, Lion Air, Sriwijaya Air, Batavia Air, Mandala Air

Saya yakin masih banyak sekali website penting yang berhubungan dengan traveling berseliweran di internet yang bisa digunakan. Website-website di atas bisa digunakan sebagai referensi supaya makin banyak bahan bacaan untuk masukan dan tambahan informasi.

Terus kenapa masih males riset dengan semua kemudahan akses informasi yang ada? Kayaknya sih sebenarnya bukan males riset ya. Cuman bingung karena kurang tau kata kunci yang harus dipakai saat melakukan riset. Nahhh, buat bantu temen-temen yang belum terbiasa riset, berikut ini beberapa contoh kata kunci dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang bisa dipakai untuk membantu saat melakukan riset di search engine.

Kata kunci mencari penginapan:
Penginapan murah di Bali/Cheap accommodation in Singapore/Hostel-homestay in Australia/Accommodation below $10.

Kata kunci mencari tempat wisata:
Objek wisata terkenal di Lampung/Things to do and see in Cambodia/Famous places in Indonesia/Festival in Japan

Kata kunci akses transportasi:
Maskapai penerbangan ke Singapura/Cara ke Karimun Jawa/Cara ke Jogjakarta dari Bandung/How to get to Laos from Bangkok.

Kata kunci tentang situasi di sebuah kota atau negara:
What to know about Vietnam/How safe is India?/Do's and Don'ts in Lombok.

Kata kunci kuliner:
Makanan khas Solo/Oleh-oleh khas Medan/What to eat in Bangkok/Traditional food in Laos/Famous restaurant in Hong Kong/Unique restaurants in the world.

Percaya deh, hanya dengan riset kita bakal banyak dibekalin dengan informasi penting untuk persiapan jalan-jalan mulai dari transportasi, akomodasi, makanan bahkan sampai tahu segala issue keamanan negara tersebut! Kadang-kadang, informasi Do’s and Don’ts sebuat tempat juga ada supaya kita bisa bertingkah laku sesuai dengan budaya setempat.

Riset itu ga melulu hanya melalui internet. Riset perjalanan juga bisa didapat dari buku panduan jalan-jalan yang banyak dijual di toko buku. Selain itu, beberapa akun twitter juga menyediakan dan sering berbagi informasi mengenai tempat-tempat seru untuk liburan atau informasi penting lainnya seperti pembuatan paspor, visa dan lainnya.

Pengen tau ga pendapat beberapa teman saya di twitter mengenai pentingnya riset? Yuk, kita simak.

@meleoreo: Riset penting untuk estimasi budget yang akan kita keluarkan.
@quoide9: Riset penting biar ada bayangan di tempat baru seperti apa supaya ga kaget.
@AanIsmiyana: Riset penting buat referensi cost dan lain-lain.
@smasyitah: Riset penting biar ga nyasar, biar tau di sana ada apa dan mau ngapain, terus biar planning budgetnya jelas.
@mrHepi dan @ernayulip: Riset penting biar tahu apa yang perlu dipersiapkan untuk “perang”. Riset itu layaknya orang ke medan perang, bisa bantu isi kepala untuk mempersiapkan medan. Sampai tempat tujuan ga terlalu canggung.
@festysoebagyo dan @jackamizh: Riset dilakukan untuk bikin itinerary, biar tahu ancer-ancer tempat, budget dan waktu.
@TaniaSavana: Riset penting untuk cari tempat menarik, membantu estimasi dana, alokasi waktu dan oleh-oleh.
@kokohrocha: Riset penting buat second opinion terutama forum kayak TripAdvisor & Thorn Tree. Biar ga percaya promo mentah-mentah.
@azazafighting: Riset penting buat bertahan kalo ada apa-apa dan ga kaget di tengah jalan. Spontan emang lebih seru, namun punya persiapan bikin lebih mantap!
@ranselindo: Jadi tau cuaca, perlengkapan dan baju yang harus dibawa. Bahkan sampai tau aman atau tidak suatu tempat.

Nah gimana, kamu setuju ga dengan pendapat temen-temen di atas? Ternyata manfaat riset sebelum melakukan perjalanan banyak juga kan?

Kalo buat saya pribadi, riset sebelum jalan-jalan adalah hal yang paling saya nikmati. Pas liat pilihan objek wisata yang bakal dikunjungi apalagi foto-foto destinasi yang keren, perut saya bisa melintir saking senengnya! Rasanya kayak saya sudah ada di destinasi baru itu! Hati-hati loh, riset tentang destinasi perjalanan itu ternyata bikin ketagihan! Bahkan kadang-kadang hanya riset di internet atau membaca buku perjalanan, rasanya kita sudah jalan-jalan dan menikmati perjalanan di kota maupun negara yang pengen dikunjungin!

Lanjut yuukk...

Thursday, November 1, 2012

[Rinjani] Kaki Merana, Mata Bahagia

Setelah melakukan persiapan menuju Rinjani di postingan blog sebelumnya, akhirnya saya siap hati dan mental untuk berjibaku melakukan pendakian ke sana.

Hari pertama, tepat jam 5:00 pagi saya bersama Bintang dan Mas Amet bertolak dari Senggigi menggunakan mobil menuju Senaru. Perjalanan ini memakan waktu 2 jam, sehingga saya pakai sebaik-baiknya untuk meyambung tidur. Setelah sampai di Senaru ternyata tujuan kesana hanya untuk menjemput porter. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Sembalun yang merupakan salah satu titik keberangkatan pendakian Rinjani. Selama pendakian, medan yang saya lalui sangat beragam dan menantang tiada tara! Sabana mengawali pendakian, lalu sedikit area hutan basah, dilanjutkan dengan rerumputan lalu perbukitan pasir yang berdebu dan diakhiri dengan area bukit berbatu dengan kondisi angin yang sangat kencang. Total pendakian yang saya lakukan di hari pertama hingga mencapai Pelawangan di ketinggian 2600 mdpl adalah 9 jam! Jangan ditanya gimana susahnya pendakian kesana! Yang pasti membuat engsel-engsel lutut gemetar dan godaan menyerah di tengah pendakian selalu datang dan pergi.

Dari Pelawangan, saya sudah bisa melihat puncak Rinjani yang memiliki ketinggian 3726 mdpl dan Danau Segara anak yang berada di bawah Pelawangan di ketinggian 2000 mdpl. Pemandangan yang tampil di sana terlalu keren! Sayangnya, angin di Pelawangan yang kencang ga mengijinkan saya dan para pendaki lain untuk berlama-lama berada di luar tenda menikmati pemandangan indah tersebut. Jadi sejak matahari terbenam, kami semua melakukan aktifitas di dalam tenda, menikmati makan malam dan langsung tidur untuk mengistirahatkan badan dan kaki yang lelah karena pendakian yang berat seharian.

Hari kedua, setelah beristirahat secukupnya, jam 2:30 pagi Bintang dan Mas Amet melakukan pendakian ke puncak ke Rinjani. Saya memutuskan untuk melanjutkan tidur di tenda dan ga melakukan pendakian ke puncak Rinjani karena keadaan fisik yang ga memungkinkan. Saat pagi menjelang, saya bergabung dengan para pendaki berlabel tidak ambisius karena ga melakukan pendakian ke puncak. Jadi kami leyeh-leyeh di sekitar tenda buat ngobrol dan minum teh sambil menikmati matahari yang perlahan terbit dari ufuk timur. Saat kabut tebal mulai menghilang beriringan dengan semakin tingginya matahari, keindahan Danau Segara Anak sudah mulai mencuri perhatian saya.

Beberapa pendaki yang melakukan perjalanan ke puncak tampak sudah banyak yang turun. Saya pikir mereka sudah mencapai puncak, jadi saya dengan semangat menanyakan kondisi dan pemandangan di puncak Rinjani. Namun ternyata banyak pendaki y ang mengalami kesulitan melakukan pendakian ke puncak karena angin sangat kencang, sehingga kebanyakan pendaki memutuskan untuk kembali turun dan ga melanjutkan perjalanan. Track menuju puncak Rinjani yang sempit dan ga ada pegangan ditambah dengan angin kencang memang jadi momok besar buat para pendaki. Saya “angkat topi” untuk para pendaki tangguh yang dapat mencapai puncak Rinjani. Dan tentunya bangga banget sama Bintang, walaupun harus menempuh total 7 jam perjalanan, Bintang berhasil mencapai puncak Rinjani! YAYYY!

Setelah sarapan, saya bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Danau Segara Anak di ketinggian 2000 mdpl. Orang bilang turun gunung. Senang rasanya perjalanan hari ini saya akan turun gunung. Tapi siapa yang sangka, di Rinjani, pendakian ke atas gunung maupun turun gunung sama susahnya! Trekking 4 jam berikutnya, saya harus melalui medan batu-batu terjal dan curam yang cukup sulit untuk dilalui dalam posisi menurun. Untungnya sepanjang perjalanan saya ditemani dengan kabut yang sangat tebal. Walaupun terasa sangat mistis, tapi kabut tebal menolong saya untuk menutupi bukit-bukit curam yang ada di sisi kanan sehingga tidak terlihat. Kalau terlihat, ketegangan perjalanan akan memuncak karena kuatir takut jatuh!

Satu jam terakhir, batu-batu terjal mulai tergantikan dengan keberadaan bukit-bukit hijau dan sabana berwarna keemasan. Danau Segara Anak juga sudah terlihat dari kejauhan. HOREE, perjalanan saya sudah mau sampai. Sesampainya di Danau Segara Anak, pemandangan yang lebih indah mengejutkan saya! Anak Gunung Rinjani yang berada di tengah danau sungguh mentereng dan memukau.

Tapi Danau Segara Anak ternyata ga hanya punya danau kawah yang indah dan Anak Gunung Rinjani yang megah loh! Ternyata Danau Segara Anak juga punya sumber mata air panas!! Batu-batu besar secara natural membentuk kolam-kolam kecil yang dialiri oleh sumber mata air panas yang digunakan sebagai tempat mandi atau berendam penduduk lokal dan para pendaki. Bahkan, sumber mata air panas ini airnya mengalir deras dan membentuk air terjun alami. Bayangin deh, air terjun dari sumber mata air panas?? Fenomenal banget! Ga pakai basa-basi, saya langsung menceburkan diri dan berenang-renang di kolam air panas untuk mengusir lelah. Rasanyaaaaaa nikmaatttt!!

Ga seperti di Pelawangan, untungnya suasana malam di Danau Segara Anak jauh lebih bersahabat. Ga ada angin yang bertiup kencang dan hawa dingin ga begitu menusuk di tulang. Saya dan Bintang jadi punya kesempatan untuk ngobrol asik dengan para pendaki lain. SERUU!

Hari ketiga, yang merupakan hari terakhir pendakian sengaja dimulai cukup awal karena kami ga pengen sampai di Senaru terlalu malam. Konon kabarnya, pendakian di hari terakhir ini cukup menyiksa karena banyak pendakian curam yang harus dihadapi. Setelah berpamitan dengan teman-teman pendaki yang lain, saya beranjak meninggalkan kawasan perkemahan Danau Segara Anak. Pendakian yang terakhir ini harus diakui benar-benar menguras mental dan fisik. Saking terjalnya pendakian, banyak tersedia pancang besi yang dipasang di beberapa area yang cukup curam untuk alasan keamanan dan memudahkan pendakian.

Yang membuat pendakian sulit selama kurang lebih 4 jam ini jadi sangat menarik adalah… pemandangan indah puncak Gunung Rinjani bersatu dengan Anak Gunung Rinjani yang tampak mengapung di tengah air Danau Segara Anak yang berwarna kehijauan!!! Capek dan rasa sakit di kaki yang saya rasakan dengan mudah teralihkan dengan semua keindahan ini! Mata saya selalu berbinar-binar melihat keindahan lain yang ditawarkan oleh Indonesia.

Setelah berhasil menaklukan puncak Pelawangan kedua, kegiatan turun gunung selama 6 jam yang tak kalah beratnya dimulai melalui bebatuan terjal, debu pasir yang sangat licin dan diakhiri dengan kawasan hutan basah yang subur. Rasanya seperti pahlawan pulang kampung saat berhasil sampai di Gerbang Senaru, Taman Nasional Gunung Rinjani!

Sebelum berpisah, Mas Amet sempat menyeletuk, "Mbak Rini, seninya mendaki Rinjani itu memang membuat kaki merana tapi mata bahagia!" Aaahh, sebuah ungkapan yang sangat tepat untuk menggambarkan rangkaian petualangan saya di Rinjani selama 3 hari.

Kaki Bintang dan saya memang kelelahan setelah pendakian. Setiap beranjak dari tempat tidur atau kursi kami harus mengerang kesakitan karena paha dan betis kami belum rela ditekuk. Gaya kami selalu terlihat seperti pinokio yang oleng kesana-kemari saat bangun tidur. Kami bahkan berjalan kayak robot atau malah kayak tentara yang berjalan dengan kaki tegak lurus selama berhari-hari!

Tapi ungkapan itu benar, “kaki merana, mata bahagia”. Bahkan hingga saat ini, setelah 2 bulan pendakian, pemandangan indah Rinjani masih melekat kuat di ingatan kepala dan sesekali menari-nari di mata saya!

Lanjut yuukk...

Wednesday, September 19, 2012

[Rinjani] Persiapan Pendakian

Lombok tampak sedang berbenah untuk memaksimalkan potensi objek-objek wisata yang ada. Gunung Rinjani yang cantik dan puluhan pulau-pulau indah di sekitar Lombok seperti Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air, Gili Nanggu, Pantai Jerowaru dan yang lainnya mulai berkibar di kancah pariwisata Indonesia. Apalagi dengan keberadaan Bandara Internasional Lombok (BIL) yang mulai beroperasi sejak November 2011, hal ini makin memudahkan wisatawan asing untuk mencicipi keindahan Lombok. Bahkan Air Asia sudah mulai membuka rute penerbangan langsung dari Kuala Lumpur menuju Lombok!

Saya dan Bintang akhirnya memilih Lombok sebagai destinasi tujuan jalan-jalan karena penasaran ingin mendaki Gunung Rinjani dan menyelam di Gili Trawangan. Setelah melakukan research mengenai Rinjani dan Gili Trawangan, kami mulai melakukan beberapa persiapan seperti membeli tiket pesawat, mencari penginapan dan melakukan reservasi untuk trekking trip ke Rinjani.

Pada hari yang ditentukan, saya terbang dari Bandara Soeta Jakarta menuju Bandara Internasional Lombok (BIL) yang berlokasi di Praya, Lombok Tengah. Segera setelah pesawat mendarat, saya langsung menuju loket tiket Damri dan membayar Rp. 25,000 untuk tiket bus menuju Senggigi. Perjalanan menuju Senggigi bisa mencapai 1-1.5 jam dengan kombinasi pemandangan persawahan, kota dan pesisir pantai. Alternatif transportasi lainnya dari BIL adalah taxi namun dengan biaya yang lebih mahal, yaitu Rp. 125,000 – Rp. 130,000.

Sesampai di Senggigi, saya menuju penginapan Sendok Guesthouse dan mendapat kamar Junior Standard sesuai dengan reservasi kamar yang sudah dilakukan melalui Agoda. Harga kamar tersebut adalah Rp. 250,000/malam, namun melalui Agoda saya mendapatkan potongan harga menjadi Rp. 217,000/malam. Alternatif tempat menginap di area Senggigi dengan harga terjangkau adalah The WiraIndah Homestay atau Ziva Queen Homestay Untuk informasi lengkap akomodasi lainnya di Senggigi, bisa cek di sini.

Sore harinya saya mendapat kunjungan dari Mas Amet, senior guide Lombok Tropic Holiday yang akan memandu saya dan Bintang melakukan pendakian menuju Rinjani selama 3 hari 2 malam. Saya mendapatkan penjelasan yang cukup detil dari Mas Amet mengenai pendakian Rinjani yang akan saya lakukan selama 3 hari ke depan, seperti medan pendakian yang akan dihadapi, ketinggian yang akan ditempuh setiap harinya dan perlengkapan pribadi yang harus dibawa.

Barang-barang pribadi berikut adalah barang yang wajib dibawa saat pendakian Rinjani:

  • Botol air
  • Masker untuk menghindari debu
  • Sarung tangan untuk menjaga tangan tetap hangat
  • Wind breaker untuk menepis angin yang sangat kencang
  • Jaket tebal/sweater berbahan fleece untuk mengusir dingin
  • Baju dan celana ganti selama perjalanan
  • Senter
  • Tongkat Hiking
  • Sepatu olahraga/hiking
  • 3-4 buah kaus kaki
  • Alat mandi lengkap dengan tisu toilet
  • Obat-obatan
  • Energy Bar/Biskuit/Permen
  • Kamera
  • Topi 
Sebaiknya barang tersebut di atas dimasukkan dalam carrier maksimal 20 liter sehingga ga terlalu berat untuk dibawa selama pendakian.

Mungkin kebanyakan teman-teman bertanya mengapa saya ga melakukan pendakian secara independen, tapi malah menggunakan jasa agen perjalanan untuk melakukan pendakian ini. Dalam hal ini saya mengakui keterbatasan perlengkapan naik gunung, logistik dan pengetahuan yang saya miliki, karena saya bukanlah pendaki gunung yang handal. Apalagi dengan umur yang sudah cukup menua ini, keterbatasan fisik saya juga ikut berperan penting! Jujur saya ga memiliki pengalaman mendaki gunung sebelumnya. Kalaupun ada, medan pendakian gunung yang pernah saya lakukan ga memakan waktu berhari-hari seperti Rinjani. Oleh karena alasan tersebut, saya merasa lebih nyaman untuk menggunakan jasa agen perjalanan walaupun harus mengeluarkan dana yang ga sedikit, yaitu Rp. 1,800,000 untuk perjalanan selama 3 hari 2 malam. Namun jika ingin mendapatkan harga yang lebih kompetitif, sebaiknya langsung menghubungi guide, seperti Mas Amet.

Alternatif lain untuk mendaki Rinjani dengan bujet terjangkau tentunya bisa dilakukan secara independen dengan bergabung bersama klub-klub pencinta alam yang ada di sekolah maupun universitas. Biasanya dalam klub pencinta alam diajarkan banyak hal yang berkaitan dengan olah fisik, peralatan pendakian, ransum makanan yang dibutuhkan dan masih banyak lagi.

Pesan saya buat kalian yang masih muda dan masih memiliki tenaga, sebaiknya rencanakan perjalanan ke Rinjani mulai dari sekarang, karena medan pendakian Rinjani tidak mudah dan membutuhkan kondisi fisik yang sangat fit.

Setelah menginjakkan kaki di Rinjani, saya berpendapat bahwa Rinjani adalah salah satu gunung di Indonesia yang wajib dikunjungi karena keindahannya dan banyak pilihan objek wisata lain yang dapat dilihat di kawasan tersebut. Pantengin postingan blog berikutnya, untuk tahu dengan jelas bagaimana medan pendakian dan pemandangan yang ditawarkan Rinjani…

Lanjut yuukk...

Tuesday, September 11, 2012

[Rinjani] Persahabatan di Gunung

Selama ini saya mengaku lebih suka pantai ketimbang gunung. Saya ga ngerti, mungkin karena saya lahir dan besar di Bontang, kota yang berada di pesisir pantai yang ga memiliki area pegunungan hingga membuat saya merasa lebih nyaman berada di daerah pantai. Ditambah lagi tujuan perjalanan saya selama ini memang lebih banyak di daerah pantai karena saya senang melakukan aktifitas olahraga air. Filipina dan Palau, dua negara dimana saya pernah menghabiskan waktu untuk bersekolah dan bekerja juga merupakan negara kepulauan yang tidak jauh dari keindahan pantai dan lautnya. Kalau naik gunung? Yaaa, empat lima kali saya naik gunung pernah juga. Tapi medan yang dilalui juga ga terlalu berat. Mentok-mentok saya hanya membutuhkan 8-10 jam pendakian untuk mencapai puncak.

Mengunjungi Rinjani adalah salah satu mimpi terbesar saya, walaupun saya tau untuk kesana adalah sebuah tantangan besar. Tentunya karena umur makin tua, jadi badan saya yang sudah merenta ini makin susah diajak kompromi dengan aktifitas pendakian yang berat berhari-hari! Saya sudah banyak mendengar bahwa pendakian Rinjani memiliki medan yang sangat beragam dan sulit, ditambah lagi suhu udara yang dingin dan oksigen yang tipis bikin saya sempat galau untuk mewujudkan mimpi saya yang satu ini. Beberapa minggu sebelum melakukan pendakian, benar-benar memaksa saya untuk meningkatkan jadwal pergi ke pusat kebugaran menjadi lebih sering. Aktifitas cardio seperti lari dan berenang pun menjadi sahabat karib saya sebelum menjelajah Rinjani.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pagi itu bersama saya dan Bintang, banyak sekali turis asing yang melakukan pendakian ke Rinjani. Adalah wajib hukumnya bagi turis asing untuk menggunakan jasa porter dan guide saat melakukan pendakian Rinjani. Sedangkan alasan saya memilih untuk menggunakan jasa porter dan guide sangatlah sederhana, karena sudah dapat dipastikan badan saya tidak memungkinkan untuk membawa persediaan logistik selama 3 hari 2 malam yang beratnya amit-amit itu! Takut di tengah pendakian saya tepar karena encok kambuh!

Kawasan Taman Nasional Rinjani memang indah! Medan perjalanan 3 jam pertama, saya ditemani dengan sinar matahari yang sangat terik di area savanna yang sangat cantik. Saat itu badan masih segar bugar, sehingga medan pendakian masih terasa sangat bersahabat walaupun panas cukup mendera. Saya bersama pendaki lain bahkan masih sempat berhenti untuk istirahat makan siang dengan menu makanan yang menurut saya mewah dalam sebuah pendakian, berupa capcay dan ayam goreng yang dimasak dengan kayu bakar oleh para porter handal.

Dengan tambahan energi yang didapat setelah makan siang, saya mulai melanjutkan pendakian. Kali ini pendakian sudah semakin berat. Tanjakan curam berbatu dan berdebu sudah mulai menemani pendakian saya. Yang membuat saya kegirangan adalah di tengah pendakian saya semakin banyak bertemu dan berteman dengan para pendaki Indonesia yang melakukan pendakian secara independen. Bahkan saya sampai terkagum-kagum karena banyak dari mereka yang mampu memanggul carrier 70 liter! Sambil ngos-ngosan, saya iseng bertanya, “Mas, kuat banget sih bawa carrier segini besar. Emang apa isinya?” Dengan tampang lucu mereka menjawab, “Wah, ini bawa kulkas 3 pintu mbak! Lengkap sama gensetnya!!” Hahaha, pecahlah tawa kami semua. Mendadak pendakian yang berat itu terasa lebih ringan dengan guyonan ringan ini.

Banyak juga saya berpapasan dengan teman-teman yang saat itu turun gunung selepas mendaki Rinjani. Setiap kami berpapasan, mereka selalu menyapa dengan tulus, “Semangat kak! Sudah tinggal 2 bukit lagi. Pasti bisa!” Aduuh, 2 bukit itu setinggi dan sejauh apa yaa? Kok rasanya ga sampai-sampai juga?? Yang pasti, sapaan sederhana seperti itu saat naik gunung menjadi sangat berarti karena benar-benar memberikan semangat.

Di bukit terakhir sebelum menuju Pelawangan (Pintu Rinjani), tempat dimana saya akan beristirahat di malam pertama, saya tertinggal cukup jauh dari Bintang. Medan berbatu dengan tanjakan curam 60° itu membuat langkah kaki saya semakin terseok-seok dan napas saya terengah-engah. Angin kencang khas Rinjani yang dingin terasa ingin menerbangkan tubuh saya ke bukit sebelah saking kencangnya. Saya masih terus berusaha untuk mendaki, walaupun langkah saya semakin pelan dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat. Jika melihat jalur pendakian yang semakin ke atas semakin sulit, saat itu saya ga yakin saya punya kemampuan dan tenaga tersisa untuk melalui medan berat itu.

Di ketinggian 2400m, tiba-tiba saja kondisi tubuh saya melemah. Kepala sakit ga karuan, rasa mual di perut tak tertahankan dan napas saya semakin pendek. Saya ga tau apa yang terjadi dengan tubuh saya hingga Mas Amet, sang guide meminta saya untuk beristirahat merebahkan diri di dataran yang cukup landai. Ga lama seorang anak perempuan yang ga saya kenal mendekati saya dan bertanya, “Kakak kenapa?”. Saya cuman bisa menggelengkan kepala. “Sakit kepala ya kak? Kakak punya darah rendah ga? Aku kasih Sangobion ya biar kakak sedikit kuat”. Saya cuman bisa menganggukkan kepala.

Sebelum mampu mengkonsumsi Sangobion yang dia berikan, saya sudah tidak mampu menahan rasa mual di perut hingga harus memuntahkan seluruh isi makan siang. Mental saya mulai down membuat hati saya galau maksimal. Dengan kondisi tubuh yang melemah dan medan berat yang menanti, saya takut ga mampu untuk sampai di Pelawangan sebelum matahari tenggelam. Lebih lagi, saya ga enak hati menyusahkan sang guide. Setelah dibantu Mas Amet mengisi ulang perut dengan biskuit manis dan minum oralit, saya melanjutkan istirahat. Sekitar 10 menit beristirahat dan rasa mual sudah mulai sedikit hilang, saya mengkonsumsi Sangobion dan mencoba meneruskan pendakian. Saya baru mengerti, ternyata saat itu saya terserang altitude sickness.

Anak perempuan yang memberikan Sangobion dan beberapa teman lainnya ternyata beristirahat tidak jauh dari tempat saya berdiri. Mereka semua menyemangati saya, “Ayo kak, jangan down ya! Dicoba terus walaupun pelan-pelan. Semangat kakak!” Ga terasa air mata saya mengalir karena ketulusan yang mereka tunjukkan di saat sulit yang sedang saya hadapi. Saya baru mengerti arti kalimat “semangat kakak” yang sebenarnya hadir di menit tersebut.

Dibantu Mas Amet, saya terus mendaki dan mendaki bersama dengan pendaki lain yang juga kewalahan mengalahkan bukit terakhir menuju Pelawangan. Kami saling menyemangati hingga akhirnya dengan kerja keras dan air mata, saya berhasil mencapai Pelawangan di ketinggian 2600m bahkan sebelum matahari terbenam. Sebuah pencapain buat anak pantai yang manja seperti saya! *Sujud Syukur!

Waktu-waktu yang bergulir di Rinjani diisi dengan banyak hal berbagi. Saya memberikan panadol untuk teman baru di tenda sebelah yang sakit kepala, mereka memberikan Counterpain yang Bintang butuhkan saat lututnya bermasalah. Mereka berbagi teh hangat di pagi hari, saya berbagi sarapan dengan teman-teman yang lain. Saya diberikan permen pedas buat bekal di jalan, mereka mendapat jatah makan siang yang ga pernah mampu saya habiskan. Nyanyi bareng lagu-lagu Iwan Fals sambil melihat matahari terbit dari Pelawangan juga jadi satu memori berbagi yang indah saat di Rinjani.

Terus terang di awal pendakian Rinjani saya langsung kapok dan ga pengen naik gunung lagi. Tapi, persahabatan dan lingkaran kebaikan yang ditunjukkan oleh teman-teman di Rinjani terus berlanjut dan memberikan kenangan tersendiri untuk perjalanan saya kali ini.

Keindahan Rinjani benar-benar memukau dan membahagiakan mata kepala saya. Tapi keindahan persahabatan di gunung pun sungguh mengagumkan dan membahagiakan mata hati saya..

Lanjut yuukk...

Sunday, August 12, 2012

[Adv] Eksotisme Tanjung Lesung

Kalau boleh jujur, saya sering merasa kesulitan saat harus memberikan rekomendasi destinasi wisata pantai keren yang ada di Pulau Jawa. Apalagi kalau ditambah dengan embel-embel “Yang akses menuju kesananya ga repot dan lama yah!” Jiaaahh, tahu ga sih kalau jawaban akan pertanyaan itu sebenarnya susah sekali! Destinasi pantai di Pulau Jawa yang saya tahu biasanya mengharuskan para pencinta jalan-jalan untuk terbang dari Jakarta dan melanjutkan perjalanan dengan kapal feri atau kapal cepat untuk mencapai tujuan akhir. Jadi, dimana yah kira-kira pantai yang kecantikannya memukau dan mudah aksesnya dari Jakarta?

Jawaban akan pertanyaan itu saya dapatkan segera setelah saya didapuk untuk bergabung dalam liburan seru selama 3 hari ke sebuah destinasi wisata pantai cantik yang berada di Banten. Dannn, liburan seru ini jadi makin seru karena kehadiran para travel blogger kawakan nan gokil seperti Trinity, Veny, Mumun Indohoy, Harris Maulana dan Barry Kusuma. Aheeyy!


Destinasi liburan kami adalah Tanjung Lesung! Saya tidak menyangka, hanya dengan melakukan perjalanan darat berdurasi kurang lebih 4 jam dari Jakarta, keramahan pantai berpasir putih dan birunya air laut langsung menyapa saat tiba di Tanjung Lesung. Menyusuri jalan menuju kompleks Kalicaa Villa, jajaran pepohonan tinggi di kedua sisi jalan menyisakan kesan musim gugur seperti di negara-negara subtropis ketika banyak dedaunan berwarna keemasan berterbangan di udara dan berjatuhan di jalan.

Saya makin kegirangan saat sampai di Kalicaa Villa, dimana saya akan tinggal menghabiskan 3 hari berlibur di Tanjung Lesung. Sebuah villa mewah dengan fasilitas 3 kamar, cukup untuk menampung saya dan kelima teman travel blogger lainnya. Di setiap kamar dilengkapi dengan AC dan tempat tidur yang nyaman. Tak kalah menariknya adalah kamar mandinya yang luas dilengkapi bathtub dan shower dengan gaya atap terbuka. Tapi yang menjadi highlight villa ini adalah, tepat di tengah villa terdapat bungalow dan sebuah kolam renang untuk bersantai dan berenang-berenang cantik! Byuurr!

Walaupun villa mewah sangat menggoda saya untuk sekedar leyeh-leyeh di pinggir kolam, tapi saya lebih memilih menggoes sepeda di area yang sedikit berpasir bersama teman-teman karena tidak sabar untuk menikmati sore di Sunset Beach. Saya menggoes sepeda dengan santai menuju dermaga Sunset Beach untuk melihat koleksi terumbu karang yang cukup jelas terlihat karena air surut lalu bergabung bersama yang lain untuk berenang di laut. Di saat air pasang, dermaga Sunset Beach merupakan salah satu snorkeling spot menarik di Tanjung Lesung yang banyak dikunjungi karena koleksi ikannya beragam dan terumbu karangnya hidup sehat. Bahkan sebagai bagian dari kepedulian akan lingkungan, pihak Sunset Beach juga menggalakkan program implantasi terumbu karang di sekitar dermaga.

Ketika hari semakin sore dan matahari sudah semakin merunduk untuk siap tenggelam, saya beranjak dari Sunset Beach, kembali menggoes sepeda menuju Bodur Beach, satu lagi pantai memukau yang berada di area Tanjung Lesung. Pasir putihnya yang lembut dan air laut berwarna kehijauan berpadu dengan biru tua langsung berhasil mencuri hati saya dan teman-teman travel blogger. Beberapa dari kami bahkan langsung berlarian menceburkan diri ke laut untuk berenang. Dasar pasir yang sangat lembut dan kedalaman air yang cukup dalam membuat aktifitas berenang saya jauh lebih nyaman dibandingkan dengan Sunset Beach. Yang membuat kegiatan berenang jadi semakin menyenangkan adalah ketika gulungan ombak besar mendekat ke pantai, saya dan teman-teman dibawa terombang-ambing mengikuti arus ombak yang menyeret kami hingga ke pantai. Bukannya ketakutan, tapi kami malah tertawa kesenangan, bahkan ketagihan menanti gulungan ombak berikutnya datang!

Buat saya pribadi, momen yang tidak akan saya lupakan di Bodur Beach sore itu adalah kehadiran matahari yang berbentuk bulat sempurna berwarna jingga menemani kami berenang hingga akhirnya matahari perlahan menghilang di bawah garis langit dan meninggalkan semburat-semburat jingga di langit. Duh, kapan lagi bisa menikmati momen berharga seperti itu? Kesempatan berenang di pantai cantik ditemani dengan sunset yang mempesona tidak selalu hadir dalam momen kehidupan kita. Saya bersyukur diberi kesempatan untuk menikmati indahnya ciptaan Tuhan di negeri sendiri.

Selain sunset yang memukau, Bodur Beach ternyata masih menyimpan potensi keindahan lainnya di pagi hari. Di hari terakhir saya berada di Tanjung Lesung, bersama dengan Trinity dan Mumun, saya menyempatkan diri untuk bermain model-modelan di Bodur Beach. Apalah artinya pantai yang indah tanpa model-model yang narsis kan? Kami tentunya tidak ingin melewatkan momen berharga untuk berpose bak model internasional untuk memberikan tambahan aksen dan ornamen eksotis Bodur Beach. Tidak perlu banyak berkata-kata, namun dari hasil foto yang ada di blog ini, sudah dipastikan kalau keindahan Bodur Beach semakin memukau dengan kehadiran kami bertiga kan? *harus setuju!

Sebagai informasi, Tanjung Lesung juga merupakan salah satu titik keberangkatan untuk menyambangi Pulau Peucang yang berada di Taman Nasional Ujung Kulon dan Anak Krakatau. Tentunya hal ini memudahkan para pencinta jalan-jalan untuk dapat berkunjung ke dua destinasi tersebut karena perjalanan dengan kapal cepat menuju kedua pulau hanya berdurasi kurang lebih 1.5 – 2 jam dari Tanjung Lesung. Pengen tahu keunikan Pulau Peucang? Kayaknya harus sabar mantengin postingan blog berikut saya yah. Tapi boleh ya saya sharing satu foto Pulau Peucang sebagai teaser supaya makin pengen berlibur ke sana!

Berbekal dengan memori indah selama 3 hari di Tanjung Lesung, setelah kepulangan dari sana, saya punya keyakinan tidak akan pernah mengalami kesulitan lagi saat menjawab seorang teman atau kerabat bertanya alternative destinasi wisata pantai di Pulau Jawa. Dengan mudahnya saya akan merekomendasikan mereka untuk berlibur di “Tanjung Lesung!

Lanjut yuukk...

Thursday, July 19, 2012

Packing di Trans TV

Minggu malam, aura keputus asaan sudah mulai bergentayangan dalam tubuh dan pikiran saya karena akhir pekan akan berakhir dan Senin akan datang! Huuu, itu berarti kejamnya kemacetan Ibukota dan pekerjaan menumpuk di kantor akan segera menyambut saya. Saat malam semakin larut, di tengah keputus asaan, saya mendapat sebuah pesan di twitter dari Trans TV yang menanyakan kesediaan saya untuk tampil di acara Semangat Pagi sebagai salah satu nara sumber yang akan membahas mengenai packing. Pesan singkat tersebut berhasil membuat mood jelek saya berubah menjadi keriaan! Ahheeeyyyy, masuppp tipiiii!! Bahkan saking senangnya, rasanya saya langsung punya energy besar yang bikin pengen koprol atau lari keliling rumah! Haha!
Esok harinya, beberapa kali saya berkomunikasi dengan pihak Trans TV untuk mendapat penjelasan mengenai bahan diskusi, jadwal syuting, baju yang sebaiknya dipakai, warna baju yang harus dihindari, pernak-pernik packing pribadi yang harus saya siapkan dan beberapa hal lainnya. Maklum newbie, jadi saya banyak membutuhkan pengarahan dan pencerahan biar ga salah bawa barang apalagi salah kostum!

Hari syuting yang ditentukan pun tiba. Sesuai dengan arahan, saya tiba di Studio 2 Trans TV tepat jam 7:00 pagi dan langsung bertemu dengan staff Trans TV yang memberikan briefing mengenai konsep acara dan pertanyaan-pertanyaan seputar packing yang kira-kira akan ditanyakan oleh host acara Semangat Pagi, yaitu Ersa Mayori dan Irgi Fahrezi. Agar penjelasan packing semakin mudah diterima oleh pemirsa di rumah, saya juga harus menyiapkan dan mengepak barang-barang penting yang biasanya dibawa saat melakukan perjalanan di dalam sebuah koper. Jadilah sambil menggulung baju dan mengepak, saya berusaha merangkai kata-kata indah untuk persiapan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar packing. Tapi yah, gara-gara grogi tingkat tinggi, malah ga ada kata-kata tepat yang bisa hinggap di kepala saya supaya bisa dihapalkan dengan baik. Arrrgghh..

Kegrogian mulai memuncak saat saya masuk ruang make-up untuk bersiap. Saya lihat Ersa dan Irgi juga sedang melakukan persiapan. Duuuhh duhh duhh, jaman SMP dulu, saya cuman bisa terkagum-kagum berat sama Ersa Mayori saat melihat foto dirinya menjadi pemenang Gadis Sampul di tahun 1993! Ga nyangka banget kalau hari itu saya ketemu langsung dan akan syuting bareng bersama dirinya!!! Hidup emang penuh kejutan yah?

Di ruang make-up saya pasrah saat bagian mata saya dikelir warna-warni dan muka saya digambar-gambar oleh sang make-up artist. Apalagi saat bedak setebel kasur pun ikut mendarat di pipi saya. Saya makin lemas saat bibir saya disapu dengan lipstick tebal berwarna merah merona! Aawwww, rasanya janggal sekali melihat muka saya berhias make-up! Saya sampai pangling melihat diri sendiri di depan cermin! Tapi sudahlah, demi penampilan maksimal di depan kamera tipi, saya nurut jadi ondel-ondel Ibukota!

Konsentrasi buyar saat menunggu waktu syuting. Ternyata ada dua bintang tamu lainnya, yaitu Ibnu Jamil dan Diego Mitchel ikut menyemarakkan acara Semangat Pagi hari itu. Hadeuh, saya makin berasa kayak anak bawang di antara artis-artis terkenal ini. Saat bagian syuting saya tiba, posisi berdiri pun langsung diatur. Duh, senengnya bukan main saat saya kedapatan berdiri di sebelah Diego. Rasanya badan pengennya condong ke kanan melulu biar bisa deketan sama dirinya. Wakakaka!

Nah, ini bagian paling penting. Saat kamera mulai bermain, jantung saya berdegup dengan kencang karena grogi tingkat tinggi. Saya takut suara saya parau, saya takut salah ngomong dan saya bingung mata saya harus menghadap ke kamera yang mana. Saking groginya, dalam dua menit pertama, saat menjelaskan barang-barang penting untuk packing, ketawa saya kelebaran, sampe-sampe mau mingkem saja saya bingung!!! DUODOLL TINGKAT DEWA!!

Tapi tapi tapi..saya bersyukur banget, ternyata Ersa, Irgi, Ibnu Jamil dan Diego, mereka semua baik dan lucu membuat suasana syuting menjadi sangat santai dan nyaman. Setelah beberapa menit berjalan, ketika menyampaikan informasi packing kepada pemirsa di rumah saya sudah ga grogi lagi, hingga bisa menjelaskan tips packing dengan maksimal dan masih bisa saling becanda satu dengan yang lain sehingga syuting terasa sangat natural.

Leganya minta ampun saat syuting akhirnya selesai. Ternyata beraksi di depan kamera untuk pertama kali dalam hidup emang ga mudah sama sekali. Tapi saya senang banget bisa dapet kesempatan untuk masup tipi dan berharap mudah-mudahan akan ada tawaran untuk masup tipi lagi di lain kesempatan. Doain yaaa ;)

Pengen liat tips packing seru dari saya dan pengen lihat kegrogian saya dimana saya kebingungan gimana caranya mau mingkem? Silahkan nonton youtube di bawah ini. Mohon dimaafkan kalau kualitas gambarnya sangat katrok, karena video ini diambil langsung dari layar TV.

Lanjut yuukk...

Tuesday, July 17, 2012

Asik Membatik di Museum Tekstil

Hari masih pagi dan panas matahari belum begitu terik, namun lalu lintas Jakarta sudah tampak sedikit padat. Minggu pagi yang istimewa itu, saya bersama dengan beberapa teman expat sengaja menyambangi Museum Tekstil. Kami ga sekedar ingin melihat koleksi batik nusantara, tapi tujuan utama kami kesana karena ingin belajar membatik! Weitss, asekk ga tuh?

Museum Tekstil pagi itu tampak lenggang. Dengan membayar Rp. 35,000 per orang, kami mendapat tiket masuk dan kesempatan untuk belajar membatik di sanggar batik yang berlokasi di belakang museum. Uniknya museum ini, kita memang bisa mempelajari lebih dalam mengenai seni budaya Batik beserta langkah-langkah pembuatannya secara langsung! Karena sudah tidak sabar untuk belajar membatik, kami langsung menuju sanggar batik di daerah belakang museum dan segera bergabung bersama dengan sekelompok anak SMU yang saat itu juga sedang belajar membatik.

Masing-masing kami diberikan selembar kain katun berwarna putih yang akan kami pergunakan untuk menggambar motif pada kain tersebut. Puluhan template motif batik sudah tersedia bagi pemula seperti kami untuk memudahkan proses menggambar dengan cara menjiplak template-template tersebut. Buat kamu-kamu yang pintar menggambar, kamu boleh kok langsung menggambar apapun sesuai kreatifitas kamu di atas kain katun tersebut. Berhubung saya ga bakat menggambar, saya langsung memilih template motif batik tidak terlalu rumit tapi menarik. Hanya menjiplak template motif tersebut dengan menggunakan pensil di atas kain katun. Ugh, baru menjiplak motif tersebut menggunakan pensil saja, tangan saya sudah gemetaran. Bagaimana nanti kalau menggunakan centing ya?

Teman-teman expat saya yang lain dengan semangat tingkat tinggi sudah menyelesaikan motif batik mereka di atas kain katun. Dengan bantuan mentor dari sanggar batik yang sudah memanaskan “malem” (lilin) di wajan mungil dan memilih centing-centing yang masih layak pakai, teman-teman saya mulai “memalem” motif batik mereka. Ga lama saya pun bergabung membentuk lingkaran dan melakukan kegiatan yang sama.

“Malem” adalah proses menggoreskan lilin dengan menggunakan centing pada kain katun. Asal tau aja, hal ini sungguh ga mudah untuk dilakukan. Dengan tangan yang konsisten gemetar karena grogi menggunakan centing, saya berusaha untuk memalem motif batik dengan rapih dan berusaha agar malem tidak berceceran di kain, karena dapat merusak keindahan motif batik di kain. Baru deh saat itu saya sadar kenapa batik tulis harganya bisa mencapai jutaan! Ya tentu karena proses pembuatannya yang rumit dan butuh kesabaran karena penyelesaiannya memakan waktu yang lama!!

Setelah proses malem motif batik di bagian depan dan belakang selesai, saya membawa kain batik tersebut ke bagian dapur sanggar. Pinggiran kain batik saya diberikan frame berbentuk kotak ataupun bulat, sesuai keinginan masing-masing dengan menggunakan zat kimia bernama paraffin. Setelah itu saya ke tempat pencucian dimana sudah terdapat ember-ember yang berjajar dengan rapih. Ember diisi dengan air untuk kegunaan yang berbeda. Ada yang berisi air bersih, ada juga yang berisi dengan campuran naptol dan pewarna kain yang berbeda sesuai dengan keinginan masing-masing.

Kain lalu dibilas dengan air bersih, dan dilanjutkan dengan dicelupkan ke dalam ember berisi naptol, yaitu pelekat garam warna. Setelah itu kain dimasukkan kedalam ember dengan pewarna. Saya memilih warna kuning cerah untuk hasil akhir batik saya. Warna kain yang awalnya putih berangsur-angsur berganti warna menjadi kuning dengan pinggiran berbentuk bundar.

Proses akhir adalah merebus kain agar malem ataupun lilin yang melekat dapat terlepas dari kain membentuk motif batik yang indah seperti yang saya inginkan! Kain saya bilas untuk terakhir kali agar malem benar-benar terlepas. Setelah itu saya kibaskan, BIM SALABIM!! Kain yang awalnya berwarna putih menjadi kain kuning dengan motif batik jawa yang menarik tergambar di kain tersebut. Uhuyyy, saya bangga sekali dengan hasil karya batik saya! Teman-teman saya juga bangga akan hasil membatik mereka dengan berbagai motif dan warna yang berbeda.

Coba deh sekali-sekali kalau weekend lagi ga ada acara, mampir main ke Museum Tekstil. Ga hanya dapet pengalaman baru yang seru, tapi dari membatik membuat kita diingatkan untuk semakin menghargai karya budaya Indonesia. Yang tergelitik hatinya untuk belajar membatik, bisa datang ke Museum Tesktil yang beralamatkan di Jl. Aipda Ks Tubun 2-4, Jakarta. SELAMAT MEMBATIK YAA TEMAN-TEMAN!!!!

Lanjut yuukk...

Wednesday, May 16, 2012

[Knock on wood!] Passport hilang dalam perjalanan?

Pada saat melakukan perjalanan, biasanya doa yang selalu dipanjatkan dengan sangat khusuk adalah meminta Tuhan agar dijauhkan dari segala marabahaya dan kecelakaan. Tentunya, dirundung musibah hingga mengakibatkan passport hilang dalam sebuah perjalanan memang hal yang tidak diinginkan setiap orang. Tapi kalo musibah itu terjadi dalam perjalanan gimana?

Tulisan ini terinspirasi oleh seorang sahabat bernama Sabrina yang baru saja kembali dari Ho Chi Minh City, Vietnam. Nahasnya, dalam perjalanan tersebut dirinya mengalami musibah.

Di satu pagi, bersama teman-teman, Sabrina  sedang asik melenggang di pinggir jalan memakai sling bag (tas selempang) menikmati suasana pagi Ho Chi Minh City yang sudah mulai ramai. Tidak Sabrina sadari, sebuah motor yang dikendarai oleh dua orang pemuda Vietnam melaju dengan kecepatan tinggi, mendekati dirinya dari belakang dan menjambret tas Sabrina!!! Semua isi tas berupa passport, dompet dan barang-barang elektronik melayang dalam hitungan detik!! Duuuh, baru membayangkan situasi sulit itu, saya langsung berdoa dalam hati supaya kejadian seperti itu tidak akan menimpa saya.

Sontak emosi kemarahan, kekesalan, kebingungan, kepanikan dan ketakutan bercampur jadi satu. Dengan sedikit sisa kewarasan yang ada dan bantuan teman-teman seperjalanan, Sabrina menuju Kantor Konsulat Jenderal RI. Keberadaan teman dalam situasi sulit seperti ini tentunya cukup memberikan kelegaan karena bantuan moral dan finansial dapat ditanggulangi dalam waktu singkat. Lah, tapi kalau kejadian seperti itu menimpa kita pada saat kita sedang solo traveling bagaimana? *gigit jari..

Saat sampai di Kantor Konsulat Jenderal RI, Sabrina langsung memberitahukan musibah yang terjadi. Dibantu oleh petugas konsuler Konsulat Jenderal RI, Sabrina mengisi beberapa formulir untuk mendapatkan Surat Perjalanan Laksana Paspor (“SPLP”) yang berfungsi sebagai dokumen pengganti passport yang telah hilang. Proses tersebut berjalan mulus karena Sabrina mempersiapkan perjalanan ini dengan baik sehingga tidak lupa untuk menyimpan soft copy passport dalam bentuk email. Hal ini tampak sepele, tapi sangat penting karena memudahkan petugas konsuler dalam melakukan pelacakan dan pemberian informasi kepada petugas Imigrasi di Indonesia untuk melakukan deaktivasi terhadap nomor passport yang hilang agar tidak disalahgunakan oleh pihak lain. Di hari yang sama, walaupun prosesnya cukup melelahkan Sabrina sudah mendapatkan SPLP yang bisa digunakan sekali jalan untuk kembali ke tanah air. SPLP dapat digunakan sebagai dokumen pendukung untuk pengurusan passport baru saat tiba di Indonesia.

Musibah memang tidak dapat dihindari. Namun hal-hal berikut ini dapat dilakukan sebagai tindakan pencegahan dan mitigasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam perjalanan.
1. Selalu siapkan fotokopi passport dalam bentuk hard copy maupun soft copy dalam email atau smart phone saat melakukan perjalanan. Hal ini penting untuk membatu pengurusan “Surat Perjalanan Laksana Paspor” dari Kedutaan Besar atau Konsulat Jenderal RI terdekat.
2. Simpanlah uang, kartu debit maupun kartu kredit di tas dan tempat yang berbeda. Jika musibah terjadi (knock on wood!), masih tersedia pundi-pundi persediaan uang lain untuk sisa perjalanan.
3. Sebaiknya gunakan daypack (ransel) saat berjalan-jalan dalam kota. Sling bag (tas selempang) lebih rentan penjambretan.

Mudah-mudahan informasi dan tips ini berguna untuk kita semua agar selalu berhati-hati saat melakukan perjalanan. Saya pun berdoa supaya kita semua selalu dilindungi Tuhan dan dijauhkan dari kasus dan musibah yang aneh-aneh saat melakukan perjalanan!! Safe travels friends!!

Lanjut yuukk...

Friday, March 16, 2012

The Colors Of India...

Dulu, saya suka bertanya-tanya kenapa orang-orang berpendapat bahwa India itu colorful. Ketika melihat iklan di TV atau foto-foto di majalah, saya pikir itu hanya manipulasi media belaka. Hari gini, dengan teknologi dan software yang canggih, banyak hal-hal biasa yang bisa disulap menjadi luar biasa!

Namun, saat menapakkan kaki di India, saya baru mengerti kenapa India bisa sangat tenar dijuluki sebagai negara yang sangat berwarna. Banyak hal-hal istimewa yang ditampilkan di India memang penuh warna dan menggelitik eksotisme. Sebut saja beberapa kota di India seperti Jodhpur yang dikenal dengan Blue City, karena seluruh bangunan kota di cat dengan warna biru! Begitu juga dengan Jaipur yang dikenal dengan Pink City. Kota ini tergambar dengan sangat manis dan romantis, karena kebanyakan bangunan di Jaipur juga di cat warna pink!


India yang sangat kental akan kehidupan religinya, dapat terlihat jelas dari lukisan-lukisan penuh warna cerah hasil karya penduduk setempat yang banyak memenuhi bagian luar dinding rumah maupun bangunan keagamaan. Lukisan-lukisan ini bukan sekedar coretan tanpa arti seperti yang banyak ditemukan pada dinding kosong di Jakarta. Namun lukisan-lukisan ini bergambar dewa-dewa agung yang digambar dengan sepenuh hati dan mangandung nilai keagamaan Hindu maupun pesan-pesan moral yang sangat kuat. Tidak jarang saya harus berhenti mengamati lukisan-lukisan tersebut karena terkesima akan kombinasi warna yang menarik dan tentunya hasil lukisan yang sangat detail dan artistik.

Warna-warni India juga dapat tertangkap dengan mudah saat berjalan-jalan ke pasar tradisional yang banyak menjual souvenir khas India. Menyusuri lorong-lorong kecil yang sesak dengan toko-toko sederhana terasa seperti tersesat dan tenggelam dalam lautan warna. Semua barang yang dijual mulai dari kain, baju, korden, scarf, perhiasan dan pernak-pernik lainnya semua penuh dengan warna-warni cemerlang yang menyegarkan mata. Kemeriahannya tak terkatakan, namun benar-benar dapat menghibur hati dan menggoda lensa kamera untuk mengabadikan kecantikan warna-warni ceria ini.

Yang benar-benar mencuri perhatian dalam keseharian saya di India adalah menikmati pesona warna sari yang dikenakan oleh perempuan-perempuan India setiap harinya. Warna-warna sari yang mereka pakai sangat terang dan menantang seperti merah, kuning, oranye maupun biru. Yang membuat sari ini terlihat begitu mencolok adalah karena perempuan India berani memadukan warna-warna kontras yang tidak senada dan bertabrakan dengan penuh percaya diri, apalagi ketika berbalut di kulit tubuh mereka yang gelap. BOMB!! Itulah indahnya India, aturan pemilihan warna dalam berpakaian tidak ada yang tabu di sana. Semua warna sari mempresentasikan India dengan sempurna sebagai negara yang sangat menghargai budaya dan penuh warna.

Hal lain yang membuat India berwarna adalah Holi Festival yang dirayakan dengan sangat meriah setiap tahunnya untuk menyambut musim semi. Beberapa hari sebelum festival di mulai, banyak sekali toko-toko yang menjual tepung beraneka warna dengan tampilan yang menarik sehingga menambah keindahan India. Perayaan ini ditandai dengan perang tepung berwarna-warni di setiap sudut kota. Setiap orang yang berpartisipasi dalam festival ini harus rela dan pasrah bermandikan tepung warna-warni meriah di seluruh tubuh karena dilempari tepung kering maupun tepung basah yang sudah dicampur air. Tepung berwarna-warni yang terhempas dan menguap di udara menambah keunikan warna India yang mencolok. Perayaan Holi Festival sendiri terlalu seru dan menyenangkan, membuat saya baru tersadar saat kembali ke hostel, seluruh wajah dan sekujur tubuh saya sudah berubah warna menjadi pink pekat!

Sore terakhir saya di India, saya berdiam diri di pinggiran kolam suci untuk menikmati senja. Saat matahari terbenam, langit berubah menjadi jingga dengan semburat putih yang sangat cantik. Aahh,saya tersadar, bahkan semesta pun mendukung untuk menyemarakkan keindahan India yang penuh warna! Melihat dan mengalaminya sendiri semua magnet keindahan India, saya tidak akan pernah menyangkal lagi semua keistimewaan yang dimiliki India. Walaupun dengan keterbatasan mereka akan kondisi negara yang kurang bersih dan jauh dari keteraturan, hal-hal itu tidak akan mampu menenggelamkan pesona India sebagai negara yang colorful.

Lanjut yuukk...

Wednesday, March 14, 2012

Bikin Passport Yuuk!

Passport itu dokumen yang paling penting yang harus dimiliki oleh orang-orang yang doyan jalan baik jalan-jalan untuk kesenangan diri sendiri ataupun jalan-jalan untuk tugas bisnis ke luar negeri. Tanpa passport, kita tidak diperkenankan untuk pergi ke luar negeri.

Bikin passport itu mudah kok! Yang susah itu adalah mempersiapkan mental untuk menjalani setiap prosedur yang ada. Prosedurnya sendiri sebenarnya sangat simple dan mudah, tapi mental penantian dalam menunggu antrian yang panjang dan ga manusiawi itu yang suka bikin banyak orang akhirnya menjatuhkan pilihan untuk menjalankan proses itu melalui calo. Padahal kalo dilihat dari perbedaan harganya aja sangat signifikan loh! Kalau bikin sendiri hanya perlu menghabiskan biaya 255 ribu saja, sedangkan calo bisa menghabiskan biaya di kisaran 450 – 650 ribu. Sayang duitnya kan? Perbedaannya bisa dipake untuk jalan dan jajan!

Sebenarnya dokumen apa aja yang dibutuhkan untuk mengurus passport?
1. Asli dan copy Passport lama (bagi yang sudah pernah memiliki passport)
2. Asli dan copy Kartu Keluarga
3. Asli dan copy Kartu Tanda Penduduk
4. Asli dan copy Surat Keterangan Kerja dari kantor
5. Asli dan copy Akte Kelahiran
6. Asli dan copy Akte Nikah (bagi yang sudah menikah)
7. Asli dan copy Surat Ganti Nama (bagi yang pernah mengganti nama)
8. Asli dan copy Ijazah (opsional)
9. Mengisi formulir pengajuan passport di kantor imigrasi atau melakukan aplikasi online melalui situs resmi Imigrasi Indonesia
10. Memasukkan semua dokumen tersebut di atas ke dalam sebuah amplop berwarna kuning yang hanya dapat dibeli di kantor imigrasi setempat seharga Rp. 5,000

Prosedurnya pembuatan passport gimana sih?
[Hari pertama] Semua dokumen dalam amplop yang disebutkan di atas diserahkan kepada petugas Imigrasi. Setelah melakukan pengecekan, petugas Imigrasi hanya akan mengambil copy dokumen-dokumen dan langsung mengembalikan yang asli. Sebaiknya datang pagi-pagi untuk mendapatkan nomor antrian pertama jadi ga harus menunggu terlalu lama di kantor imigrasi. Setelah menyerahkan dokumen tersebut, setiap orang akan diberikan surat tanda terima yang berisi tanggal untuk kembali melakukan pembayaran, wawancara, foto dan sidik jari yang biasanya memakan waktu 2 hari.
Untuk mempercepat proses pembuatan passport, sebaiknya melakukan pengisian aplikasi pengajuan passport secara online. Pendaftaran online menyertakan informasi jadwal pendaftaran dan foto yang tersedia di setiap Kantor Imigrasi yang dapat kamu pilih sendiri sesuai jadwal lowong kamu. Setiap orang yang melakukan aplikasi online mendapatkan kemudahan karena dapat melakukan pembayaran, wawancara, foto dan sidik jadi pada HARI YANG SAMA!
[Hari ketiga] Menyerahkan surat tanda terima ke loket yang sudah ditentukan, menunggu nama dipanggil untuk mendapatkan slip pembayaran. Setelah mendapatkan slip pembayaran, menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Setelah urusan bayar-membayar selesai, menuju loket foto untuk mendapatkan nomor antrian foto, wawancara dan sidik jari. Setelah mendapatkan nomor antrian tersebut baru menunggu saatnya dipanggil.
Menurut saya, proses ini yang terasa sangat berat karena prosesnya yang panjanggggg, ribbeettt dan memaksa setiap orang untuk menunggu dalam waktu yang lamaaaaaaa. Jadi jangan lupa, saat melakukan proses perpanjangan passport, bawalah buku, majalah, hp, ipod, ipad dan segala macam hiburan yang ada untuk obat penangkal bosan.
Setelah proses pengambilan foto yang hasilnya tentu tidak memuaskan karena tampang kucel kelamaan nunggu antrian yang tampak jelas dari hasil foto passport yang ada, setiap orang diberi tanda terima untuk pengambilan passport yang biasanya memakan waktu 7 hari.
[Hari ketujuh] Menyerahkan surat tanda terima ke loket yang sudah ditentukan, menunggu nama dipanggil untuk mendapatkan passport kamu!! Woo-hooooo!!

Kalau sudah punya passport di tangan, silahkan wujudkan impian kalian untuk traveling menjelajahi dunia! Semoga informasi ini bermanfaat dan Happy traveling!

Lanjut yuukk...